Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Transformasi Pendidikan Agama Islam di Era Digital Perlu Penguatan Karakter dan Etika

Transformasi Pendidikan Agama Islam di Era Digital Perlu Penguatan Karakter dan Etika

Transformasi Pendidikan Agama Islam di Era Digital
Transformasi Pendidikan Agama Islam di Era Digital

Transformasi Pendidikan Agama Islam di era digital perlu diimbangi dengan penguatan karakter, etika, dan nilai-nilai moral agar perkembangan teknologi tidak menggeser tujuan utama pendidikan. Gagasan tersebut disampaikan akademisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Assoc. Prof. Dr. Munawir Pasaribu, M.A., saat menjadi keynote speaker dalam forum internasional yang digelar di Malaysia.

Dalam konferensi bertajuk “Transforming Islamic Religious Education in the Digital Age: Reintegrating Character, Ethics and Pedagogy through the Thought of Al-Ghazali and Ibn Khaldun”, Munawir menyoroti pentingnya membangun sistem Pendidikan Agama Islam yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Kegiatan tersebut berlangsung pada ajang 12th International Conference on Islamic Civilisational Studies (IConiCS) 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Selangor, Malaysia, pada Rabu (10/6/2026).



Era Digital Membawa Peluang dan Tantangan bagi Pendidikan Islam

Di hadapan akademisi, peneliti, serta praktisi pendidikan dari berbagai negara, Munawir menjelaskan bahwa kemajuan teknologi digital telah mengubah berbagai aspek pembelajaran, termasuk dalam Pendidikan Agama Islam.

Menurutnya, digitalisasi membuka peluang besar dalam meningkatkan akses dan kualitas pembelajaran. Namun di sisi lain, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan baru terkait pembentukan karakter, etika, serta nilai moral peserta didik.

“Perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Namun, proses transformasi digital tidak boleh mengesampingkan pembentukan karakter dan akhlak peserta didik,” ujarnya.

Pemikiran Al-Ghazali dan Ibn Khaldun Relevan untuk Pendidikan Masa Kini

Dalam pemaparannya, Munawir menawarkan pendekatan integratif dengan mengangkat kembali pemikiran dua tokoh besar dalam peradaban Islam, yaitu Al-Ghazali dan Ibn Khaldun.

Ia menilai konsep pendidikan yang dikembangkan kedua ulama tersebut masih sangat relevan dalam menghadapi tantangan era digital. Menurutnya, pemikiran Al-Ghazali dan Ibn Khaldun memberikan landasan filosofis yang kuat dalam membangun sistem pendidikan yang tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak dan karakter.

Melalui pendekatan tersebut, Pendidikan Agama Islam dapat berkembang secara adaptif terhadap kemajuan teknologi sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.



Integrasi Teknologi dan Pendidikan Karakter

Munawir menegaskan bahwa pendidikan di era digital harus mampu mengintegrasikan teknologi dengan pembinaan karakter. Menurutnya, tujuan pendidikan tidak hanya menghasilkan generasi yang unggul secara akademik dan intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral, etika, serta tanggung jawab sosial.

“Era digital menuntut inovasi dalam dunia pendidikan, tetapi transformasi tersebut harus tetap berlandaskan nilai karakter dan etika. Pemikiran Al-Ghazali dan Ibn Khaldun memberikan fondasi yang kuat untuk mewujudkan Pendidikan Agama Islam yang relevan dengan perkembangan zaman,” katanya.

Kontribusi Akademisi UMSU di Forum Internasional

Keikutsertaan Munawir sebagai keynote speaker dalam konferensi internasional tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi akademisi Indonesia dalam memperkaya diskursus pendidikan Islam di tingkat global.

Partisipasi tersebut juga memperkuat posisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dalam jejaring akademik internasional sekaligus menunjukkan komitmen UMSU dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Selain itu, Munawir menekankan pentingnya dosen untuk terus memperluas jaringan akademik dan kolaborasi internasional guna menghadapi tantangan perguruan tinggi yang semakin kompetitif.

Menurutnya, berbagai aktivitas akademik internasional juga berkontribusi terhadap pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, khususnya pada aspek rekognisi dan kerja sama internasional.



Forum Strategis untuk Kolaborasi dan Inovasi Pendidikan

Konferensi IConiCS 2026 menjadi wadah strategis bagi akademisi dari berbagai negara untuk bertukar gagasan, memperkuat kolaborasi riset, serta merumuskan inovasi pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman.

Melalui forum tersebut, para peserta didorong untuk mengembangkan model pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai agama, etika, dan kemanusiaan sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban masa depan.

Penutup

Transformasi Pendidikan Agama Islam di era digital memerlukan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan karakter. Pemikiran Al-Ghazali dan Ibn Khaldun dinilai masih relevan sebagai landasan dalam membangun sistem pendidikan Islam yang adaptif, beretika, dan berorientasi pada pembentukan generasi yang berilmu serta berakhlak mulia.

Melalui partisipasi aktif dalam forum internasional seperti IConiCS 2026, akademisi UMSU turut berkontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam global sekaligus memperkuat kolaborasi akademik untuk menghadapi tantangan pendidikan di masa depan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan