Informasi
Beranda / Informasi / IHSG Anjlok Lebih dari 1%: Dampak Konflik Global, Harga Minyak, dan Kebijakan The Fed

IHSG Anjlok Lebih dari 1%: Dampak Konflik Global, Harga Minyak, dan Kebijakan The Fed

IHSG Anjlok Lebih dari 1%: Dampak Konflik Global, Harga Minyak, dan Kebijakan The Fed
IHSG Anjlok Lebih dari 1%: Dampak Konflik Global, Harga Minyak, dan Kebijakan The Fed

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan pada pembukaan perdagangan awal pekan. Indeks langsung turun 1,08% atau sekitar 76,53 poin ke level 7.020,53.

Tak lama berselang, tekanan semakin dalam hingga menyentuh penurunan 1,65%. Pergerakan ini mencerminkan sentimen negatif yang masih kuat di pasar.

Aktivitas perdagangan menunjukkan dominasi tekanan jual, dengan 251 saham melemah, 161 saham menguat, dan 546 saham stagnan. Total nilai transaksi tercatat sebesar Rp404,2 miliar dari 341,2 juta saham dalam 53.920 transaksi.

Kondisi ini memperlihatkan kehati-hatian investor di tengah ketidakpastian global. Informasi ini dilansir dari laman cnbcindonesia.com



Ketidakpastian Global Menahan Pergerakan IHSG

Pasar saat ini masih menunggu kepastian dari sejumlah faktor global yang krusial. Beberapa di antaranya adalah potensi gencatan senjata di kawasan Timur Tengah, pembukaan kembali jalur distribusi energi utama seperti Selat Hormuz, serta penurunan harga minyak ke bawah US$80 per barel.

Selama katalis positif tersebut belum terwujud, ruang penguatan IHSG dinilai terbatas. Tekanan eksternal masih mendominasi arah pergerakan indeks, sehingga peluang rebound yang signifikan cenderung sulit terjadi dalam waktu dekat.

Risiko Double Chokepoint Picu Kekhawatiran Pasar

Eskalasi konflik global kini memasuki fase yang lebih kompleks dengan munculnya risiko “double chokepoint”.

Jika sebelumnya perhatian tertuju pada Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20% distribusi minyak dunia, kini fokus juga mengarah ke Bab el-Mandeb.

Keterlibatan kelompok Houthi di Yaman membuat jalur perdagangan strategis yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez ikut terancam.

Jalur ini mencakup sekitar 6–12% arus perdagangan global. Jika kedua jalur tersebut terganggu secara bersamaan, maka sekitar 25–30% pasokan minyak dunia berpotensi terdampak.

Situasi ini meningkatkan risiko inflasi global serta membuka peluang terjadinya perlambatan ekonomi atau bahkan resesi. Harga minyak pun berpotensi bertahan tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.



Dampak Harga Minyak terhadap Ekonomi Indonesia

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak menjadi tekanan tambahan terhadap kondisi fiskal. Idealnya, harga minyak berada di bawah US$80 per barel sebagai batas aman.

Sementara itu, asumsi dalam APBN ditetapkan sebesar US$70 per barel. Setiap kenaikan harga minyak sebesar US$10 diperkirakan dapat menambah defisit hingga Rp51,8 triliun.

Jika harga mencapai US$100 per barel, tambahan subsidi energi bisa menyentuh Rp236 triliun, sedangkan tambahan penerimaan hanya sekitar Rp81 triliun.

Hal ini berpotensi meningkatkan defisit hingga Rp155 triliun, yang pada akhirnya membebani sentimen pasar saham domestik.

Kebijakan The Fed dan Likuiditas Global

Faktor lain yang turut memengaruhi pasar adalah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Selain menjaga inflasi dan stabilitas tenaga kerja, kebijakan ini juga berdampak pada likuiditas global.

Saat ini, likuiditas cenderung mengetat. Tingginya harga minyak berkontribusi pada tekanan inflasi, sehingga membuka peluang suku bunga tetap tinggi dalam jangka panjang atau dikenal dengan skenario “higher for longer”, bahkan hingga 2027.

Indikator ketidakpastian pasar juga tercermin dari kenaikan indeks volatilitas atau CBOE Volatility Index (VIX), yang kini berada di atas level 30—level tertinggi sejak awal tahun. Hal ini menandakan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar.



Kesimpulan

Penurunan IHSG lebih dari 1% dipengaruhi oleh kombinasi faktor global yang kompleks, mulai dari konflik geopolitik, ancaman terhadap jalur distribusi energi, hingga tingginya harga minyak dunia.

Selain itu, kebijakan moneter global yang ketat dan meningkatnya volatilitas pasar semakin memperbesar tekanan terhadap indeks.

Selama belum ada sentimen positif yang kuat, terutama dari stabilitas geopolitik dan penurunan harga minyak, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan terbatas dan rentan terhadap tekanan lanjutan.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan