Berita
Beranda / Berita / Wali Kota Medan Imbau Warga Hormati Perbedaan Awal Ramadan 1447 Hijirah

Wali Kota Medan Imbau Warga Hormati Perbedaan Awal Ramadan 1447 Hijirah

Pemerintah Kota Medan mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga persatuan menyikapi potensi perbedaan penetapan awal Ramadan tahun ini.

Imbauan tersebut disampaikan Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, usai mengikuti rangkaian pemantauan hilal.

Rico menyampaikan, perbedaan dalam menentukan awal Ramadan merupakan hal yang wajar dan tidak perlu diperdebatkan.



“Apa pun terjadinya perbedaan ini tidaklah menjadi perdebatan. Dilaksanakan saja puasa sebaik-baiknya, kita tetap menghormati dan menghargai setiap perbedaan pendapat dalam penetapan awal Ramadan. Yang penting adalah menjaga kualitas puasa kita di dalam bulan Ramadan itu,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (17/02/2026).

Ia menjelaskan, terdapat kemungkinan perbedaan awal Ramadan antara pemerintah dan Muhammadiyah. Menurutnya, ada yang memulai pada tanggal 18 dan ada pula yang pada tanggal 19, sementara pemantauan hilal tetap dilakukan sesuai jadwal.

“Secara teoritis hilal yang terlihat tadi mungkin masih minus satu derajat. Namun besok di Medan diperkirakan sudah mencapai 9 derajat. Untuk penjelasan teknis dan keilmuannya bisa ditanyakan kepada narasumber yang berkompeten,” katanya.



Sementara itu, Kepala Observatorium Ilmu Falak (OIF) UMSU, Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, menjelaskan secara hisab posisi hilal pada hari pengamatan masih berada di bawah ufuk.

“Setelah matahari terbenam pukul 18.39, posisi hilal masih minus, sehingga dipastikan hilal tidak akan terlihat. Secara hisab, untuk Kementerian Agama atau pemerintah, malam ini belum masuk 1 Ramadan, melainkan lusa atau tanggal 19,” jelasnya.

Namun, ia menambahkan, Muhammadiyah menggunakan parameter global dalam penentuan awal bulan hijriah. Dengan kriteria ketinggian hilal minimal 5 derajat yang telah terpenuhi di Alaska, Amerika, maka Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada tanggal 18.

“Jadi Muhammadiyah tanggal 18, pemerintah tanggal 19. Itu berdasarkan metode dan parameter yang digunakan masing-masing,” terangnya.

Meski terdapat perbedaan metode dan hasil penetapan, kedua pihak sepakat agar masyarakat tetap menjaga toleransi dan saling menghormati dalam menjalankan ibadah Ramadan.



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan