Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan penguatan pada perdagangan Rabu, 1 April 2026. IHSG naik sebesar 136,22 poin atau 1,93 persen ke level 7.184,44.
Meski demikian, penguatan indeks tidak diikuti oleh seluruh saham, karena sejumlah emiten justru mengalami tekanan dan masuk dalam daftar top loser.
Daftar Saham Top Loser Hari Ini
Berdasarkan data pasar, saham ITMA milik Sumber Energi Andalan menjadi salah satu yang paling tertekan setelah turun 110 poin atau 4,53 persen ke level 2.320. Diikuti saham PACK dari Abadi Nusantara yang melemah 8 poin atau 4,49 persen ke level 170.
Saham PRDA milik Prodia Widyahusada juga mencatat penurunan cukup dalam sebesar 120 poin atau 4,44 persen ke level 2.580. Sementara itu, saham SMKM ikut terkoreksi 4 poin atau 4,40 persen ke posisi 87.
Selanjutnya, saham MANG turun 2 poin atau 4,35 persen ke level 44. Saham SGRO juga mengalami pelemahan signifikan sebesar 250 poin atau 4,31 persen ke level 5.550, diikuti saham AKRA yang turun 60 poin atau 4,27 persen ke posisi 1.345.
Saham UNIC turut tertekan dengan penurunan 475 poin atau 4,19 persen ke level 10.850. Kemudian saham ECII melemah 8 poin atau 4,17 persen ke level 184. Adapun saham BALI melengkapi daftar top loser setelah turun 55 poin atau 3,99 persen ke posisi 1.325.
Tekanan Jual Masih Terjadi Secara Selektif
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun IHSG bergerak menguat, tekanan jual masih terjadi secara selektif pada sejumlah saham. Sentimen sektoral dan aksi ambil untung (profit taking) jangka pendek menjadi faktor utama yang memicu pelemahan tersebut.
Proyeksi IHSG Secara Teknikal
Dalam riset MNC Sekuritas, disebutkan bahwa IHSG sempat mengalami koreksi dan masih berada dalam fase downtrend jangka pendek. Secara teknikal, pergerakan indeks diperkirakan tetap fluktuatif dengan level support di kisaran 7.022 hingga 6.917 serta resistance pada rentang 7.302 hingga 7.434.
Peluang Penguatan Masih Terbuka
Meski berada dalam tekanan jangka pendek, peluang penguatan IHSG masih terbuka. Hal ini dapat terjadi apabila tekanan jual mulai mereda dan minat beli investor tetap terjaga, terutama pada awal kuartal II 2026.
Kesimpulan
IHSG berhasil ditutup menguat pada awal April 2026, namun penguatan tersebut tidak merata karena sejumlah saham masih mengalami tekanan dan masuk dalam daftar top loser.
Kondisi ini menunjukkan adanya aksi jual selektif di pasar, dipengaruhi sentimen sektoral dan profit taking jangka pendek.
Secara teknikal, pergerakan IHSG diperkirakan masih fluktuatif dalam jangka pendek. Meski demikian, peluang untuk melanjutkan penguatan tetap terbuka, terutama jika tekanan jual mereda dan minat beli investor kembali meningkat.
Sumber: kabarbursa.com

Komentar