Lebaran Ketupat merupakan salah satu tradisi yang hidup dan berkembang di kalangan masyarakat Muslim Indonesia, terutama di wilayah Pulau Jawa.
Perayaan ini biasanya dilaksanakan beberapa hari setelah perayaan Hari Raya Idul Fitri sebagai bentuk rasa syukur sekaligus momentum mempererat hubungan sosial antarwarga.
Bagi masyarakat Jawa, Lebaran Ketupat tidak sekadar perayaan kuliner, tetapi juga memiliki makna kebersamaan yang mendalam. Tradisi ini umumnya dirayakan dengan berkumpul bersama keluarga, kerabat, dan tetangga.
Selain itu, masyarakat juga mengadakan doa bersama serta menikmati berbagai hidangan khas seperti ketupat, opor ayam, rendang, dan berbagai makanan tradisional lainnya.
Karena perayaan ini mengikuti kalender Hijriah, waktu pelaksanaan Lebaran Ketupat selalu berubah setiap tahun jika dilihat dari kalender Masehi.
Hal tersebut membuat banyak masyarakat bertanya-tanya mengenai tanggal pelaksanaannya setiap tahun.
Lebaran Ketupat 2026 Jatuh pada Tanggal Berapa?
Menurut buku Pendidikan Agama Islam Sejarah Kebudayaan Islam Kelas IX karya Dr. H. Murodi, tradisi Lebaran Ketupat biasanya dilaksanakan satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri.
Dengan demikian, perayaan ini digelar pada tanggal 8 Syawal dalam kalender Hijriah.
Berdasarkan perhitungan Kalender Hijriah Indonesia tahun 2026, tanggal 8 Syawal 1447 Hijriah diperkirakan bertepatan dengan 28 Maret 2026.
Informasi mengenai tradisi ini juga banyak dibahas dalam berbagai referensi budaya dan dilansir dari laman kumparan.com, yang mengulas tentang waktu pelaksanaan dan makna dari tradisi kupatan di masyarakat Jawa.
Makna Budaya dalam Tradisi Lebaran Ketupat
Berdasarkan kajian dalam Jurnal Universitas PGRI Palangka Raya yang berjudul Makna Simbolik dan Kultural Tradisi Lebaran Ketupat Bagi Masyarakat Jawa, tradisi kupatan memiliki nilai budaya yang kuat dan sarat makna dalam kehidupan masyarakat.
Dalam filosofi Jawa, kata ketupat sering dihubungkan dengan istilah “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan.
Makna ini mengajarkan masyarakat untuk saling memaafkan serta memperbaiki hubungan antar sesama setelah menjalani bulan suci Ramadan.
Selain memiliki makna simbolik, tradisi Lebaran Ketupat juga memiliki beberapa fungsi sosial penting, di antaranya:
1. Mempererat tali silaturahmi
Tradisi kupatan menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul dan berinteraksi.
Biasanya warga membawa ketupat ke masjid atau mushola untuk kemudian dibagikan kepada tetangga.
Kegiatan ini menciptakan suasana kebersamaan yang hangat serta memperkuat ukhuwah antarwarga.
2. Menumbuhkan semangat berbagi
Perayaan ini juga menjadi momentum untuk bersedekah.
Ketupat dan berbagai hidangan yang dibawa dari rumah biasanya dibagikan kepada orang lain, termasuk kepada mereka yang membutuhkan, sehingga kebahagiaan dapat dirasakan secara bersama.
3. Menghormati dan memuliakan tamu
Dalam tradisi Lebaran Ketupat, masyarakat biasanya saling berkunjung.
Tuan rumah akan menyambut tamu dengan penuh keramahan dan menyuguhkan hidangan khas.
Dalam budaya Jawa dikenal filosofi “Gupuh, Aruh, Rengkuh, Lungguh, Suguh”, yang menggambarkan cara memuliakan tamu dengan menyambut, menyapa, mempersilakan duduk, hingga menyuguhkan makanan.
4. Melestarikan warisan budaya leluhur
Tradisi kupatan juga menjadi cara masyarakat menjaga budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dengan terus merayakannya setiap tahun, nilai-nilai kearifan lokal yang mengandung pesan sosial dan keagamaan tetap terjaga di tengah kehidupan masyarakat.
Kesimpulan
Lebaran Ketupat merupakan tradisi khas masyarakat Jawa yang dilaksanakan sekitar satu minggu setelah Idul Fitri, tepatnya pada tanggal 8 Syawal.
Pada tahun 2026, perayaan ini diperkirakan jatuh pada 28 Maret 2026.
Lebih dari sekadar tradisi kuliner, Lebaran Ketupat mengandung makna mendalam tentang saling memaafkan, mempererat silaturahmi, berbagi rezeki, serta melestarikan budaya leluhur.
Nilai-nilai tersebut menjadikan tradisi kupatan tetap relevan dan terus dijaga oleh masyarakat hingga saat ini.
Sumber : https://kumparan.com/

Komentar