Informasi
Beranda / Informasi / Kenapa Banyak Masjid Tarawih 23 Rakaat? Ini Sejarah dan Penjelasannya

Kenapa Banyak Masjid Tarawih 23 Rakaat? Ini Sejarah dan Penjelasannya

Kenapa Banyak Masjid Tarawih 23 Rakaat? Ini Sejarah dan Penjelasannya

Saat Ramadan tiba, suasana masjid menjadi lebih hidup dari biasanya. Salah satu ibadah yang paling dinanti adalah salat tarawih. Namun, mungkin kamu pernah bertanya-tanya: kenapa banyak masjid di Indonesia melaksanakan tarawih sebanyak 23 rakaat?

Sebagian masjid melaksanakan 11 rakaat, sementara yang lain memilih 23 rakaat. Perbedaan ini kadang memunculkan kebingungan, bahkan perdebatan kecil di tengah masyarakat.

Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, perbedaan jumlah rakaat ini memiliki latar belakang sejarah dan dasar yang bisa dipahami dengan bijak. Yuk, kita kupas penjelasannya secara lengkap.



Apa Itu Salat Tarawih?

Salat tarawih adalah salat sunnah yang dikerjakan khusus pada malam hari di bulan Ramadan. Ibadah ini dilakukan setelah salat Isya dan sebelum witir. Tarawih bisa dikerjakan secara berjamaah di masjid maupun sendiri di rumah.

Secara bahasa, “tarawih” berasal dari kata yang berarti istirahat. Disebut demikian karena pada masa awal pelaksanaannya, jamaah beristirahat sejenak setiap selesai beberapa rakaat.

Dari Mana Asal Angka 23 Rakaat?

Jumlah 23 rakaat biasanya terdiri dari 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir. Praktik ini banyak diikuti oleh masjid-masjid di Indonesia, terutama yang berafiliasi dengan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

Secara historis, pelaksanaan tarawih 20 rakaat sering dikaitkan dengan kebijakan Khalifah Umar bin Khattab. Pada masa kepemimpinannya, beliau mengumpulkan kaum Muslimin untuk melaksanakan tarawih berjamaah dengan jumlah 20 rakaat, lalu ditutup witir 3 rakaat.

Sejak saat itu, praktik 20 rakaat tarawih menyebar luas di berbagai wilayah Islam dan menjadi tradisi yang bertahan hingga sekarang, termasuk di Indonesia.



Bagaimana dengan 11 Rakaat?

Di sisi lain, ada pula yang melaksanakan tarawih sebanyak 11 rakaat, biasanya terdiri dari 8 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir. Jumlah ini merujuk pada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah menambah salat malamnya melebihi 11 rakaat, baik di Ramadan maupun di luar Ramadan.

Karena itu, sebagian umat Islam memilih mengikuti praktik tersebut sebagai bentuk ittiba’ (mengikuti) sunnah Nabi secara langsung.

Kenapa 23 Rakaat Lebih Umum di Indonesia?

Di Indonesia, praktik 23 rakaat lebih dominan karena dipengaruhi oleh mazhab fikih yang berkembang di Nusantara, khususnya mazhab Syafi’i.



Dalam mazhab ini, salat tarawih sebanyak 20 rakaat dianggap sebagai amalan yang memiliki dasar kuat dari para sahabat Nabi.

Tradisi ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi melalui pesantren, ulama, dan organisasi keagamaan besar. Akhirnya, 23 rakaat (20 tarawih + 3 witir) menjadi kebiasaan yang melekat di banyak masjid.

Selain faktor sejarah dan mazhab, ada juga unsur kebiasaan sosial. Karena sejak kecil banyak orang terbiasa dengan 23 rakaat, maka pola ini terus dilanjutkan tanpa merasa keberatan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan