Ramadan tahun ini terasa berbeda di Masjid Raya Aceh Sepakat. Jika pada tahun-tahun sebelumnya jamaah menikmati hidangan kuah beulangong sebagai menu utama berbuka puasa, kali ini Badan Kenaziran dan Kemakmuran Masjid (BKM) memutuskan untuk meniadakan menu tersebut.
Keputusan itu diambil sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat Aceh yang terdampak bencana banjir, Senin (23/02/2026).
Salah satu Ketua BKM Masjid Raya Aceh Sepakat, Haji Eddy Miswar, menjelaskan bahwa biasanya selain bubur kanji rumbi, masjid juga menyediakan kuah beulangong yang dimasak dalam jumlah besar untuk jamaah.
“Oh, biasanya di sini ya di samping bumbu kanji rumbi, ya ada makanan kuah beulangong. Tapi per tahun ini kita tiadakan itu kuah beulangong dikarenakan adanya musibah banjir di Aceh Tamiang dan seluruh Aceh-lah. Jadi kita tiadakanlah itu,” ujarnya.
Menurutnya, keputusan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Dana yang biasanya dialokasikan untuk memasak nasi dan kari dalam jumlah besar dialihkan untuk membantu masyarakat terdampak bencana di Aceh, khususnya di Aceh Tamiang.
“Tahun ini kita tiadakan makan bersama nasi dan kari. Fokus kita ke Aceh Tamiang yang kemarin terkena bencana banjir. Dana yang biasanya digunakan untuk itu, dikirim ke sana,” jelasnya.
Padahal, setiap Ramadan, kegiatan berbuka puasa bersama di masjid ini mampu menjangkau ribuan orang.
“Padahal biasanya, setiap sore 1.000 sampai 1.500 orang berbuka di sini dengan kuah beulangong. Masaknya sekitar 2,5 sampai 3 jam. Rempahnya sangat khas, lebih terasa cita rasa Aceh. Biasanya 500 porsi habis untuk jemaah di sini, sisanya kita bagikan kepada masyarakat sekitar dan para musafir yang datang,” tuturnya.
Meski kuah beulangong ditiadakan, tradisi berbagi tetap berjalan dengan penyediaan bubur kanji, kue, dan minuman hasil sumbangan jamaah serta simpatisan.
“Tapi untuk tidak menghilangkan rasa kebiasaan kita itu, kita adakan sekadar untuk kanji ini dan kue dan minuman,” kata Eddy.
Ia berharap kondisi ke depan semakin membaik sehingga tradisi berbuka bersama dengan menu lengkap dapat kembali digelar.
“Harapan kita insyaallah mudah-mudahan kita semua dalam kondisi sehat-sehat semua dan daerah-daerah juga tidak ada bencana. Insyaallah tahun-tahun depan kita adakan lagi seperti tahun-tahun sebelumnya dengan buka bersama dengan adanya kanji apa, kari kuah beulangong,
Keputusan ini menjadi gambaran bahwa fungsi masjid tak hanya sebatas tempat ibadah dan berbuka bersama, tetapi juga sebagai pusat solidaritas sosial yang responsif terhadap musibah yang menimpa masyarakat di kampung halaman.









