Bulan Ramadhan menjadi waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Selama menjalankan puasa, setiap Muslim diwajibkan menahan diri dari berbagai hal yang dapat membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari.
Namun dalam kehidupan sehari-hari, terdapat sejumlah kebiasaan ringan yang sering menimbulkan pertanyaan, salah satunya adalah kebiasaan ngupil (mengorek hidung) atau mengorek telinga saat sedang berpuasa.
Sebagian orang khawatir apakah tindakan tersebut dapat membatalkan puasa atau tidak.
Pertanyaan ini menunjukkan sikap kehati-hatian seorang Muslim dalam menjaga kesempurnaan ibadahnya.
Sikap tersebut tentu sangat baik, karena menunjukkan keinginan agar puasa yang dijalankan tetap sah dan diterima oleh Allah SWT.
Kaidah Penting dalam Menentukan Pembatal Puasa
Dalam ilmu fikih terdapat prinsip dasar yang perlu dipahami, yaitu suatu perbuatan tidak bisa dianggap membatalkan puasa tanpa adanya dalil yang jelas dari Al-Qur’an maupun hadis.
Artinya, tidak diperbolehkan menetapkan sebuah hukum ibadah hanya berdasarkan dugaan atau asumsi.
Segala sesuatu yang berkaitan dengan ibadah telah dijelaskan melalui syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Allah SWT juga mengingatkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 36:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”
Ayat tersebut mengajarkan agar setiap Muslim berhati-hati dalam menyampaikan atau menetapkan hukum agama tanpa dasar ilmu yang jelas.
Hukum Ngupil dan Mengorek Telinga Saat Puasa
Dilansir dari laman unpak.ac.id, para ulama menjelaskan bahwa tidak terdapat dalil khusus maupun umum yang menyatakan bahwa mengorek hidung atau telinga termasuk hal yang membatalkan puasa.
Jika dianalogikan dengan pembatal puasa yang telah disepakati para ulama, seperti makan, minum, atau hubungan suami istri, maka aktivitas tersebut tidak memiliki kesamaan.
Ngupil maupun mengorek telinga bukanlah aktivitas yang berkaitan dengan proses makan atau minum, sehingga tidak bisa disamakan hukumnya dengan perkara yang membatalkan puasa.
Dengan demikian, kebiasaan tersebut tidak membatalkan puasa selama tidak menyebabkan sesuatu masuk ke dalam tubuh yang membatalkan puasa.
Jangan Hanya Fokus pada Hal Kecil
Banyak umat Islam sangat berhati-hati dalam menjaga puasanya dari hal-hal yang dianggap membatalkan.
Bahkan terkadang sesuatu yang sebenarnya tidak membatalkan puasa justru dianggap sebagai pembatal karena terlalu berhati-hati.
Namun ada hal yang sering kali kurang diperhatikan, yaitu perbuatan yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa, meskipun secara hukum tidak membatalkan ibadah tersebut.
Perilaku maksiat, ucapan buruk, dan dosa lainnya dapat merusak nilai ibadah puasa yang sedang dijalankan.
Bahaya Ucapan Dusta Saat Berpuasa
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda :
“Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Ahmad, Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Ucapan zur dalam hadis tersebut berarti kebohongan atau perkataan yang menyimpang dari kebenaran.
Selain itu, perbuatan zur juga mencakup berbagai tindakan maksiat yang dilarang oleh Allah SWT.
Perkara seperti inilah yang sebenarnya lebih berbahaya bagi pahala puasa dibandingkan sekadar kekhawatiran tentang kebiasaan kecil seperti ngupil atau mengorek telinga.
Kesimpulan
Mengorek hidung atau telinga saat menjalankan puasa Ramadhan tidak termasuk hal yang membatalkan puasa, karena tidak terdapat dalil yang menyatakan demikian dalam syariat Islam.
Dalam Islam, suatu perbuatan hanya dianggap membatalkan puasa jika terdapat dasar hukum yang jelas dari Al-Qur’an maupun hadis.
Meski demikian, umat Islam tetap dianjurkan untuk lebih menjaga perilaku, ucapan, serta perbuatan selama berpuasa. Hal ini karena dosa dan maksiat dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa.
Oleh sebab itu, selain menahan lapar dan dahaga, menjaga lisan serta perilaku juga menjadi bagian penting agar ibadah puasa benar-benar bernilai di sisi Allah SWT.
Sumber: https://www.unpak.ac.id/

Komentar