Ekonomi Informasi
Beranda / Informasi / Daftar 9 Saham dengan Kepemilikan di Atas 95%, BREN Termasuk

Daftar 9 Saham dengan Kepemilikan di Atas 95%, BREN Termasuk

Daftar 9 Saham dengan Kepemilikan di Atas 95%, BREN Termasuk
Daftar 9 Saham dengan Kepemilikan di Atas 95%, BREN Termasuk

Upaya meningkatkan keterbukaan informasi di pasar saham terus dilakukan oleh regulator guna memberikan perlindungan lebih bagi investor.

Otoritas pasar modal resmi membuka data terkait saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).

Kebijakan ini melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), serta Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Langkah ini mulai diberlakukan sejak Kamis (2/4/2026) dan bertujuan meningkatkan transparansi serta kepercayaan investor di pasar modal Indonesia.



Apa Itu High Shareholding Concentration (HSC)?

HSC merupakan kondisi di mana suatu saham dimiliki oleh segelintir pihak atau kelompok terafiliasi dalam jumlah yang sangat dominan.

Data ini disusun berdasarkan metodologi kepemilikan saham dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat per 31 Maret 2026.

Keterbukaan data ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas kepada investor mengenai struktur kepemilikan suatu emiten. Informasi ini dilansir dari laman cnbcindonesia.com.

Daftar 9 Saham dengan Kepemilikan di Atas 95%

Berdasarkan data terbaru, terdapat sembilan saham dengan tingkat kepemilikan terkonsentrasi di atas 95%, yaitu:

  1. PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) – 99,85%
  2. PT Ifishdeco Tbk (IFSH) – 99,77%
  3. PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) – 98,35%
  4. PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) – 97,75%
  5. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) – 97,31%
  6. PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) – 95,94%
  7. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) – 95,76%
  8. PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) – 95,47%
  9. PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) – 95,35%



Risiko Saham dengan Kepemilikan Terkonsentrasi

Saham dengan tingkat kepemilikan tinggi oleh pihak tertentu memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan saham dengan free float tinggi.

Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Likuiditas rendah: Volume transaksi terbatas sehingga sulit diperjualbelikan
  • Harga tidak stabil: Pergerakan harga bisa melonjak atau anjlok akibat transaksi kecil
  • Kontrol harga: Harga saham dapat dipengaruhi oleh pemegang saham utama
  • Arah kebijakan perusahaan: Pemegang saham mayoritas memiliki kendali besar terhadap keputusan strategis dan pembagian dividen

Kondisi ini membuat harga saham tidak sepenuhnya mencerminkan mekanisme pasar yang sehat.

Dampak bagi Investor

Dengan adanya keterbukaan data HSC, investor dapat lebih waspada dalam memilih saham.

Informasi ini menjadi pertimbangan penting sebelum mengambil keputusan investasi, terutama untuk menghindari risiko likuiditas dan volatilitas tinggi.



Kesimpulan

Pembukaan data saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi menjadi langkah positif dalam meningkatkan transparansi pasar modal.

Meski demikian, investor perlu memahami risiko yang melekat pada saham jenis ini, seperti likuiditas rendah dan potensi manipulasi harga.

Dengan informasi yang lebih terbuka, diharapkan keputusan investasi dapat dilakukan secara lebih bijak.

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan