Informasi
Beranda / Informasi / Rupiah Melemah Jadi Rp 17.000 Per Dolar AS

Rupiah Melemah Jadi Rp 17.000 Per Dolar AS

Rupiah Melemah Jadi Rp 17.000 Per Dolar AS
Rupiah Melemah Jadi Rp 17.000 Per Dolar AS

Rupiah Melemah Ke Rp17.000 Akibat Ketidakpastian Geopolitik

Rupiah melemah menjadi Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan Kamis, (2/4/2026). Hal ini diduga merupakan bentuk efek samping dari ketidakpastian perang di Timur Tengah.

Informasi ini merupakan perdagangan terakhir dalam pekan ini, karena pada Jumat (3/4/2026) pasar akan tutup untuk memperingati Jumat Agung, seperti dilaporkan Bloomberg Technoz.

Rupiah Melemah : Sejalan Dengan Penguatan Indeks Dolar AS

Peristiwa melemahnya nilai tukar Rupiah ini juga merupakan imbas dari penguatan indeks dolar AS sebesar 0,44% ke level 100, yang memberikan tekanan pada mata uang di kawasan Asia.

Selain Rupiah, mata uang asing milik negara lainnya juga mengalami hal yang sama seperti, yen Jepang yang tergerus 0,49%, diikuti ringgit Malaysia dan baht Thailand yang masing-masing melemah 0,32%.

Dolar Singapura Juga Ikut Melemah

Dolar Singapura turut mengalami imbas dengan penurunan 0,27%, yuan offshore dan yuan China masing-masing 0,25%, won Korea Selatan 0,16%, serta dolar Taiwan 0,1%. Di sisi lain, rupee India justru menguat tajam hingga 2,09%, sementara dolar Hong Kong stagnan dengan sedikit perubahan 0,01%.

Penyebab Melemahnya Nilai Tukar Rupiah

Investor Global Hindari Resiko

Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia mengungkapkan bahwa ada lima yang menjadi sentimen dan alasan mengapa rupiah tertekan.

Hal yang pertama adalah investor global cenderung menghindari risiko (risk averse) di tengah gejolak perang di Timur Tengah pasca serangan AS bersama Israel ke Iran.

Sikap investor ini membuat imbas buruk di Indonesia dan menghambat aliran masuk modal dan malah memicu aksi jual atau profil taking

Peningkatan Impor BBM

Masih terkait gejolak perang di timur tengah, penyebab lainnya adalah kenaikan permintaan valuta asing di dalam negeri, terutama untuk memenuhi kebutuhan impor. Myrdal menambahkan, peningkatan impor BBM selama harga minyak dunia masih tinggi turut berkontribusi pada fluktuasi nilai tukar rupiah.

Kinerja Pasar Asia dan Obligasi Domestik

Bersamaan dengan pelemahan rupiah, bursa pasar Asia juga bergerak lesu pada sore hari. Indeks Topix Jepang melemah 1,61%, Nikkei 225 turun 2,38%, sedangkan KOSDAQ dan KOSPI Korea Selatan masing-masing anjlok 5,36% dan 4,47%. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia juga tertekan 1,8%, indeks FTSE Malay 0,97%, dan Taiwan TAIEX melemah 1,82%.

Belanja Rutin Akhir dan Awal Bulan

Pelemahan rupiah juga terkait dengan belanja rutin pada periode akhir atau awal bulan, khususnya untuk barang-barang impor yang meluas tidak hanya pada BBM. Myrdal menyebutkan bahwa periode April hingga Juli merupakan musim dividen, yang mengakibatkan permintaan dolar AS domestik meningkat karena kebutuhan pembayaran dividen kepada investor asing.

Kesimpulan

Pelemahan rupiah ke level Rp17.000 per dolar AS pada 2 April 2026 dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal.

Faktor eksternal utama adalah ketidakpastian geopolitik akibat perang di Timur Tengah serta penguatan indeks dolar AS yang menekan mata uang Asia.

Sementara faktor internal meliputi meningkatnya kebutuhan impor, khususnya BBM, serta tingginya permintaan dolar domestik untuk pembayaran dividen dan belanja rutin akhir-awal bulan.

Kondisi ini diperparah oleh melemahnya pasar saham Asia dan obligasi domestik, sehingga aliran modal ke Indonesia terhambat. Secara keseluruhan, pelemahan rupiah mencerminkan sentimen global yang risk averse dan tekanan struktural dari kebutuhan valuta asing dalam negeri.

Sumber

Sumber : https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/104852/rupiah-tutup-perdagangan-pekan-ini-di-rp17-000-us

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan