Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan cukup dalam menjelang libur panjang. Pada penutupan perdagangan terbaru, IHSG melemah 157,66 poin atau turun 2,19% ke level 7.026,78. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan aksi jual besar-besaran di sejumlah saham unggulan.
Tekanan Jual Mendominasi Pergerakan IHSG
Pergerakan IHSG sepanjang hari didominasi sentimen negatif. Sebanyak 558 saham tercatat melemah, sementara hanya 184 saham yang menguat dan 216 saham stagnan.
Aktivitas perdagangan cukup tinggi dengan nilai transaksi mencapai Rp 12,76 triliun. Total volume saham yang diperdagangkan mencapai 23,93 miliar lembar dalam 1,77 juta kali transaksi. Sementara itu, kapitalisasi pasar ikut tergerus hingga berada di level Rp 12.305 triliun.
Sektor Utilitas Jadi Penekan Utama
Penurunan IHSG paling dalam berasal dari sektor utilitas yang anjlok hingga 10,53%. Selain itu, sektor bahan baku juga turun signifikan sebesar 5,68%, disusul sektor teknologi yang melemah 2,75%.
Saham Barito Renewables Energy (BREN) menjadi kontributor terbesar penurunan indeks setelah merosot 12,73% ke level 4.800. Tekanan juga datang dari saham grup Prajogo Pangestu lainnya seperti Barito Pacific (BRPT) dan Chandra Asri Pacific (TPIA) yang masuk daftar top laggards.
Sentimen Global Picu Kepanikan Pasar
Sentimen negatif semakin kuat setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait eskalasi konflik dengan Iran.
Dalam pidatonya, Trump menegaskan bahwa operasi militer bertajuk “Epic Fury” akan terus berlanjut hingga target strategis tercapai. Ia bahkan menyebutkan kemungkinan serangan besar dalam dua hingga tiga minggu ke depan, yang memicu kekhawatiran pasar global.
Ketegangan geopolitik ini meningkatkan risiko global dan mendorong investor untuk melakukan aksi jual, termasuk di pasar saham Indonesia.
Lonjakan Harga Minyak Tambah Tekanan
Konflik yang memanas turut mendorong lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent melonjak hingga US$108,89 per barel atau naik lebih dari 7,65%. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 7,71% ke level US$107,86 per barel.
Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih tinggi, sehingga menekan pasar saham, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia.
Bursa Asia Ikut Tertekan
Tekanan tidak hanya terjadi di dalam negeri. Sejumlah indeks saham utama di Asia juga mengalami pelemahan signifikan. Indeks Kospi di Korea Selatan anjlok 4,47%, Nikkei Jepang turun 2,38%, Hang Seng Hong Kong melemah 0,7%, dan ASX200 Australia terkoreksi 1,06%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan IHSG merupakan bagian dari sentimen global yang lebih luas.
IHSG Bergerak di Zona Merah Sepanjang Hari
Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 7.019,23 hingga 7.161,8. Sejak pembukaan, indeks konsisten berada di zona merah tanpa mampu berbalik arah.
Tekanan jual yang terus berlanjut menunjukkan sikap hati-hati investor menjelang long weekend, terutama di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Kesimpulan: Kombinasi Faktor Global dan Domestik
Penurunan IHSG kali ini dipicu oleh kombinasi berbagai faktor, mulai dari aksi ambil untung jelang libur panjang, tekanan pada saham-saham big caps, hingga sentimen global akibat konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak.
Jika kondisi global belum stabil, pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih akan volatil dengan kecenderungan melemah.
Sumber : https://www.cnbcindonesia.com









