Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Kamis (2/4/2026) di zona merah. Pada awal sesi I, IHSG tercatat berada di level 7.152,06 atau turun 32,38 poin (-0,45%).
Indeks sempat dibuka di posisi 7.153,11 dan bergerak dalam kisaran 7.131,82 hingga 7.154,95 selama awal perdagangan.
Aktivitas Transaksi dan Pergerakan Saham
Nilai transaksi di awal sesi mencapai Rp558,3 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 942,9 juta saham dan frekuensi sekitar 68 ribu transaksi.
Pergerakan saham menunjukkan kondisi pasar yang cenderung campuran, dengan 211 saham menguat, 222 saham melemah, dan 525 saham stagnan. Meski demikian, tekanan jual masih lebih dominan di pasar.
Perdagangan Terakhir Pekan Ini
Perdagangan hari ini menjadi penutup aktivitas pasar saham dalam pekan ini.
Hal tersebut karena Bursa Efek Indonesia akan libur pada Jumat (3/4/2026) dalam rangka peringatan Jumat Agung.
Data Inflasi Jadi Sorotan Pasar
Dari dalam negeri, sentimen pasar dipengaruhi oleh rilis data inflasi dari Badan Pusat Statistik (BPS). Inflasi pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,41% secara bulanan dan 3,48% secara tahunan.
Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 4,86% secara tahunan.
Meski demikian, inflasi tahun ini masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang hanya sebesar 1,03%. Informasi ini dilansir dari laman cnbcindonesia.com
Sentimen Global dari Konflik AS-Iran
Dari sisi global, pasar juga dibayangi perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Operasi militer yang disebut “Operation Epic Fury” telah berlangsung lebih dari satu bulan dan diperkirakan berlanjut hingga beberapa minggu ke depan.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi tersebut akan terus berjalan hingga tujuan strategis tercapai.
Ia bahkan menyebutkan kemungkinan adanya serangan besar dalam waktu dekat, yang dapat memperpanjang konflik.
Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar global tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Kesimpulan
Pelemahan IHSG di awal perdagangan mencerminkan kombinasi tekanan dari sentimen domestik dan global.
Data inflasi yang melandai serta ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar.
Dengan kondisi ini, investor cenderung bersikap wait and see sambil mencermati perkembangan ekonomi dan geopolitik yang dapat memengaruhi arah pasar selanjutnya.
Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/

Komentar