Khutbah I
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ الْوَاحِدَ الْعَزِيْزَ الْغَفَّارَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، إِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ وَأُسْوَةُ الْأَبْرَارِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، صَلَاةً دَائِمَةً مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا إِخْوَةَ الْإِسْلَامِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، كَمَا قَالَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ.
Jamaah Idul Adha yang Dimuliakan Allah
Idul Adha berasal dari dua kata, yaitu Id yang berarti kembali dan Adha yang bermakna pengorbanan. Makna tersebut mengingatkan kita untuk kembali menanamkan semangat perjuangan dan pengorbanan demi menegakkan agama Allah di muka bumi, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim as. Dengan penuh keteguhan dan kesabaran, beliau menerima perintah Allah untuk menyembelih putranya tercinta, Nabi Ismail, yang sebelumnya hadir setelah penantian panjang.
Peristiwa pengorbanan agung tersebut diabadikan Allah swt dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ.
Artinya: “Ketika anak itu sampai pada usia sanggup bekerja bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Ismail menjawab, ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
Ibadah kurban yang dilakukan kaum Muslimin bukan sekadar bentuk ketakwaan yang menghadirkan pahala dan ridha Allah, tetapi juga menjadi sarana menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang yang kurang mampu, yang hanya dapat merasakan nikmat daging kurban pada momen Idul Adha. Hal tersebut dijelaskan Allah dalam surat Al-Hajj ayat 37:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang akan sampai kepada-Nya. Demikianlah Allah menundukkannya untuk kalian agar kalian mengagungkan Allah atas petunjuk yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Imam al-Sya’rawi menjelaskan bahwa Allah tidak mengambil manfaat dari daging hewan kurban tersebut, melainkan manusia yang membutuhkanlah yang merasakan manfaatnya. Syariat kurban hadir sebagai bentuk solusi agama terhadap kesenjangan sosial demi terciptanya keseimbangan dalam kehidupan masyarakat.
Manusia yang hidup bermasyarakat tentu tidak bisa diatur seperti robot yang diprogram secara otomatis. Karena itu, agama hadir untuk mendorong orang-orang kaya agar memiliki kepedulian terhadap kaum miskin. Dengan adanya kepedulian tersebut, hubungan sosial menjadi harmonis. Rasa iri dan dengki dari kaum miskin terhadap orang kaya akan hilang, bahkan mereka akan mendoakan keberkahan dan kebaikan bagi orang-orang yang mampu.
Jamaah Idul Adha yang Berbahagia
Dari sudut pandang lain, kita dapat memahami bahwa perbuatan baik akan menghadirkan dampak positif bagi pelakunya sendiri. Dampak tersebut dapat dilihat dari dua sisi.
Pertama, dampak berupa kebahagiaan dan keselamatan di dunia. Orang yang gemar berbuat baik akan memperoleh penghormatan dari sesama. Ketika ia tertimpa musibah, orang lain akan ikut berempati dan merasakan kesedihan. Imam al-Sya’rawi menjelaskan: “Orang yang mau berbagi nikmat kepada sesama, apabila tertimpa musibah dalam hartanya, maka orang lain juga akan merasa kehilangan dan bersedih.”
Selain itu, orang-orang di sekitarnya juga akan memanjatkan doa kebaikan untuknya. Jika seseorang didoakan dengan kebaikan, maka hendaknya ia membalas dengan doa yang lebih baik lagi agar pahala amalnya di akhirat tidak berkurang.
Kedua, kebaikan yang dilakukan di dunia akan menjadi sebab datangnya pahala, keberkahan, dan surga di akhirat. Dalam kitab Hadaiq al-Auliya karya Imam Ibn al-Mulaqqin disebutkan bahwa Imam Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib pernah berkata kepada orang yang meminta bantuan kepadanya: “Selamat datang kepada orang yang membawa bekalku menuju akhirat.”
Hal tersebut sejalan dengan firman Allah swt dalam surat Al-Baqarah ayat 272:
وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Artinya: “Apa saja harta yang kalian infakkan di jalan Allah, maka manfaatnya kembali untuk diri kalian sendiri. Dan janganlah kalian berinfak kecuali demi mencari ridha Allah. Apa pun yang kalian infakkan, niscaya akan diberikan balasan secara sempurna dan kalian tidak akan dirugikan sedikit pun.”
Jamaah Idul Adha yang Dimuliakan Allah
Di sisi lain, Nabi Muhammad saw juga memberikan peringatan keras kepada orang yang memiliki kemampuan tetapi enggan berkurban:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا.
Artinya: “Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: Barang siapa memiliki kelapangan rezeki namun tidak mau berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”
Hadis tersebut bukan berarti melarang seseorang melaksanakan shalat Idul Adha ataupun menjadikan shalatnya tidak sah. Akan tetapi, Nabi memberikan teguran keras kepada orang yang enggan berkurban agar ia tidak turut merasakan suasana kebersamaan bersama orang-orang yang rela beribadah dan berbagi di hari raya.
Suasana shalat Idul Adha berjamaah mencerminkan persatuan antara kaum kaya dan kaum miskin. Seluruh lapisan umat Islam berkumpul dalam suasana bahagia. Orang yang mampu merasa bahagia karena bisa berbagi melalui kurban, sedangkan orang yang kurang mampu ikut merasakan kebahagiaan karena menerima daging kurban.
Hari raya merupakan hari kebahagiaan bagi seluruh kalangan masyarakat. Karena itu, Idul Adha seharusnya menjadi hari penuh suka cita bagi setiap Muslim. Allah mensyariatkan ibadah kurban agar seluruh umat Islam dapat merasakan kegembiraan di hari raya tersebut.
Jamaah Idul Adha yang Berbahagia
Ibadah kurban juga menjadi amalan yang senantiasa dilakukan Nabi Muhammad saw setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah sekaligus syiar untuk mengagungkan agama-Nya di muka bumi. Sebagaimana diriwayatkan Imam al-Tirmidzi dalam kitab Sunan al-Tirmidzi:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: أَقَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ، يُضَحِّي كُلَّ سَنَةٍ
Artinya: “Dari Ibn Umar berkata: Rasulullah saw tinggal di Madinah selama sepuluh tahun dan beliau melaksanakan kurban setiap tahunnya.”
Menjalankan perintah Allah merupakan simbol upaya seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam konteks kurban, Nabi Muhammad saw memberikan gambaran tentang kedekatan seorang hamba dengan Allah melalui hadis yang diriwayatkan Imam al-Tirmidzi:
مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
Artinya: “Tidak ada amal anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sungguh darah kurban itu telah sampai di sisi Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka lakukanlah kurban itu dengan hati yang lapang.”
Hadis ini memberikan gambaran bahwa ibadah kurban menjadi jalan bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah. Meski pada hakikatnya Allah tidak membutuhkan daging dan darah hewan kurban, tetapi yang dinilai adalah ketakwaan dan nilai spiritual dari pelakunya. Jika seorang hamba mampu meraih kedekatan kepada Allah melalui ibadah kurban, maka ia telah mencapai keberhasilan yang sangat besar.
Jamaah Idul Adha yang Beriman
Demikianlah makna sederhana dari ibadah kurban yang kita laksanakan setiap tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh ketakwaan sekaligus membangun keharmonisan sosial melalui semangat berbagi rezeki dan kepedulian antarsesama.
Semoga kita termasuk golongan hamba yang dekat dengan Allah dan dicintai oleh sesama manusia. Semoga Allah juga menganugerahkan kesabaran dan keselamatan kepada kita dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Sebab, kebersamaan menjadi kunci utama bagi umat manusia dalam melewati setiap cobaan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah II
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِصْلَاحِ، وَدَعَانَا إِلَى الصَّلَاحِ، وَبَيَّنَ لَنَا طُرُقَ الْفَلَاحِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ. إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى فِيْهِ بِمَلَائِكَتِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ. اللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا دَيْنًا إِلَّا قَضَيْتَهُ، وَلَا مَرِيْضًا إِلَّا شَفَيْتَهُ وَعَافَيْتَهُ، وَلَا حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا إِلَّا قَضَيْتَهَا وَيَسَّرْتَهَا لَنَا يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي فِلَسْطِيْنَ مِنْ ظُلْمِ الْكَافِرِيْنَ الْإِسْرَائِيْلِيِّيْنَ، اللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ، وَاغْفِرْ لِمَوْتَاهُمْ مِنْ جَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Sumber: https://islam.nu.or.id dari tulisan Dr. Fatihunnada, Dosen Fakultas Dirasat Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Komentar