Ekonomi
Beranda / Ekonomi / BREN dan RLCO Terjun Bebas, Siapa Dalang di Baliknya?

BREN dan RLCO Terjun Bebas, Siapa Dalang di Baliknya?

Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) sama-sama mengalami tekanan pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026).

Penurunan paling dalam terjadi pada saham BREN yang merupakan bagian dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu. Saham ini tercatat merosot tajam hingga 12,73% ke level Rp4.800 per saham.

Sementara itu, saham RLCO juga ikut terkoreksi cukup dalam dengan penurunan sebesar 6,82% ke harga Rp6.150 per saham.



Sentimen BEI Picu Tekanan Harga

Pelemahan kedua saham tersebut dipicu oleh pengumuman dari Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration yang melebihi 95%.

Dalam keterangannya, BEI menyebutkan bahwa berdasarkan data per 31 Maret 2026, struktur kepemilikan saham BREN menunjukkan bahwa sejumlah pemegang saham secara agregat menguasai hingga 97,31% dari total saham, baik dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat.

Kondisi serupa juga terjadi pada RLCO, di mana kepemilikan saham terkonsentrasi mencapai 95,35% dari total saham yang beredar.



Deretan Saham Lain Ikut Tertekan

Selain BREN dan RLCO, beberapa saham lain juga masuk dalam daftar kepemilikan terkonsentrasi tinggi yang dirilis BEI.

Saham PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) tercatat turun 5,42% ke level Rp960 per saham.

Kemudian, saham PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) melemah 3,9% ke posisi Rp2.220 per saham, serta saham PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) yang terkoreksi 2,06% ke level Rp3.330 per saham.

Beberapa saham lain yang juga masuk daftar tersebut antara lain DSSA, MGLV, dan LUCY.



Kesimpulan

Penurunan tajam saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) mencerminkan kuatnya pengaruh sentimen pasar terhadap struktur kepemilikan saham.

Pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait status High Shareholding Concentration di atas 95% menjadi faktor utama yang memicu aksi jual investor. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap likuiditas dan pergerakan harga saham yang cenderung lebih volatil.

Tak hanya BREN dan RLCO, sejumlah saham lain juga ikut tertekan, menunjukkan bahwa sentimen ini berdampak luas di pasar. Investor pun disarankan untuk lebih cermat dalam mencermati fundamental dan struktur kepemilikan sebelum mengambil keputusan investasi.

Sumber : https://investor.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan