Tradisi pembagian bubur sop untuk berbuka puasa di Masjid Raya Al-Mashun terus berlangsung hingga kini. Setiap hari selama Ramadan, pengurus masjid memasak sekitar 1.000 porsi bubur sop untuk dibagikan kepada jemaah dan masyarakat.
Pengurus Masjid Raya Al-Mashun, Hamdan, mengatakan jumlah tersebut relatif sama dari tahun sebelumnya. Bubur yang dimasak kemudian dibagikan kepada jemaah yang berbuka puasa di masjid maupun masyarakat yang datang untuk membawa pulang.
“Sekali masak itu lebih kurang untuk 1.000 porsi per hari. Itu terbagi dua, ada untuk jemaah yang berbuka di masjid dan ada juga untuk masyarakat yang membawa pulang,” ujar Hamdan kepada wartawa, Kamis (19/02/2026).
Ia menjelaskan, tradisi ini merupakan warisan dari masa Kesultanan Deli. Dahulu, bubur dimasak di Istana Maimun dan dibagikan sebagai sedekah pribadi Sultan kepada masyarakat. Kini, tradisi tersebut tetap dipertahankan dengan dukungan donasi dari masyarakat umum.
“Kalau dulu itu sedekah pribadi Sultan, sekarang sudah terbuka. Siapa saja boleh menjadi donatur dan banyak yang membantu,” katanya.
Bubur sop yang dibagikan memiliki ciri khas tersendiri karena menggunakan santan serta berisi kentang, wortel, dan daging. Teksturnya yang lembut membuatnya cocok dikonsumsi saat berbuka puasa setelah seharian menahan lapar.
Menurut Hamdan, tradisi ini tidak hanya sekadar menyediakan makanan berbuka, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan sejarah dan budaya agar tetap dikenal generasi muda.
“Tradisi ini tetap kita jaga supaya generasi muda bisa mengetahui sejarahnya,” ujarnya.
Tradisi pembagian bubur sop tersebut menjadi salah satu kegiatan rutin yang selalu dinantikan masyarakat setiap Ramadan di Masjid Raya Al-Mashun.

Komentar