Khutbah Jumat 8 Mei 2026 mengangkat tema tentang prioritas ibadah melalui kisah penuh hikmah seorang ulama zuhud, Abdullah bin Mubarak, yang gagal menunaikan ibadah haji karena memilih membantu keluarga miskin yang kelaparan.
Kisah tersebut menjadi pelajaran penting mengenai kepedulian sosial, keutamaan sedekah, serta makna sejati dari amal kebaikan dalam ajaran Islam.
Kisah Abdullah bin Mubarak yang Membatalkan Perjalanan Haji
Dalam kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi, diceritakan bahwa Abdullah bin Mubarak pernah berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan ibadah haji.
Namun, ketika sampai di kota Kufah, ia menyaksikan kondisi memilukan sebuah keluarga miskin yang terpaksa memakan bangkai itik demi bertahan hidup.
Sang ibu bersama anak-anaknya sudah beberapa hari tidak mendapatkan makanan.
Awalnya Abdullah bin Mubarak menegur mereka karena memakan sesuatu yang diharamkan.
Akan tetapi, setelah mengetahui kondisi sebenarnya, hatinya tersentuh dan ia memilih membantu keluarga tersebut.
Sedekah yang Menggantikan Perjalanan Haji
Karena rasa iba yang mendalam, Abdullah bin Mubarak akhirnya menyedekahkan seluruh bekalnya kepada keluarga miskin tersebut, termasuk makanan, pakaian, hingga hewan tunggangannya.
Keputusan itu membuat dirinya tidak lagi memiliki biaya untuk melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci sehingga ia gagal menunaikan ibadah haji pada tahun tersebut.
Meski demikian, sepulang ke kampung halaman, masyarakat justru menyambutnya seperti seorang jamaah haji.
Bahkan beberapa rekannya mengaku melihat sosok Abdullah bin Mubarak berada di Makkah membantu jamaah lain selama musim haji berlangsung.
Mimpi yang Menjelaskan Kemuliaan Sedekah
Kebingungan Abdullah bin Mubarak akhirnya terjawab melalui sebuah mimpi.
Dalam tidurnya, ia mendengar suara yang menyatakan bahwa Allah menerima amal sedekahnya dan mengutus malaikat menyerupai dirinya untuk menunaikan ibadah haji.
Kisah ini menunjukkan besarnya keutamaan sedekah dan kepedulian sosial dalam ajaran Islam, terutama ketika dilakukan dengan penuh keikhlasan demi menolong orang yang sangat membutuhkan.
Islam Mengajarkan Prioritas dalam Beribadah
Khutbah Jumat ini juga menekankan pentingnya memahami prioritas ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
Ibadah haji memang merupakan kewajiban bagi umat Islam yang mampu.
Namun, dalam kondisi tertentu, membantu menyelamatkan kehidupan orang lain dapat menjadi prioritas yang lebih mendesak.
Hal tersebut selaras dengan kaidah fiqih:
المُتَعَدِّيْ أَفْضَلُ مِنَ القَاصِرِ
“Ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual.”
Kaidah ini menjelaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah personal dan kepedulian sosial.
Haji Hanya Wajib bagi yang Mampu
Dalam khutbah tersebut juga dijelaskan bahwa Islam tidak pernah memaksakan ibadah haji kepada orang yang belum mampu secara ekonomi maupun fisik.
Seseorang yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga tidak dianjurkan memaksakan diri untuk berhaji hingga harus menjual aset penting seperti rumah atau sumber mata pencaharian.
Meski demikian, umat Islam tetap dianjurkan berikhtiar agar suatu saat mampu melaksanakan ibadah haji sebagai salah satu rukun Islam.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 97:
وَلِلَّهِعَلَىالنَّاسِحِجُّالْبَيْتِمَنِاسْتَطَاعَإِلَيْهِسَبِيلًا
Ayat tersebut menegaskan bahwa kewajiban haji berlaku bagi orang yang memiliki kemampuan untuk menunaikannya.
Makna Haji Mabrur dalam Kehidupan Sosial
Khutbah ini juga mengingatkan bahwa haji mabrur bukan hanya berkaitan dengan kesempurnaan pelaksanaan ritual ibadah, tetapi juga perubahan akhlak dan kepedulian sosial seseorang.
Sikap Abdullah bin Mubarak yang rela mengorbankan bekalnya demi membantu orang lain dianggap sebagai bentuk nyata dari kebajikan atau al-birru.
Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 92:
لَنْتَنَالُواالْبِرَّحَتَّىٰتُنْفِقُوامِمَّاتُحِبُّونَ
Ayat tersebut menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna sebelum mau mendermakan harta yang dicintainya. Dirangkum dari laman cahaya.kompas.com
Kesimpulan
Khutbah Jumat 8 Mei 2026 memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kepedulian sosial dan memahami prioritas dalam beribadah.
Kisah Abdullah bin Mubarak menunjukkan bahwa membantu orang yang sedang mengalami kesulitan dapat menjadi amal yang sangat mulia di sisi Allah SWT.
Selain mengingatkan tentang kewajiban haji bagi yang mampu, khutbah ini juga menegaskan bahwa nilai ibadah tidak hanya diukur dari ritual, tetapi juga dari akhlak, empati, dan kepedulian terhadap sesama.
Sumber : https://cahaya.kompas.com/aktual/

Komentar