Pergerakan harga saham di pasar modal kerap dipengaruhi oleh berbagai sentimen, baik faktor fundamental perusahaan maupun kebijakan regulator.
Salah satu sentimen yang cukup mendapat perhatian pelaku pasar adalah pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait daftar saham dengan tingkat kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).
Kondisi ini dapat memengaruhi persepsi investor terhadap likuiditas dan struktur kepemilikan suatu emiten. Pada perdagangan Kamis (2/4/2026), sejumlah saham tercatat mengalami tekanan signifikan setelah masuk dalam kategori tersebut.
Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) menjadi dua emiten yang mengalami koreksi cukup dalam, diikuti beberapa saham lainnya yang juga masuk dalam daftar HSC.
BREN dan RLCO Rontok Bersamaan
Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) mengalami penurunan tajam pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026). Kedua emiten tersebut tercatat kompak berada di zona merah hingga akhir sesi.
Saham BREN yang merupakan bagian dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu mencatat pelemahan paling dalam. Harga sahamnya merosot sebesar 12,73 persen dan ditutup di level Rp 4.800 per lembar saham.
Tekanan jual juga terjadi pada saham RLCO. Emiten tersebut terkoreksi 6,82 persen sehingga harga sahamnya turun ke posisi Rp 6.150 per lembar.
Penurunan harga saham BREN dan RLCO ini dipicu oleh sentimen dari pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait daftar saham dengan tingkat kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC), yakni di atas 95 persen.
Dalam pengumuman resmi BEI disebutkan bahwa berdasarkan metodologi penilaian struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat per 31 Maret 2026, saham BREN dimiliki oleh kelompok pemegang saham tertentu yang secara gabungan menguasai 97,31 persen dari total saham yang beredar.
Sementara itu, untuk RLCO, kepemilikan sahamnya juga terpusat pada sejumlah pemegang saham tertentu yang secara kolektif mengendalikan 95,35 persen dari total saham, baik dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat.
Tidak hanya BREN dan RLCO, BEI juga mencantumkan beberapa emiten lain dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Di antaranya adalah DSSA, ROCK, MGLV, SOTS, AGII, dan LUCY.
Berdasarkan data dari Stockbit, saham PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) turut mengalami penurunan sebesar 5,42 persen ke level Rp 960 per saham.
Selain itu, saham PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) terkoreksi 3,9 persen menjadi Rp 2.220 per lembar. Saham PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) juga mengalami pelemahan sebesar 2,06 persen ke posisi Rp 3.330 per saham.
Secara keseluruhan, sentimen terkait tingginya konsentrasi kepemilikan saham ini memberi tekanan pada sejumlah emiten, yang tercermin dari penurunan harga pada perdagangan hari tersebut.
Kesimpulan
Penurunan harga saham BREN dan RLCO pada penutupan perdagangan tidak terlepas dari sentimen pengumuman BEI mengenai saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi di atas 95 persen. Konsentrasi kepemilikan yang dominan pada segelintir pemegang saham dinilai dapat memengaruhi likuiditas perdagangan di pasar.
Selain kedua emiten tersebut, sejumlah saham lain seperti SOTS, ROCK, dan AGII juga mengalami pelemahan pada hari yang sama. Kondisi ini menunjukkan bahwa informasi dari regulator memiliki peran penting dalam membentuk respons pasar dan keputusan investor. Oleh karena itu, transparansi serta pemahaman terhadap struktur kepemilikan saham menjadi aspek penting dalam menilai potensi risiko dan peluang investasi.
sumber https://investor.id/market/433969/saham-bren-dan-rlco-kompak-rontok

Komentar