Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi pertama pada Jumat (27/3/2026) di zona negatif.
IHSG tercatat turun sebesar 0,88% atau terkoreksi 63,09 poin ke level 7.101.
Pelemahan ini mencerminkan tekanan yang masih mendominasi pasar saham domestik.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 404 saham mengalami penurunan, sementara 242 saham menguat dan 312 saham stagnan.
Aktivitas transaksi juga relatif sepi dengan nilai perdagangan mencapai Rp 5,7 triliun.
Volume saham yang diperdagangkan tercatat sebanyak 9,96 miliar lembar dalam 781.600 transaksi, dengan kapitalisasi pasar turun ke Rp 12.488 triliun.
Saham Big Cap Jadi Penekan Utama
Penurunan IHSG pada sesi ini terutama dipicu oleh pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar.
Beberapa emiten yang memberikan kontribusi terbesar terhadap penurunan indeks antara lain:
- Bank Central Asia (BBCA) dengan tekanan sebesar 9,47 poin indeks
- Telkom Indonesia (TLKM) sebesar 8,41 poin
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 7,86 poin
- Barito Renewables Energy (BREN) sebesar 7,86 poin
- Astra International (ASII) sebesar 7,17 poin
Saham BBCA sendiri mengalami penurunan 1,45% ke level 6.775.
Koreksi ini terjadi bersamaan dengan cum date dividen, yang umumnya memicu aksi ambil untung oleh investor.
Bursa Asia Bergerak Variatif
Pergerakan IHSG sejalan dengan tren mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang juga mengalami tekanan.
Meski sempat melemah tajam di awal perdagangan, beberapa indeks mulai mengurangi penurunan bahkan berbalik menguat.
Berikut pergerakan sejumlah indeks utama di Asia:
- Nikkei (Jepang) turun 0,33%
- Bursa Taiwan melemah 1,79%
- Kospi (Korea Selatan) turun 1,81% setelah sempat anjlok lebih dalam
- Hang Seng (Hong Kong) naik 0,55%
- STI (Singapura) menguat 0,28%
Sentimen Global: Ketegangan Selat Hormuz
Pasar keuangan Indonesia masih dibayangi ketidakpastian global, terutama terkait situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya blokade Selat Hormuz.
Mengutip dari laman cnbcindonesia.com. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk memperpanjang batas waktu rencana serangan selama 10 hari hingga 6 April.
Langkah ini dilakukan untuk membuka peluang negosiasi dengan Iran.
Keputusan tersebut diambil sebagai respons atas permintaan pemerintah Iran, yang disebut memberikan “isyarat damai” melalui pengiriman 10 kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz.
Trump menegaskan bahwa perpanjangan waktu ini bertujuan mendorong penyelesaian konflik secara diplomatik.
Meski demikian, terdapat perbedaan pernyataan antara kedua pihak.
Washington menyatakan negosiasi berjalan positif, sementara Teheran membantah adanya pembicaraan langsung.
Harga Minyak Berfluktuasi
Perkembangan geopolitik ini turut memengaruhi harga minyak dunia.
Harga sempat mengalami kenaikan, namun kemudian melemah seiring adanya harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.
- West Texas Intermediate (WTI) kontrak Mei turun 1,3% ke US$93,29 per barel
- Brent crude ditutup di level US$108,01 per barel
Kesimpulan
Pelemahan IHSG pada sesi pertama perdagangan hari ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan global.
Tekanan dari saham-saham big cap serta minimnya aktivitas transaksi memperburuk kinerja indeks.
Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik, khususnya terkait Selat Hormuz dan hubungan AS-Iran, turut menambah volatilitas pasar.
Meski terdapat sinyal positif dari upaya diplomasi, kondisi pasar diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek, terutama menjelang akhir pekan.
Investor cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu kepastian arah sentimen global.
Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/

Komentar