Informasi
Beranda / Informasi / Jumlah Rakaat Shalat Tarawih dan Witir Sesuai Sunnah, Lengkap Dengan Dalilnya

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih dan Witir Sesuai Sunnah, Lengkap Dengan Dalilnya

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih dan Witir Sesuai Sunnah, Lengkap Dengan Dalilnya

Banyak umat Islam mengira jumlah rakaat shalat tarawih hanya memiliki satu atau dua bentuk saja. Padahal, tuntunan Nabi Muhammad SAW menunjukkan adanya kelonggaran dalam pelaksanaannya.

Umat dapat menyesuaikan jumlah rakaat tarawih maupun witir sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.

Di tengah masyarakat, dikenal dua praktik yang paling umum. Kalangan Muhammadiyah biasanya melaksanakan tarawih 11 rakaat dengan susunan empat rakaat, empat rakaat, lalu ditutup tiga rakaat witir.

Sementara warga Nahdlatul Ulama lazim menunaikan 23 rakaat, yakni 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir.

Meski berbeda, keduanya memiliki dasar amalan yang sah dalam Islam. Sunnah Rasulullah SAW justru menunjukkan variasi jumlah rakaat shalat malam, sehingga perbedaan tersebut merupakan bagian dari keluasan syariat.



Beragam Formasi Shalat Tarawih dalam Sunnah

Dilansir dari muhammadiyahsemarangkota.org berikut 7 Formasi shalat tarawih dalam sunnah Nabi:

1. Formasi 11 Rakaat (4–4–3)

Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat malam dengan susunan empat rakaat, empat rakaat, lalu tiga rakaat witir. Riwayat ini menegaskan bahwa beliau tidak menambah lebih dari sebelas rakaat, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا ًا

Artinya: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka’at, Beliau shalat empat raka’at, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka’at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat tiga raka’at” (HR Bukhari: 1079, 3304, Muslim: 1219).



2. Formasi 13 Rakaat dengan Witir Lima Rakaat

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi SAW mengerjakan shalat malam sebanyak tiga belas rakaat dan menutupnya dengan lima rakaat witir sekaligus tanpa duduk di tengah.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ لاَ يَجْلِسُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ فِى آخِرِهَا

Artinya: “Dari ‘Ā’isyah (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Pernah Rasulullah saw salat malam tiga belas rakaat, beliau berwitir dengan lima rakaat dan beliau sama sekali tidak duduk (di antara rakaat-rakaat itu) kecuali pada rakaat terakhir” (HR Muslim: 1217).

3. Dua Rakaat Berulang Lalu Ditutup Tiga Rakaat

Beliau juga pernah menunaikan shalat malam dua rakaat demi dua rakaat beberapa kali, kemudian mengakhirinya dengan tiga rakaat witir sehingga total menjadi tiga belas rakaat.

لأَرْمُقَنَّ صَلاَةَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اللَّيْلَةَ فَصَلَّى. رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً

Artiya: “Sungguh aku perhatikan shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam hari, ternyata beliau memulai dengan shalat dua rakaat yang ringan. Kemudian beliau shalat dua rakaat dengan bacaan yang panjang sekali, kemudian shalat dua rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian beliau shalat witir sehingga semua menjadi 13 raka’at.” (HR. Muslim: 1248, Abu Dawud: 1159).



Kelonggaran Jumlah Rakaat Witir

4. Menyesuaikan Kondisi Fisik

Saat usia Rasulullah SAW semakin lanjut, beliau pernah mengerjakan witir tujuh rakaat lalu menambah dua rakaat sambil duduk. Ini menunjukkan fleksibilitas ibadah sesuai kemampuan.

يَا بُنَيَّ فَلَمَّا أَسَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ بَعْدَ مَا سَلَّمَ فَتِلْكَ تِسْعُ رَكَعَاتٍ

Artinya: “Wahai anakku, setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam mencapai umur senja dan mulai gemuk, beliau mengerjakan witir tujuh rakaat, lalu shalat dua rakaat sambil duduk setelah salam, sehingga semuanya menjadi sembilan rakaat” (HR. an-Nasai 1583, Nasai 1699, dll).

5. Witir Bisa 7, 5, 3, bahkan 1 Rakaat

Dalam hadis lain dijelaskan bahwa witir itu hak setiap Muslim. Seseorang boleh memilih jumlah rakaat sesuai keinginannya: tujuh, lima, tiga, atau bahkan satu rakaat saja.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْوِتْرُ حَقٌّ فَمَنْ شَاءَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَمَنْ شَاءَ أَوْتَرَ بِخَمْسٍ وَمَنْ شَاءَ أَوْتَرَ بِثَلَاثٍ وَمَنْ شَاءَ أَوْتَرَ بِوَاحِدَةٍ

Artinya: “Shalat witir itu benar. Siapa pun yang hendak shalat witir, maka ia boleh mengerjakannya tujuh rakaat. Apabila ingin lima rakaat, hal itu juga diperbolehkan. Begitu pula jika ia memilih tiga rakaat, dan bagi yang menghendaki, ia boleh mengerjakannya cukup satu rakaat” (Nasai 1651, 1692, 1693).



6. Shalat Malam Dua Rakaat Salam

Rasulullah SAW juga mencontohkan shalat malam dilakukan dua rakaat salam, dua rakaat salam, dan jika khawatir datang Subuh maka ditutup satu rakaat witir.

مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِيتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ ، تُوتِرُ لَكَ مَا قَدْ صَلَّيْتَ

Artinya: “Salat malam itu dua raka’at salam, dua raka’at salam. Jika engkau khawatir datang shubuh, berwitirlah dengan satu raka’at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir” (HR. Bukhari: 452, 453, Muslim: 1239).

7. Sebelas Rakaat dengan Witir Satu Rakaat

Ada pula riwayat bahwa beliau shalat sebelas rakaat sejak setelah Isya hingga menjelang fajar, dengan salam setiap dua rakaat dan ditutup satu rakaat witir.

كَانَ الن ّ َبِي ّ ُ صَل ّ َى اللهُ عَلَيْهِ وَسَل ّ َمَ يُصَل ّ ِي مَا بَيْنَ أَنْ يَفْرَغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشَرَةِ رَكْعَةً يُسَل ّ ِمُ فِي كُل ّ ِ اثْنَتَيْنِ وَيُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ

Artinya: “Selepas waktu isya hingga fajar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam salat sebanyak sebelas raka’at. Pada setiap dua raka’at beliau salam dan witir satu raka’at” (HR Ibnu Majah: 1348).



Sikap Bijak dalam Menyikapi Perbedaan Tarawih

Dari berbagai riwayat tersebut, jelas bahwa jumlah rakaat shalat tarawih tidak tunggal. Semua memiliki dasar sunnah yang dapat diamalkan. Karena itu, tidak tepat jika seseorang mengklaim hanya satu cara yang benar, apalagi sampai menyalahkan praktik yang berbeda.

Islam memberikan kemudahan dalam ibadah selama masih berlandaskan dalil yang sahih. Perbedaan jumlah rakaat seharusnya menjadi rahmat dan memperkuat ukhuwah, bukan menimbulkan perdebatan.

Kesimpulan

Shalat tarawih memiliki banyak variasi jumlah rakaat sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Umat Islam dapat memilih 11 rakaat, 13 rakaat, 23 rakaat, atau bentuk lain yang sesuai dengan dalil dan kemampuan.

Yang terpenting adalah menjaga kekhusyukan, mengikuti sunnah, dan tetap menghormati perbedaan dalam praktik ibadah.



Sumber : https://muhammadiyahsemarangkota.org

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan