Kota Medan tidak hanya dikenal sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan di Sumatera Utara, tetapi juga sebagai kota yang tumbuh dari pertemuan beragam etnis—Melayu, Tionghoa, India, hingga Arab.
Jejak perjumpaan budaya itu tidak hanya terlihat pada kuliner dan bangunan kolonial, tetapi juga pada rumah-rumah ibadahnya.
Sejumlah masjid di Medan berdiri sejak abad ke-19 dan awal abad ke-20, menjadi saksi perkembangan Kesultanan Deli, komunitas perantau, hingga dinamika sosial masyarakat kota ini.
Sebagian masjid tersebut kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi tujuan wisata religi.
Arsitekturnya memadukan gaya Timur Tengah, India, Eropa, bahkan Tionghoa, mencerminkan identitas Medan sebagai kota multietnis yang terbuka terhadap pengaruh luar.
Berikut tujuh masjid di Kota Medan yang dikenal memiliki arsitektur megah sekaligus nilai sejarah yang kuat:
1. Masjid Raya Al-Mashun
Berlokasi di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Mesjid, Kecamatan Medan Kota, masjid ini menjadi ikon utama Kota Medan. Dibangun pada 1906 dan selesai pada 1909 atas prakarsa Sultan Deli, Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, masjid ini dirancang oleh arsitek Belanda Theodoor van Erp.
Bangunannya berbentuk segi delapan dengan empat serambi di setiap sisi. Kubah besar berwarna hitam serta lengkungan pintu bergaya Moor menunjukkan perpaduan arsitektur Timur Tengah, India, dan Spanyol. Letaknya yang berdekatan dengan Istana Maimun mempertegas peran masjid ini sebagai simbol kejayaan Kesultanan Deli.
2. Masjid Lama Gang Bengkok
Masjid yang berdiri di Jalan Mesjid, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat ini dibangun pada 1874. Dikenal juga sebagai Masjid Lama Gang Bengkok, bangunan ini memiliki atap yang menyerupai kelenteng Tionghoa, tanpa kubah seperti masjid pada umumnya.
Arsitektur tersebut mencerminkan akulturasi budaya Melayu dan Tionghoa di kawasan Kesawan, yang sejak dulu menjadi pusat perdagangan dan permukiman multietnis di Medan.
3. Masjid Ghaudiyah
Terletak di Jalan KH Zainul Arifin, Kelurahan Petisah Tengah, masjid ini dibangun pada 1908 oleh komunitas India Muslim melalui Yayasan India Muslim. Pembangunannya dilakukan secara swadaya melalui infak dan sedekah masyarakat.
Di bagian belakang masjid terdapat kompleks pemakaman komunitas India Muslim yang masih terawat hingga kini, menjadi bukti sejarah keberadaan etnis India di Kota Medan.
4. Masjid Al-Osmani
Masjid yang berada di Jalan KL Yos Sudarso Km 19,5, Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan ini dibangun pada 1854 oleh Sultan Osman Perkasa Alam. Awalnya masjid terbuat dari kayu, kemudian dipermanenkan pada masa Sultan Mahmud Perkasa Alam.
Di sekitar masjid terdapat makam beberapa raja Deli, menjadikannya salah satu situs sejarah penting yang menandai awal perkembangan Kesultanan Deli sebelum pusat pemerintahan berpindah ke wilayah Medan Kota.
5. Masjid Baiduzzaman
Masjid yang berdiri sejak 1885 ini terletak di Jalan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Sunggal. Didirikan oleh Datuk Badiuzzaman Surbakti, yang dikenal sebagai Raja Sunggal.
Keunikan masjid ini terletak pada teknik pembangunannya yang menggunakan putih telur sebagai campuran perekat, karena pada masa kolonial Belanda penggunaan semen tidak diizinkan. Meski demikian, bangunan ini tetap kokoh hingga sekarang.
6. Masjid Jamik Medan
Masjid Jamik berada di Jalan Taruma, simpang Jalan Kejaksaan, dan dibangun pada 1887 di atas tanah wakaf dari Sultan Deli. Masjid ini juga berkaitan erat dengan komunitas India Muslim di Medan.
Dengan luas lahan sekitar 5.407 meter persegi, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat sekitar sejak akhir abad ke-19.
7. Masjid Al-Jihad Medan
Masjid yang berdiri di Jalan Abdullah Lubis ini dibangun pada 1958 oleh 17 orang pendiri yayasan. Memiliki luas sekitar 8.677 meter persegi dan mampu menampung sekitar 2.000 jamaah.
Interiornya didominasi warna cokelat dan emas dengan hiasan kaligrafi di dinding serta langit-langit biru muda. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini aktif menyelenggarakan berbagai kajian keislaman dan dikenal sebagai salah satu pusat dakwah di Kota Medan.
Keberadaan tujuh masjid ini menunjukkan bagaimana perkembangan Islam di Medan tidak terlepas dari peran kesultanan, komunitas perantau, dan masyarakat setempat yang bersama-sama membangun identitas religius kota hingga kini.

Komentar