Ekonomi
Beranda / Ekonomi / IHSG Hari Ini Dibuka Anjlok 3,12 Persen ke Level 5.755, Pasar Saham Tertekan

IHSG Hari Ini Dibuka Anjlok 3,12 Persen ke Level 5.755, Pasar Saham Tertekan

IHSG Hari Ini Dibuka Anjlok 3,12 Persen ke Level 5.755

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini memulai perdagangan dengan tekanan cukup besar. Pada pembukaan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, IHSG mengalami pelemahan signifikan hingga turun lebih dari 3 persen.

Berdasarkan data RTI Business pada pukul 09.28 WIB, IHSG tercatat berada di level 5.755,678 setelah turun 185,3 poin atau melemah sekitar 3,12 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Kondisi tersebut memperpanjang tren pelemahan pasar saham Indonesia yang sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir.



Pergerakan IHSG Hari Ini Didominasi Saham Melemah

Sepanjang awal perdagangan, mayoritas saham berada di zona merah. Tercatat sebanyak 573 saham mengalami penurunan, sementara 70 saham berhasil menguat dan 80 saham bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan.

Pada sesi perdagangan pagi, IHSG bergerak di rentang level 5.749,341 hingga 5.924,508. Sementara itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat mencapai Rp10.129 triliun.

Aktivitas transaksi di pasar saham juga terpantau cukup tinggi. Sebanyak 7 miliar saham berpindah tangan melalui 474.733 transaksi dengan nilai perdagangan mencapai Rp3,9 triliun.

Pelemahan Rupiah dan Harga Minyak Menjadi Tekanan IHSG

Sebelumnya pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, IHSG ditutup melemah 4,11 persen ke posisi 5.941,07.

Menurut analisis Phintraco Sekuritas, tekanan terhadap pasar saham dipengaruhi oleh berlanjutnya pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Rupiah tercatat mengalami depresiasi sebesar 0,71 persen hingga berada di kisaran Rp17.966 per dolar AS.

Selain pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi faktor yang meningkatkan kekhawatiran pasar. Situasi tersebut berpotensi memicu kenaikan inflasi yang dapat mendorong Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate pada tahun ini.

Jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, pasar memperkirakan kebijakan moneter dapat menjadi lebih ketat.



IHSG Berpotensi Uji Level Support Baru

Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas menilai apabila IHSG ditutup di bawah level 5.900, maka indeks berpotensi menguji area support selanjutnya pada kisaran 5.750 hingga 5.840.

Area tersebut dipandang menjadi level penting yang akan diperhatikan investor untuk menentukan arah pergerakan pasar berikutnya.

Peringkat Danantara dan Kebijakan Batu Bara Jadi Sorotan

Selain faktor eksternal, sentimen lain yang turut menjadi perhatian pasar berasal dari PT Danantara Investment Management (DIM).

Moody’s memberikan peringkat Baa2 dengan prospek negatif kepada DIM. Peringkat tersebut setara dengan peringkat utang pemerintah Indonesia dan menunjukkan hubungan yang cukup erat antara perusahaan dan pemerintah.

Sementara itu, S&P Global Ratings memberikan peringkat jangka panjang BBB dengan prospek stabil, sedangkan Fitch Ratings menetapkan peringkat BBB untuk program obligasi global milik DIM.

Di sisi lain, pasar juga mencermati kabar mengenai sejumlah importir asal Tiongkok yang dikabarkan menunda pembelian batu bara Indonesia setelah adanya kebijakan sentralisasi ekspor komoditas melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Pelaku pasar menilai ketidakjelasan mengenai skema kontrak, mekanisme harga, hingga proses perdagangan dalam sistem baru tersebut dapat memberikan sentimen negatif terhadap saham-saham terkait sampai terdapat kejelasan lebih lanjut.



Penutup

Pergerakan IHSG dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi berbagai sentimen, baik dari dalam negeri maupun global.

Investor diperkirakan akan terus mencermati perkembangan nilai tukar rupiah, harga komoditas, kebijakan suku bunga, serta kondisi ekonomi dunia yang dapat menentukan arah pasar saham Indonesia dalam jangka pendek.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan