Ramadan tahun ini menjadi momen yang berbeda bagi seorang mualaf di kawasan Kampung Madras, Kota Medan. Perjalanan spiritualnya menuju Islam bermula dari fase tergelap dalam hidupnya, saat ia harus menjalani hukuman penjara, Minggu (22/02/2026).
Mualaf tersebut bernama Rawin Ramadan. Ia mengaku keputusan memeluk Islam lahir dari pergulatan batin saat menjalani hukuman selama satu tahun dua bulan dalam kasus penikaman. Di balik jeruji besi, ia banyak merenung hingga akhirnya merasakan dorongan kuat dari dalam dirinya untuk berubah.
“Keinginan hati sendiri. Saya pernah dipenjara kan, dari situlah saya mau masuk Islam,” ujarnya.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Menurut Rawin, tidak ada orang tertentu yang membujuk atau memaksanya untuk berpindah keyakinan. Semua berawal dari kesadaran pribadi yang tumbuh dari hati nurani.
“Nggak, dari hati nurani sendiri,” katanya.
Menariknya, sebelum resmi menjadi muslim, ia sempat mencoba berpuasa lebih dulu. Dari pengalaman itu, ia merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan hingga akhirnya mantap mengucap syahadat.
Kini, Rawin masih terus belajar memahami ajaran Islam secara perlahan. Ia mengaku belajar secara mandiri untuk mendalami dasar-dasar keimanan dan ibadah.
“Masih belajar. Belajar sendiri,” ucapnya.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Ramadan kali ini terasa lebih bermakna baginya. Ia menggambarkan perasaannya dengan sederhana namun penuh keyakinan.
“Ya senang aja. Indah, senang. Islam itu indah,” tuturnya.
Meski belum berkeluarga dan tidak lagi memiliki keluarga yang mendampinginya, Rawin merasa menemukan lingkungan baru yang menerima dan merangkulnya di tengah komunitas mualaf Kampung Madras. Kebersamaan dalam kegiatan buka puasa bersama dan pembinaan keagamaan menjadi penguat langkahnya untuk terus istiqamah menjalani kehidupan barunya sebagai seorang muslim.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Komentar