Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Menjelang akhir sesi pertama, IHSG tercatat ambruk lebih dari 3 persen dan turun ke level 6.300-an akibat tekanan besar di sejumlah saham unggulan.
Dilansir dari cnbcindonesia pada pukul 11.45 WIB, IHSG tercatat melemah lebih dari 200 poin ke posisi 6.398,78. Pelemahan ini melanjutkan tren koreksi yang sudah terjadi sejak perdagangan sebelumnya.
Tekanan pasar juga terjadi di tengah melemahnya nilai tukar rupiah serta sentimen negatif dari penghapusan sejumlah saham Indonesia dari indeks global MSCI dan potensi evaluasi FTSE Russell.
IHSG Hari Ini Melemah Tajam
Pergerakan IHSG sepanjang perdagangan didominasi aksi jual. Dari seluruh saham yang diperdagangkan:
- 569 saham mengalami penurunan
- 134 saham menguat
- 110 saham stagnan
Nilai transaksi pasar tercatat cukup besar mencapai Rp13,85 triliun dengan volume perdagangan sekitar 24,77 miliar saham dalam 1,6 juta transaksi.
Pelemahan tajam ini menjadi lanjutan koreksi IHSG pada perdagangan Senin sebelumnya yang sempat turun lebih dari 4 persen sebelum akhirnya ditutup melemah sekitar 1,85 persen.
Saham Prajogo Pangestu Jadi Pemberat IHSG
Mayoritas sektor saham berada di zona merah. Sektor bahan baku menjadi yang paling tertekan dengan penurunan lebih dari 7 persen.
Beberapa saham yang menjadi pemberat utama IHSG antara lain:
- TPIA turun 15 persen
- AMMN
- MORA
- DSSA
Sebagian saham tersebut diketahui sebelumnya dikeluarkan dari indeks MSCI sehingga memicu tekanan jual dari investor.
Pengaruh MSCI dan FTSE Russell terhadap IHSG
Tekanan terhadap pasar saham Indonesia semakin besar setelah sejumlah emiten dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index.
Selain MSCI, penyedia indeks global FTSE Russell juga memberikan sinyal terkait evaluasi saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi di Bursa Efek Indonesia.
FTSE Russell menyatakan saham dengan kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi berpotensi dihapus dari indeks pada evaluasi Juni 2026. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga likuiditas dan stabilitas indeks global.
Kondisi ini membuat investor khawatir terhadap potensi tekanan lanjutan pada saham-saham tertentu di pasar Indonesia.
Rupiah Ikut Melemah ke Rp17.700 per Dolar AS
Selain tekanan di pasar saham, nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat.
Pada perdagangan pagi, rupiah sempat menyentuh level Rp17.700 per dolar AS atau melemah sekitar 0,34 persen.
Pelemahan rupiah terjadi meski indeks dolar AS (DXY) justru mengalami penurunan. Kondisi ini menunjukkan tekanan eksternal dan sentimen pasar masih cukup kuat terhadap aset keuangan domestik.
Penutup
IHSG hari ini mengalami koreksi tajam hingga turun lebih dari 3 persen ke level 6.300-an. Pelemahan dipicu tekanan pada saham-saham besar, sentimen negatif dari MSCI dan FTSE Russell, serta melemahnya nilai tukar rupiah.
Pelaku pasar kini menantikan perkembangan kebijakan pasar modal dan pergerakan investor asing untuk melihat arah IHSG selanjutnya pada perdagangan pekan ini.

Komentar