Di tengah dinamika pasar keuangan global dan domestik, perusahaan-perusahaan terbuka terus mencari strategi untuk menjaga pertumbuhan bisnisnya.
Kondisi pasar saham Indonesia yang sedang melemah tidak menyurutkan langkah sejumlah emiten untuk mencari pendanaan tambahan.
Di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun dari kisaran 9.000 pada awal tahun ke level 7.000, aksi korporasi berupa right issue justru masih marak dilakukan.
Tercatat ada lima perusahaan yang berencana menerbitkan saham baru, yaitu PT TBS Energi Utama Tbk, PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk, PT Wahana Interfood Nusantara Tbk, PT Pyridam Farma Tbk, serta PT Tripar Multivision Tbk.
Menunggu Restu Investor dan OJK
Seluruh rencana penambahan modal tersebut saat ini masih berada pada tahap awal, yakni menunggu persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Setelah itu, perusahaan juga harus mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dengan banyaknya emiten yang mengantre untuk melakukan right issue tahun ini, tidak menutup kemungkinan proses penebusan saham baru akan terealisasi hingga tahun depan.
Hal ini mengingat batas waktu pelaksanaan right issue dapat mencapai 12 bulan setelah RUPS, kecuali terdapat kondisi tertentu. Dilansir dari laman cnbcindonesia.com
Strategi Rights Issue Tiap Emiten
1. TOBA Fokus Energi Hijau
PT TBS Energi Utama Tbk berencana menerbitkan hingga 1,39 miliar saham baru.
Dana yang dihimpun akan digunakan untuk mendukung transformasi bisnis ke sektor energi terbarukan, termasuk pengembangan ekosistem kendaraan listrik (EV) dan pengolahan limbah menjadi energi.
Saat ini, perusahaan masih menunggu pernyataan efektif dari OJK setelah memperoleh persetujuan melalui RUPSLB yang dijadwalkan pada April 2026.
2. RMKO Perkuat Modal dan Logistik Batu Bara
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk menargetkan penerbitan maksimal 512 juta saham baru atau sekitar 29,06% dari modal disetor.
Dana yang diperoleh akan dimanfaatkan untuk modal kerja dan memperkuat struktur permodalan, termasuk mendukung ekspansi bisnis logistik batu bara di Sumatera Selatan.
Fokus penggunaan dana juga mencakup peningkatan kapasitas hauling, pengembangan pelabuhan, serta pelunasan sebagian kewajiban keuangan.
3. COCO Ekspansi Industri Cokelat
PT Wahana Interfood Nusantara Tbk berencana menerbitkan hingga 10,67 miliar saham baru.
Dana tersebut akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi cokelat, mulai dari pembangunan fasilitas baru, pengadaan mesin, hingga pembelian bahan baku biji kakao.
Perseroan dijadwalkan menggelar RUPSLB pada Mei 2026 untuk memperoleh persetujuan investor.
4. PYFA Bidik Akuisisi Global
PT Pyridam Farma Tbk akan melakukan right issue dengan target penerbitan maksimal 5,7 miliar saham baru.
Dana hasil aksi ini akan dialokasikan untuk akuisisi pabrik Mayne Pharma di Australia Selatan serta memperkuat struktur permodalan guna mendukung ekspansi internasional.
Selain itu, perusahaan juga berencana menerbitkan waran hingga 35% dari total saham beredar sebagai tambahan daya tarik bagi investor.
5. RAAM Kembangkan Industri Konten dan Bioskop
PT Tripar Multivision Tbk menyiapkan penerbitan maksimal 1,36 miliar saham baru atau sekitar 20% dari modal disetor.
Dana yang diperoleh akan digunakan untuk mendukung produksi konten kreatif seperti film, serial web, dan sinetron, termasuk kebutuhan pemasaran.
Selain itu, sebagian dana juga akan disalurkan ke anak usaha, PT Platinum Sinema, untuk membangun dan mengoperasikan 50 bioskop baru di berbagai kota.
Manajemen juga mengingatkan bahwa pemegang saham yang tidak mengambil bagian dalam right issue berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga 16,67%.
Kesimpulan
Meski IHSG tengah mengalami tekanan, minat emiten untuk melakukan right issue tetap tinggi sebagai strategi memperoleh pendanaan tambahan.
Setiap perusahaan memiliki tujuan berbeda, mulai dari ekspansi energi hijau, penguatan logistik, peningkatan kapasitas produksi, hingga ekspansi global dan pengembangan industri kreatif.
Keberhasilan aksi korporasi ini akan sangat bergantung pada persetujuan investor serta kondisi pasar ke depan.
Namun, langkah ini menunjukkan bahwa emiten tetap optimistis terhadap peluang pertumbuhan bisnis jangka panjang di tengah volatilitas pasar.
Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/

Komentar