Islami
Beranda / Islami / Khutbah Idul Adha: Meneladani Islam Berkemajuan dari Kisah Nabi Ibrahim

Khutbah Idul Adha: Meneladani Islam Berkemajuan dari Kisah Nabi Ibrahim

Khutbah Idul Adha: Meneladani Islam Berkemajuan dari Kisah Nabi Ibrahim

Khutbah Idul Adha tentang Meneladani Islam Berkemajuan dari Kisah Nabi Ibrahim oleh Prof Dr H Dadang Kahmad, MSi, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah



Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ:

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا.

لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Segala puji hanya milik Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita semua. Berkat kasih sayang-Nya, pada pagi yang penuh keberkahan ini kita masih diberi kesempatan berkumpul bersama untuk mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

Selain itu, kita juga dapat menunaikan shalat sunah Idul Adha sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta yang telah memberikan berbagai karunia dalam kehidupan kita.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ



Jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Hari Raya Idul Adha merupakan momentum penting untuk kembali mengenang kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Kisah tersebut menjadi salah satu teladan agung yang menyentuh hati dan penuh hikmah bagi umat manusia. Dalam peristiwa itu, ayah dan anak menunjukkan kepatuhan yang sempurna kepada Allah SWT.

Nabi Ibrahim memperlihatkan keberanian luar biasa dalam menjalankan perintah Allah meskipun harus mengorbankan putra tercintanya. Di sisi lain, Nabi Ismail juga menunjukkan ketundukan dan keikhlasan yang tinggi kepada ayah dan Tuhannya, walaupun harus mempertaruhkan dirinya sendiri.

Kisah mulia tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Ketika anak itu sampai pada usia sanggup bekerja bersama ayahnya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?’ Ismail menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”



Nabi Ibrahim menjadi teladan seorang ayah yang taat kepada Allah namun tetap menghargai pendapat anaknya. Beliau mengedepankan musyawarah dengan putranya sebelum melaksanakan perintah Allah. Begitu pula Nabi Ismail yang memiliki iman kuat dan menerima perintah tersebut dengan penuh keikhlasan. Dari kisah ini, kita belajar bahwa hubungan yang dibangun atas dasar iman akan melahirkan keharmonisan dan ketundukan kepada Allah SWT tanpa adanya paksaan.

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sangat relevan dijadikan pelajaran dalam kehidupan beragama saat ini. Keberagamaan seharusnya dibangun di atas kesadaran spiritual yang mendalam. Nabi Ibrahim memberikan contoh keberagamaan yang tidak hanya fokus pada ibadah ritual, tetapi juga keberanian moral, keikhlasan, dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Pada kesempatan ini, khatib ingin menyampaikan beberapa pelajaran penting dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang dapat dijadikan teladan dalam mewujudkan Islam Berkemajuan.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Pelajaran pertama adalah pentingnya keikhlasan dalam beribadah. Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa seluruh ibadah harus dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT tanpa mengharapkan balasan duniawi. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Bayyinah:

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ

Artinya: “Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama, mendirikan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah: 5)




Pelajaran kedua adalah keberanian dalam menghadapi ujian dan tantangan. Islam mengajarkan umatnya agar selalu maju dan tidak mudah menyerah menghadapi cobaan hidup. Nabi Ibrahim menjadi contoh nyata seorang hamba yang tetap teguh menjalankan perintah Allah meskipun menghadapi ujian berat.

وَمَنۡ أَحۡسَنُ دِينٗا مِّمَّنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبۡرَٰهِيمَ خَلِيلٗا

Artinya: “Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang berserah diri kepada Allah, berbuat kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya.” (QS An-Nisa’: 125)

Pelajaran ketiga adalah semangat tajdid atau pembaruan. Nabi Ibrahim selalu mencari kebenaran dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semangat inilah yang harus dimiliki umat Islam agar terus berkarya dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

۞وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِيۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّٰلِمِينَ

Artinya: “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa perintah, lalu ia menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘Dan juga untuk keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.’” (QS Al-Baqarah: 124)

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ



Jamaah yang dirahmati Allah

Di tengah perkembangan zaman modern, semangat keberagamaan Nabi Ibrahim sangat penting dijadikan pedoman dalam menjalankan Islam Berkemajuan. Umat Islam harus tetap menjaga ketaatan kepada Allah, mempererat ukhuwah, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِيهِمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَۚ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ

Artinya: “Sungguh, pada diri mereka terdapat teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan keselamatan di hari akhir. Barang siapa berpaling, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS Al-Mumtahanah: 6)

Kisah Nabi Ibrahim tidak hanya menunjukkan ketulusan dalam berkorban, tetapi juga menjadi simbol iman, kesabaran, dan pengabdian kepada Allah SWT. Keteladanan beliau terus menginspirasi umat Islam agar menjaga keimanan dengan penuh ketulusan dan keberanian.

Banyak ulama membahas kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dari sisi teologis, moral, dan spiritual. Kesediaan Nabi Ibrahim mengorbankan putranya dipandang sebagai bentuk ketauhidan dan kepatuhan total kepada Allah SWT.

Pengorbanan Nabi Ibrahim juga dimaknai sebagai pelajaran untuk mendahulukan kecintaan kepada Allah dibandingkan keterikatan terhadap urusan duniawi. Para ulama menjelaskan bahwa manusia harus mampu melepaskan segala hal yang dapat menjauhkan dirinya dari Allah SWT.



Selain itu, kisah Nabi Ibrahim juga memperlihatkan perjuangan batin dan keteguhan hati dalam menghadapi ujian. Hal tersebut menjadi pengingat bagi setiap Muslim untuk menghadapi berbagai persoalan hidup dengan kesabaran dan keyakinan kepada Allah SWT. Dari sinilah lahir ibadah qurban pada Hari Raya Idul Adha sebagai simbol syukur, kerendahan hati, dan pengorbanan demi kebaikan yang lebih besar.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Pada akhirnya, marilah kita meneladani iman, ketakwaan, dan ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT sehingga lahir sikap rela berkorban, tidak egois, dan mengutamakan musyawarah dalam kehidupan sehari-hari. Selama masih diberikan umur dan kesempatan hidup, mari kita isi dengan amal kebaikan yang bermanfaat agar hidup menjadi penuh berkah dan kasih sayang Allah SWT. Harta yang dimiliki hendaknya digunakan untuk kebaikan dan bekal kehidupan akhirat, sehingga kelak tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Untuk memperkuat iman agar semakin aktif dalam kehidupan sehari-hari, marilah kita bersama-sama memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan penuh keyakinan bahwa doa tersebut akan dikabulkan-Nya.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ

يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.

Sumber: suaramuhammadiyah.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan