Berita
Beranda / Berita / Kancah Tembaga Peninggalan Kesultanan Masih Digunakan untuk Memasak Bubur Sop di Masjid Raya Al-Mashun

Kancah Tembaga Peninggalan Kesultanan Masih Digunakan untuk Memasak Bubur Sop di Masjid Raya Al-Mashun

Pengurus Masjid Raya Al-Mashun masih menggunakan kancah atau wadah masak berbahan tembaga untuk memasak bubur sop yang dibagikan kepada masyarakat selama Ramadan. Sebagian kancah tersebut bahkan merupakan peninggalan dari masa Kesultanan Deli, Kamis (19/02/2026).

Pengurus Masjid Raya Al-Mashun, Hamdan, mengatakan kancah tembaga tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi memasak bubur sop yang telah berlangsung sejak lama.



“Kancah masak itu dari tembaga. Ada yang dari zaman Kesultanan, ada juga yang baru kita beli,” ujarnya.

Namun, keterbatasan ukuran kancah menjadi kendala dalam meningkatkan jumlah produksi bubur. Pihak masjid bahkan telah membeli kancah berukuran lebih besar dari Jawa, tetapi kapasitasnya masih belum mencukupi.

“Kita sudah beli yang lebih besar, tapi ternyata masih kurang juga. Sekarang sekali masak kita pakai dua kancah,” kata Hamdan.

Ia menjelaskan, penggunaan kancah tembaga tetap dipertahankan karena merupakan bagian dari tradisi yang diwariskan sejak masa Kesultanan. Selain itu, alat tersebut juga menjadi simbol sejarah panjang tradisi berbagi makanan kepada masyarakat.



“Tradisi itu tetap kita jaga. Kebiasaan ini, kebiasaan Sultan dan Masjid Raya ini kita jagalah. Untuk tradisi yang mungkin ya untuk generasi muda supaya mereka juga dapat mengetahui sejarahnya sedikit,” pungkasnya.

Tradisi ini sendiri telah mengalami perubahan sejak sekitar 45 tahun lalu. Sebelumnya, menu yang dimasak adalah bubur pedas, namun kemudian diubah menjadi bubur sop karena bahan dan bumbu bubur pedas semakin sulit diperoleh.



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan