Informasi
Beranda / Informasi / Kenapa Banyak yang Pilih Tarawih 11 Rakaat? Yuk Simak Penjelasannya

Kenapa Banyak yang Pilih Tarawih 11 Rakaat? Yuk Simak Penjelasannya

Kenapa Banyak yang Pilih Tarawih 11 Rakaat? Yuk Simak Penjelasannya

Setiap Ramadan tiba, suasana masjid berubah menjadi lebih hidup. Salah satu yang kerap menjadi pembahasan adalah jumlah rakaat shalat Tarawih.

Di Indonesia, ada yang melaksanakan 23 rakaat (20 Tarawih + 3 Witir), dan ada pula yang memilih 11 rakaat (8 Tarawih + 3 Witir). Lalu, mengapa cukup banyak umat Islam yang memilih Tarawih 11 rakaat? Berikut penjelasan lengkapnya.

Asal-Usul Praktik 11 Rakaat

Pilihan 11 rakaat umumnya merujuk pada hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah menambah shalat malamnya lebih dari 11 rakaat, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar, yang menjelaskan kebiasaan Nabi dalam melaksanakan qiyamul lail.

Sebagian umat Islam memahami bahwa jumlah tersebut mencakup 8 rakaat shalat malam ditambah 3 rakaat Witir.

Karena Tarawih termasuk dalam kategori shalat malam di bulan Ramadan, maka sebagian masyarakat memilih mengikuti jumlah tersebut sebagai bentuk meneladani praktik Rasulullah.

Namun, perlu dipahami bahwa Tarawih sendiri merupakan bagian dari qiyamul lail yang memiliki fleksibilitas dalam jumlah rakaat.

Kenapa 11 Rakaat Dianggap Lebih Ringkas?

Salah satu alasan banyak orang memilih 11 rakaat adalah faktor durasi. Dengan jumlah rakaat yang lebih sedikit, waktu pelaksanaan menjadi lebih singkat. Hal ini dirasa lebih sesuai bagi :

  • Pekerja yang harus bangun pagi
  • Orang tua atau lansia
  • Anak-anak yang ikut Tarawih
  • Jamaah yang memiliki aktivitas padat
  • Meski lebih singkat, kualitas ibadah tetap bisa maksimal jika dilakukan dengan khusyuk dan penuh penghayatan.

Apakah 11 Rakaat Lebih Utama?

Sebagian ulama berpendapat bahwa mengikuti kebiasaan Rasulullah memiliki nilai keutamaan tersendiri. Namun, praktik Tarawih berjamaah dengan 20 rakaat juga memiliki landasan kuat dalam sejarah Islam.

Pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab, shalat Tarawih dilaksanakan secara berjamaah dengan jumlah 20 rakaat.

Kebijakan ini diterima dan dijalankan oleh para sahabat tanpa penolakan berarti. Sejak saat itu, banyak wilayah Islam mempraktikkan Tarawih 20 rakaat.

Artinya, baik 11 rakaat maupun 23 rakaat sama-sama memiliki dasar dan tidak saling membatalkan. Perbedaan ini termasuk dalam ranah ijtihad yang diperbolehkan.

Fokus pada Kualitas, Bukan Sekadar Jumlah

Ada satu hal penting yang sering ditekankan para ulama: kualitas ibadah lebih utama dibanding sekadar angka rakaat.

Dalam hadis riwayat Aisyah binti Abu Bakar disebutkan bahwa Rasulullah melaksanakan shalat malam dengan rakaat yang panjang dan penuh kekhusyukan.

Ini menunjukkan bahwa yang menjadi inti bukanlah banyaknya rakaat, melainkan kekuatan bacaan, ketenangan gerakan, serta kehadiran hati saat beribadah.

Bagi sebagian orang, 11 rakaat memungkinkan mereka membaca ayat lebih panjang dan shalat lebih tenang. Sementara bagi yang lain, 20 rakaat memberi kesempatan memperbanyak sujud dan doa.

Praktik di Indonesia

Di Indonesia, kedua praktik ini sama-sama berkembang. Masjid-masjid besar di perkotaan sering menyediakan pilihan, misalnya :

  • Tarawih 8 rakaat + Witir
  • Tarawih 20 rakaat + Witir

Ada pula yang menyelesaikan 8 rakaat terlebih dahulu, kemudian sebagian jamaah pulang, sementara lainnya melanjutkan hingga 20 rakaat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa umat Islam di Indonesia cukup dewasa dalam menyikapi perbedaan. Selama dilakukan sesuai tuntunan syariat, tidak ada yang perlu diperdebatkan secara berlebihan.

Hikmah di Balik Perbedaan

Perbedaan jumlah rakaat Tarawih sebenarnya memberikan kemudahan bagi umat. Islam adalah agama yang tidak memberatkan. Dengan adanya variasi praktik :

  • Umat dapat menyesuaikan dengan kemampuan fisik
  • Masjid bisa memilih metode yang paling sesuai dengan kondisi jamaah
  • Tidak ada kesan pemaksaan dalam beribadah

Tips Memilih Jumlah Rakaat

Jika masih bingung menentukan pilihan, pertimbangkan beberapa hal berikut :

  • Kemampuan fisik : Pastikan tubuh tetap kuat hingga akhir Ramadan.
  • Konsistensi : Lebih baik sedikit tetapi rutin daripada banyak namun hanya di awal Ramadan.
  • Kekhusyukan : Pilih jumlah yang membuat hati lebih tenang dan fokus.

Kesimpulan

Banyaknya umat Islam yang memilih Tarawih 11 rakaat umumnya didasarkan pada hadis yang menjelaskan kebiasaan Rasulullah Saw dalam melaksanakan shalat malam.

Selain dianggap lebih sesuai dengan praktik Nabi, jumlah tersebut juga lebih ringkas dan memudahkan sebagian jamaah.

Meski demikian, Tarawih 20 rakaat pun memiliki dasar sejarah yang kuat sejak masa sahabat. Pada akhirnya, baik 11 maupun 23 rakaat sama-sama sah dan bernilai ibadah. Yang paling penting adalah kekhusyukan, keikhlasan, dan konsistensi dalam menjalankan ibadah selama Ramadan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan