Informasi
Beranda / Informasi / Malam Takbiran Bertepatan dengan Nyepi 2026, Muhammadiyah Bali Imbau Tetap Tertib

Malam Takbiran Bertepatan dengan Nyepi 2026, Muhammadiyah Bali Imbau Tetap Tertib

Malam Takbiran Bertepatan dengan Nyepi 2026, Muhammadiyah Bali Imbau Tetap Tertib
Malam Takbiran Bertepatan dengan Nyepi 2026, Muhammadiyah Bali Imbau Tetap Tertib

Malam takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah pada tahun 2026 bertepatan dengan perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948 yang jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bali, Husnul Fahmi, menyampaikan seruan kepada masyarakat agar menjaga ketertiban serta memperkuat toleransi antarumat beragama.

Menurut Fahmi, keputusan terkait pelaksanaan takbiran telah dibahas bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali melalui beberapa kali pertemuan.



Dari hasil diskusi tersebut, disepakati bahwa umat Islam tetap dapat melaksanakan takbiran dengan beberapa penyesuaian demi menghormati pelaksanaan Nyepi.

Fahmi menjelaskan bahwa umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, diperbolehkan melaksanakan takbir dengan berjalan kaki menuju masjid atau musala terdekat tanpa menggunakan pengeras suara dan tanpa penerangan yang mencolok.

Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga keharmonisan antarumat beragama di Bali, dilansir dari laman resmi muhammadiyah.or.id.



Ketentuan Pelaksanaan Takbiran Saat Malam Nyepi

Dalam surat edaran FKUB yang tercantum pada poin 7 dan 8 dijelaskan sejumlah aturan terkait pelaksanaan takbiran yang bertepatan dengan Nyepi.

Beberapa ketentuan yang harus diperhatikan antara lain:

  • Umat Islam diperbolehkan melaksanakan takbiran di masjid atau musala terdekat dengan berjalan kaki.
  • Tidak menggunakan pengeras suara selama kegiatan takbiran.
  • Tidak menyalakan petasan, mercon, ataupun bunyi-bunyian lainnya.
  • Penerangan yang digunakan harus secukupnya.
  • Waktu pelaksanaan takbiran dimulai pukul 18.00 WITA hingga pukul 21.00 WITA.

Sementara itu, pengurus masjid atau musala bertanggung jawab terhadap keamanan dan ketertiban kegiatan takbiran dengan tetap berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat.



Kerja Sama Aparat dan Masyarakat Menjaga Ketertiban

Dalam menjaga situasi tetap kondusif, sejumlah pihak akan terlibat dalam pengamanan kegiatan tersebut.

Prajuru Desa Adat, pengurus masjid atau musala, pecalang, Linmas, serta aparat desa dan kelurahan akan bekerja sama menjaga keamanan selama pelaksanaan Nyepi maupun takbiran.

Seluruh pihak tersebut diharapkan dapat berkoordinasi secara sinergis dengan aparat keamanan agar kedua kegiatan keagamaan dapat berlangsung dengan aman dan tertib.

Penyesuaian Waktu Salat Idul Fitri

Selain pengaturan takbiran, Muhammadiyah Bali juga melakukan penyesuaian jadwal Salat Idul Fitri.

Jika biasanya salat Id dimulai sekitar pukul 06.00 WITA, pada tahun ini pelaksanaannya diundur menjadi pukul 06.30 WITA.

Pemerintah daerah Bali juga memberikan dukungan dengan menyediakan fasilitas pelaksanaan Salat Idul Fitri di lapangan yang berada di depan kantor gubernur.

Persiapan kegiatan tersebut direncanakan dilakukan satu hari sebelum Hari Nyepi.

Fahmi berharap umat Islam di Bali dapat hadir bersama-sama melaksanakan salat Id setelah masa pembatasan Nyepi berakhir sesuai dengan ketentuan yang berlaku.



Momentum Memperkuat Toleransi Beragama

Fahmi menegaskan bahwa pertemuan antara dua perayaan besar keagamaan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sikap saling menghormati antarumat beragama.

Ia mengajak seluruh umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah di Bali, agar terus menjaga kerukunan yang telah terjalin sejak lama.

Menurutnya, nilai toleransi yang sudah terbangun di Bali harus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan demi menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat yang majemuk.



Kesimpulan

Bertepatannya malam takbiran Idul Fitri 1447 H dengan Hari Suci Nyepi 2026 menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk memperkuat toleransi antarumat beragama di Bali.

Melalui kesepakatan bersama antara Muhammadiyah, FKUB, serta pemerintah daerah, pelaksanaan takbiran tetap dapat berlangsung dengan beberapa penyesuaian agar tidak mengganggu kekhusyukan Nyepi.

Dengan kerja sama berbagai pihak serta kesadaran masyarakat untuk saling menghormati, diharapkan kedua perayaan keagamaan tersebut dapat berjalan dengan aman, tertib, dan penuh semangat kerukunan.

Sumber: https://muhammadiyah.or.id/

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan