Pengamatan hilal untuk menentukan awal Ramadan belum membuahkan hasil karena posisi bulan masih berada di bawah ufuk.
Secara astronomis, kondisi ini membuat hilal mustahil terlihat dari wilayah Medan, sehingga kegiatan rukyat yang dilakukan lebih bersifat pemenuhan agenda dan prosedur ilmiah, Selasa (17/02/2026).
Kepala Observatorium Ilmu Falak (OIF) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, menjelaskan bahwa data astronomis telah menunjukkan sejak awal bahwa hilal tidak memenuhi syarat visibilitas.
“Pengamatan tadi itu lebih kepada formalitas. Oleh karena kita tahu data astronomis pada awal Ramadan ini itu sudah tidak memenuhi untuk dilakukan pengamatan. Hilalnya itu sudah minus, sudah negatif, sehingga praktis tidak bisa dilakukan pengamatan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa posisi hilal yang masih negatif tidak hanya terjadi di satu titik, tetapi merata di seluruh wilayah Indonesia, sehingga kemungkinan terlihatnya hilal pada hari tersebut tidak ada.
“Posisi hilal di Indonesia seluruhnya itu negatif, sehingga penentuan lintang atau bujurnya itu pada dasarnya tidak berpengaruh,” jelasnya.
Meski demikian, ia memastikan kegiatan pengamatan tetap dilaksanakan sebagai bagian dari tanggung jawab ilmiah serta untuk memastikan proses rukyat tetap berjalan sesuai prosedur.
“Kita melakukan pengamatan lebih kepada formalitas bahwa kita sudah melaksanakan kegiatan ini,” tutupnya.

Komentar