Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah dan ampunan, sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah.
Tidak sedikit yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan ilmu agama, salah satunya melalui ceramah singkat yang menginspirasi.
Ceramah di bulan suci Ramadhan biasanya membahas penguatan iman, amal kebaikan, motivasi untuk menahan diri, serta ajakan untuk meningkatkan ketakwaan.
Ceramah yang singkat terkadang membuat pesan tersampaikan dengan jelas dan lebih mudah diingat oleh jemaah dari berbagai usia.
Artikel contoh ceramah Ramadhan singkat ini disusun sebagai referensi bagi anda yang hendak membawakan dakwah di bulan penuh berkah ini. Dengan persiapan yang matang, pesan-pesan keagamaan dapat disampaikan secara runtut dan menyentuh hati jemaah.
Yuk simak kumpulan contoh ceramah Ramadhan singkat yang berisi pesan penuh makna dan menginspirasi di bawah ini!
Contoh Ceramah Ramadhan Singkat #1
Judul: Meraih Keberkahan Ramadhan
Bulan Ramadhan memiliki keutamaan dan keistimewaan yang besar. Semua amal saleh yang dilakukan pada bulan ini akan mendapat balasan lebih banyak dan lebih baik.
Pada bulan ini umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan. Di antara keutamaan dan keistimewaan Ramadhan tersebut, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat,
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلَّ فِيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شهر
Artinya: “Telah datang kepada kalian semua Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat (dibelenggu) dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.” (HR. Ahmad)
Kata berkah atau barakah atau mubarak berasal dari kata kerja yang merujuk kepada peristiwa yang terjadi pada masa lalu (fi’il madhi, past tense), baraka. Menurut Imam An-Nawawi, baraka itu artinya tumbuh, berkembang, bertambah dan kebaikan yang berkesinambungan.
Ar-Raghib Al-Asfahaniy memaknai kata ini dengan ats-Tsubut (ketetapan atau keberadaan) dan tsubut al-khayr al-ilahy (adanya kebaikan Tuhan). Atau, dalam istilah Imam Al-Ghazali, barakah itu ziyadatul-khair ala kulli syai’, bertambahnya kebaikan atas segala sesuatu.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), berkah diartikan dengan “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia.”
Dalam buku Durus al-‘Am, Syaikh Abdul Malik Al-Qasimi menjelaskan bahwa berkah atau barakah adalah
وَالْبَرَكَةُ هِيَ ثُبُوتُ الْخَيْرِ الْإِلهِي فِي الشَّيْءِ. فَإِنَّهَا إِذا حَلَّتْ فِي قَلِيلٍ كَثَّرَتْهُ وَإِذَا حَلَّتْ فِي كَثِيرٍ نَفَعَ
Artinya: “Barokah adalah adanya kebaikan yang berasal dari Allah pada suatu hal. Sesuatu yang sedikit jika mendapatkan keberkahan, berubah jadi terasa banyak. Sesuatu yang banyak jika mendapatkan keberkahan, terasa sangat besar manfaatnya.”
Dari pengertian ini saja, setidaknya ada tiga indikator bahwa sesuatu itu diberkahi. Pertama, sesuatu yang sedikit jika barakah akan terasa banyak. Umur pendek yang diberkahi adalah umur yang diisi dengan berbagai kebaikan dan menghasilkan banyak karya dan amal saleh.
Imam An-Nawawi hanya berusia 43 tahun, tetapi karya-karyanya ratusan judul dan dikaji hingga sekarang oleh banyak ilmuwan dan ulama.
Harta sedikit yang penuh berkah adalah harta yang cukup dimanfaatkan untuk berbagai keperluan layaknya harta yang banyak. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang membuahkan manfaat yang banyak bagi diri, keluarga dan masyarakat sekitarnya. Ilmu yang berkah berarti ilmu yang sedikit tapi diamalkan dalam keseharian.
Ramadhan disebut bulan penuh berkah karena di bulan Ramadhan pahala amal kebaikan dilipatgandakan. Amalan yang awalnya biasa saja menjadi luar biasa nilainya di hadapan Allah bagi yang menjalankannya. Amalan sunnah diganjar sebagaimana layaknya amalan wajib. Di bulan ini kebaikan bertambah dan bertumbuh menjadi kebaikan yang berkesinambungan.
Kedua, sesuatu yang berkah adalah sesuatu yang membuahkan manfaat luar biasa. Ilmu agama yang banyak dan berkah akan memberi manfaat yang mendunia dan mendatangkan kebaikan bagi banyak orang. Umur panjang dan berkah akan membuahkan karya-karya (amal saleh) yang monumental dan besar manfaatnya bagi masyarakat luas.
Dalam hal ini, jika amalan di bulan Ramadhan dimaksimalkan, maka ia akan mendatangkan manfaat yang besar bagi pelakunya. Hatinya akan tertata kembali. Pikirannya dibersihkan dari berbagai prasangka dan negative thinking. Ia akan lebih optimis dalam menghadapi problematika hidupnya. Karenanya, ketika Hari Raya tiba, ia akan mendapatkan kemenangan dan kebahagiaan (al-faizin)
Ketiga, dikatakan berkah karena sesuatu atau keadaan itu bisa mengantarkan seseorang pada kebaikan dan menambah kebaikan atau ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Pernikahan yang diberkahi adalah pernikahan yang mendatangkan kebaikan bagi pasangan suami dan istri.
Bukan hanya pada saat senang dan dalam limpahan nikmat-Nya. Namun, pada saat susah dan berkekurangan pun bisa menjadi berkah, manakala kesusahan itu menjadikan keduanya sadar dan bertaubat atas kesalahan diri mereka.
Setidaknya, hal itu akan menghindarkan keduanya dari jurang kenistaan dan kemudharatan. Keluarga penuh berkah adalah keluarga yang selalu mendorong semua warga rumah tersebut untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah.
Ramadhan akan menjadi berkah bagi pelakunya, jika setelah Ramadhan ia menjadi semakin dekat dan bertakwa kepada Allah. Sebaliknya, jika setelah Ramadhan seseorang tidak mengalami perubahan apapun, maka ia patut mengoreksi diri atas puasa Ramadhannya.
Jadi, pelaku manusia ikut menentukan perubahan dalam dirinya. Jika berusaha untuk selalu mendekat kepada-Nya, maka Allah pun akan lebih mendekat kepada hamba-Nya. Karenanya, tidak ada alasan lain bagi seorang muslim kecuali harus bisa meraih berkah Ramadhan. Wallahu a’lamu.
Contoh Ceramah Ramadhan Singkat #2
Judul: Tolonglah Saudaramu, Maka Allah akan Menolongmu
Dalam ilmu sosiologi, manusia dapat disebut sebagai makhluk individu dan sosial. Sebagai makhluk individu, manusia dikaruniai unsur jasmani dan rohani, serta memiliki ciri khas dengan corak kepribadiannya sendiri. Sedangkan, sebagai makhluk sosial, keberadaan manusia tidak dapat lepas antara satu dengan yang lain atau saling membutuhkan.
Oleh karena itu, dengan kodrat tersebut, di dalam agama Islam kita juga diajarkan untuk saling menolong satu sama lain, terlebih dalam hal kebaikan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya: “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS Al-Maidah ayat 2)
Demikianlah, perintah tolong-menolong berkaitan erat dengan ketakwaan. Imam Asy-Sya’rawi dalam Khawathirusy Sya’rawi, juz 5, halaman 2907 menjelaskan bahwa hal tolong menolong ini merupakan perkara yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan dunia. Selain itu juga harus dilakukan pada aspek kebaikan.
Maka, sudah semestinya kita hidup berdampingan dan saling peduli satu sama lain. Apabila ada orang lain yang mengalami kesulitan, hendaknya kita ikut membantu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita.
Semisal, sebagai seorang ahli ilmu, maka hendaknya ia membantu orang lain dengan ilmu yang dimilikinya. Mengajarkan ilmu kepada orang yang ada di sekitarnya. Kemudian, jika diberikan kelebihan rezeki, dapat pula kita menolong saudara atau tetangga kita yang tengah kesusahan, dengan bantuan harta benda yang kita miliki.
Apabila kita tidak memiliki keduanya, setidaknya kita masih memiliki anggota badan atau tenaga, yang dapat kita pergunakan untuk menolong orang lain. Dalam kitab Syu’abul man dijelaskan perbuatan tolong-menolong ini menjadi salah satu dari cabang-cabang iman.
Terlebih apabila kita memiliki kelebihan atau kekuasaan untuk memberikan pertolongan. Sebab Allah Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban seseorang atas kedudukan dan harta yg telah di karuniakan kepadanya.
Di dalam kitab Risalatul Mu’awanah (hal 138), Syekh Abdullah bin Alawi Al Haddad menjelaskan agar kita selalu menggembirakan dan membahagiakan hati orang-orang mukmin dengan cara apapun tanpa adanya unsur dosa di dalamnya. Beliau menjelaskan:
(وَعَلَيْكَ) بِالشَّفَاعَةِ لِكُلِّ مَنْ سَأَلَكَ أَنْ تَشْفَعَ لَهُ فِي حَاجَةٍ إِلَى مَنْ لَكَ عِنْدَهُ جَاهُ؛ فَإِنَّ اللَّهَ يَسْأَلُ الْعَبْدَ عَنْ جَاهِهِ كَمَا يَسْأَلُهُ عَنْ مَالِهِ
Artinya: “Hendaklah engkau memberi syafaat (pertolongan) kepada setiap orang yang memintamu untuk menolongnya dalam suatu keperluan kepada seseorang yang engkau memiliki kedudukan di sisinya. Sebab, Allah akan menanyai seorang hamba tentang kedudukannya sebagaimana Dia menanyainya tentang hartanya.”
Jangan ragu untuk mengulurkan tangan dan membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan, terutama dalam urusan dengan orang lain. Selain itu, agar kita semakin bersemangat dalam tolong-menolong, perlu kita sadari bahwa Allah dan Nabi Muhammad SAW sangat mengapresiasi perbuatan mulia ini. Terlebih lagi, jika pertolongan tersebut berkaitan dengan agama-Nya. Allah berfirman:
يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad ayat 7)
Sedangkan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim diterangkan:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Artinya: “Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba selalu menolong saudaranya.” (HR Muslim).
Kemudian Nabi Muhammad SAW juga menegaskan orang yang yang gemar menolong atau bermanfaat untuk sesama, maka ia akan dicintai oleh Allah. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ath-Thabrani dalam kitab al-Mu’jamul Kabir, juz 12, halaman 453.
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا، وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
Artinya: “Manusia yang paling dicintai Allah adalah manusia yang paling bermanfaat kepada sesama dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang kamu bagikan kepada sesama Muslim atau kamu gunakan untuk meringankan kesulitannya atau melunasi hutangnya atau membebaskannya dari rasa lapar. Sesungguhnya aku lebih menyukai untuk berjalan bersama (menolong) saudaraku yang membutuhkan bantuan dari pada beritikaf di masjid ini, yaitu masjid Madinah selama satu bulan.”
Begitulah, manfaat tolong-menolong ini ternyata tidak hanya berdampak kepada orang yang ditolong, yang mendapatkan bantuan kebaikan. Akan tetapi juga kepada orang yang menolong, dia mendapatkan balasan pahala yang besar dan bahkan mendapatkan predikat yang istimewa dari Allah dan Nabi Muhammad.
Maka, di Bulan Ramadhan ini kita jadikan momen yang tepat untuk menambah kebaikan kita, dengan menolong sesama. Terlebih kepada mereka yang tengah mengalami kesulitan. Harapannya, agar kita kelak kita sendiri juga mendapatkan pertolongan pula ketika di Hari Akhir nanti. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
مَنْ نَفْسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَسَ اللَّهُ عَنهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ
Artinya: “Siapa pun yang menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia orang mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat,” (HR Muslim).
Semoga kita dijadikan Allah sebagai orang yang memiliki hati dan laku untuk saling menolong. Dan kita dimudahkan dalam setiap langkah kebaikan yang kita lakukan. Amin ya Rabbal Alamin.
Oleh: Ustadz Ajie Najmuddin, Pengurus MWC NU Banyudono Boyolali
Sumber: Laman NU Online
Contoh Ceramah Ramadhan Singkat #3
Judul: Keteladanan Akan Melahirkan Generasi Tangguh
Semua orang Muslim diingatkan oleh Allah agar hendaknya mereka takut manakala melahirkan generasai penerus yang lemah. Dalam pemaknaan terbalik, maka sebenarnya umat Islam dianjurkan untuk menyiapkan generasi penerus yang tangguh, baik iman dan ketakwaannya, ekonominya, pendidikannya, termasuk tangguh secara fisik.
وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةٗ ضِعَٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدًا
Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS An-Nisa ayat 9)
Tangguh juga mengandung arti orang yang pantang menyerah, pribadi yang tidak pernah merasa lemah, atas sesuatu yang terjadi pada dirinya. Generasi tanggung itu berarti ia siap menghadapi semuanya dengan berpikir secara positif.
Tangguh juga berarti kemampuan yang dimiliki seseorang atau sikap untuk berbuat yang terbaik terhadap apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya.
Jadi generasi tangguh adalah generasi tahan banting. Kalau jatuh, ya bangkit lagi, jatuh bangkit lagi, jatuh bangkit lagi. Apa yang sudah menjadi tekadnya, maka sekuat tenaga ia akan meraihnya, dan siap menanggung segala resikonya. Layaknya pepatah, gunungpun kan ku daki, lautan ku sebrangi.
فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS Ali Imran ayat 159)
Lalu siapakah pemuda yang bisa dijadikan contoh sebagai profil pemuda yang tangguh? Tidak lain
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS Al-Ahzab ayat 21)
Yaitu siapa teladan tersebut, beliau adalaha Nabi Muhammad SAW. Dalam dakwahnya ia sering dihina, dicaci maki, dihalangi, ditolak, diusir, dan sebagainya. Namun beliau tetap tegar dan tetap melanjutkan dakwahnya. Sebab beliau meliki sifat pemuda tangguh sebagaimana disebutkan di atas.
Begitu juga dengan Nabi Ibrahim. Jadi tangguh, tahan banting, bukan berarti secara kasat mata pribadi dengan watak yang keras. Sebab ketangguhan yang dimiliki oleh Ibrahim justru ia tangguh karena kelembutannya.
Lalu bagaimana cara menanamkan sikap tangguh ini agar dimiliki oleh generasi penerus?
Pertama, lewat pendidikan. Baik di rumah, di sekolah, juga di pusat-pusat anak itu berkumpul. Termasuk menjadikan masjid sebagai tempat belajar sekaligus arena berkumpul.
Namun pada sisi lain, kita juga harus melihat bahwa tantangan dan zaman tidaklah seperti dahulu. Semua sudah berubah. Apalagi di era digital seperti sekarang ini. Di mana anak dalam kesehariannya erat dengan smartphone atau gadget atau gawai. Namun apapun tantangannya, keteladanan adalah kunci dalam mendidik dan membina anak menjadi generasi tangguh.
Maka tugas orang tua sekarang yang paling penting adalah tampil sebagai panutan bagi anak-anaknya, terutama di rumah dan dilingkungan sekitar.
Selain itu, orang tua perlu menekankan akan pentingnya penanaman akidah dan tauhid. Dari penanaman akidah dan tauhid yang baik akan melahirkan akhlak yang baik. Dan akhlak yang baik itulah karakter yang baik.
Termasuk menyiapkan intelektualitas anak. Sebab bagaimanapun, bahwa ke depan ilmu akan menjadi rujukan dan standar. Maka jangan sampai kemudian, generasi Islam ketinggalan dan jauh dari keilmuan.
Berikutnya, anak dibiasakan untuk gemar melakukan amal saleh. Gemar untuk melakukan hal yang baik. Kalau hal yang jelek, tidak usah diajarkan biasanya anak akan tahu dengan sendirinya, karenanya membiasakan anak untuk senang melakukan kebaikan menjadi modal selanjutnya untuk melahirkan generasi tangguh. Caranya sederhana, yaitu memulainya dari hal yang kecil, seperti membiasakan untuk selalu mengucapkan terima kasih bila diberi, minta maaf bila salah, dan minta tolong jika butuh bantuan. Termasuk meminta restu atau izin orangtua ketika hendak pergi atau melakukan sesuatu.
Kemudian, adalah membiasakan anak untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya. Ini kelihatannya mudah tapi pada dasarnya butuh latihan, butuh pembiasaan. Dalam ungkapan bahasa Indonesia disebutkan, Alah Bisa Karena Biasa. Jadi sesuatu itu menjadi mudah karena sering dibiasakan, dan diulang-ulang.
Terakhir, anak harus memiliki sikap yang bersungguh-sungguh. Kesungguhan merupakan dorongan dari dalam diri yang kuat. Dengan kesungguhan maka jalan dan cita-cita akan terbuka. Kalau kita boleh jujur, kadar kesungguhan kita belumlah di level maksimal, itu sebabnya mungkin kita belum bisa lahir sebagai generasi ungggul dan belum juga mampu melahirkan generasi penerus yang unggul. Maka sekali lagi, bersungguh-sungguhlah.
Sumber: Laman Suara Muhammadiyah
Contoh Ceramah Ramadhan Singkat #4
Judul: Rezeki Sudah Ditentukan, Namun Ikhtiar Tetap Wajib
Berbicara mengenai rezeki maka ada satu hal yang perlu disadari bersama, bahwa rezeki itu tidak terbatas pada materi saja. Keimanan dan keislaman juga termasuk rezeki, sehingga sama-sama patut disyukuri, serta juga mesti diusahakan semaksimal mungkin.
Dalam agama dikenal dengan istilah hidayah, yaitu sebuah kesadaran terhadap petunjuk ilahi. Sebagai kesadaran maka tidak semua orang memilikinya. Begitu juga ketika sudah terpatri di dalam hatinya kesadaran tersebut mempunyai tingkatan yang berbeda-beda. Orang beriman pun demikian; kesadarannya terhadap petunjuk ilahi cukup beragam.
Maka dari itu agama mengajarkan untuk mengupayakannya semaksimal mungkin demi mencapai level kesadaran atau keimanan yang tinggi sehingga semakin dekat dengan Tuhan. Di dalam al-Quran disebutkan:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Artinya: “dan orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami,” (QS. al-Ankabut: 69).
Singkatnya, hidayah selaku rezeki dari Allah harus dicari dan diusahakan dengan totalitas. Begitu juga rezeki yang lain seperti kesehatan dan kesempatan. Kedua rezeki ini seringkali dianggap biasa saja sehingga tidak digunakan sebagaimana mestinya. Nabi Muhammad di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi bersabda:
نِعْمَتانِ مَغْبُونٌ فِيهِما كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ والفَراغُ
Artinya: “Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia: kesehatan dan kesempatan,” (HR At-Tirmidzi).
Syekh Al-Mubarakfuri di dalam kitabnya, Tuhfatul Ahwadzi, juz 6 hal. 485 mengatakan bahwa banyak manusia melupakan kedua nikmat ini karena dinilai tidak perlu muluk-muluk mengusahakannya. Mereka baru menyadarinya saat kedua nikmat ini sirna, baik ketika di dunia terlebih di akhirat nanti.
Padahal mestinya kedua rezeki tersebut juga seyogyanya diusahakan dengan maksimal. Maka ketika memperolehnya digunakan untuk hal-hal positif, sedangkan ketika hilang maka harus dicari dengan berobat misalnya, atau mengatur pembagian waktu agar disiplin dalam menjalankan berbagai kewajiban, khususnya dalam beragama.
Hal ini juga berlaku pada rezeki yang berwujud materi dengan segala medianya seperti pekerjaan dan jabatan. Umat Islam mestinya tidak boleh berhenti pada slogan ‘rezeki terserah Allah’, ‘rezeki sudah diatur’, ‘ada rezekinya masing-masing’, dan yang slogan yang serupa lainnya.
Ungkapan-ungkapan tersebut memang tidak sepenuhnya salah, tapi menelan mentah-mentah juga menjadi bermasalah. Dalam pandangan Ahlussunnah wal Jamaah rezeki memang sudah ditetapkan Allah tapi manusia tetap harus berusaha, berikhtiar dalam istilah agama.
Sebab tidak ada seorang pun yang mengetahui kadar dan jatah rezekinya tanpa ada usaha. Bila hanya berdiam saja di rumah maka rezekinya akan berbeda dibandingkan keluar rumah. Begitu juga pekerjaan dan jabatan yang diduduki akan berbeda rezekinya antara yang bekerja ala kadarnya dengan yang mengoptimalkan kompetensinya.
Hal ini sejalan dengan firman Allah yang berbunyi:
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra’d:11).
Pada hakikatnya, tugas utama manusia bukanlah memikirkan jatah rezekinya, melainkan berupaya mencarinya dengan sungguh-sungguh. Dalam perspektif sosiologis, usaha yang serius dan konsisten mencerminkan interaksi manusia dengan lingkungan sosialnya, di mana kerja keras dan dedikasi menjadi nilai yang dihargai dalam masyarakat.
Semakin besar keseriusan seseorang dalam berusaha, semakin besar pula peluang rezekinya mengalir melimpah, sebagaimana yang dikenal sebagai sunnatullah, alias hukum alam yang juga sering dirangkum dalam pepatah “usaha tidak akan mengkhianati hasil.”
Namun, perlu dipahami bahwa “matematika Allah” berbeda dengan logika perhitungan manusia. Dalam konteks sosiologis, rezeki tidak hanya bergantung pada usaha individu semata, tetapi juga dipengaruhi oleh struktur sosial, kesempatan yang tersedia, serta hubungan antar manusia dalam masyarakat. Tuhan menilai ikhtiar seseorang berdasarkan proses dan ketekunannya, lalu memberikan rezeki sesuai kapasitas dan konteks kehidupan individu tersebut.
Dengan demikian, kekhawatiran berlebihan terhadap rezeki menjadi tidak relevan, selama manusia terus mengembangkan potensi dan bakatnya. Kondisi sosial dan struktur masyarakat menunjukkan bahwa pengembangan diri ini sering kali sejalan dengan peningkatan status sosial dan ekonomi, karena kapasitas individu yang meningkat akan diakui dan diterima oleh lingkungan sekitarnya secara sistemik.
Oleh karena itu, pola pikir manusia perlu diubah: bukan sekadar “yang penting berusaha” sebagai formalitas, tetapi “berusaha itu penting” sebagai prinsip hidup yang mendorong keseriusan dan komitmen. Dalam realitas sosial, sikap ini akan mendorong seseorang untuk keluar dari zona nyaman, yang kerap menjadi jebakan.
Zona nyaman dapat menciptakan stagnasi, baik dalam produktivitas individu maupun dalam dinamika sosial, termasuk dalam aspek rezeki yang bersifat materi. Ketika seseorang berhenti bergerak maju, ia juga kehilangan peluang untuk beradaptasi dengan perubahan sosial dan ekonomi di sekitarnya.
Maka, dengan keseriusan berusaha, manusia tidak hanya mengejar rezeki, tetapi juga membangun peran aktif dalam masyarakat yang dinamis. Wallahu a’lam.
Oleh: Ustadz M Syarofuddin Firdaus, Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat.
Sumber: Laman NU Online
Contoh Ceramah Ramadhan Singkat #5
Judul: Selalu Ada Solusi pada Setiap Kesulitan Hidup
Siklus hidup manusia tentu tak lepas dari aspek emosional dan spiritual. Seperti halnya Allah SWT menciptakan kesulitan dan kemudahan yang membaur dengan hal ihwal manusia di dunia. Namun, semua hal di dunia akan berubah dan sirna kecuali dzat Allah SWT yang Maha Agung.
Setali tiga uang dengan pepatah “hidup bagaikan roda yang berputar.” Ada kalanya suatu hal berada di atas, sementara yang lain di bawah. Begitulah siklus kehidupan yang terus berulang.
Begitu pula kesulitan dan kemudahan. Keduanya merupakan ciptaan Allah yang bertolak belakang namun beriringan adanya. Sebagaimana firman Allah SWT:
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ٥ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ ٦
Fa inna ma’al-‘usri yusrâ. Inna ma’al-‘usri yusrâ.
Artinya: “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan (5) sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan (6)”
Al-Qur’an mengulang kata ‘usr (kesulitan) sebanyak tiga kali bersamaan dengan kata yusr (kemudahan). Kata al-‘usr berasal dari akar kata ‘asara yang berarti sulit atau berat. Adapun kata “yusr” berasal dari akar kata “yasara” yang berarti mudah.
Dalam kajian semiotik, konotasi makna al-‘usr merujuk pada kesulitan dalam berbagai aspek kehidupan atau musibah secara umum, baik yang bersifat material maupun abstrak. Sementara itu, yusr bermakna kemudahan yang luas, dengan makna yang dapat bervariasi.
Selanjutnya, kata ma’a dalam ayat tersebut bermakna bersama, yang menunjukkan keterikatan antara kesulitan dan kemudahan. Manusia yang bertahan dengan kesulitan perlahan akan menemui kemudahan.
Jadi istilah kemudahan datang setelah kesulitan menjadi kurang tepat dalam hal ini. Karena kesulitan dan kemudahan beriringan dan berkaitan erat. Untuk itu, lafaz ma’a sangat ideal untuk mendeskripsikan kelekatan keduanya, bukan ba’da (setelah) atau bahkan bayna (di antara).
Hakikatnya, sebuah kesulitan terasa pahit karena adanya kemudahan yang pernah dirasakan manusia, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, dalam potongan ayat surat At-Takatsur, digunakan diksi “bersama” untuk menunjukkan bahwa keduanya saling berkesinambungan.
Refleksi Surat Al-Insyirah Ayat 5-6
Ayat ini menunjukkan sisi spiritualitas mendalam, bahwasanya sebenar-benarnya support system terbaik hanyalah Allah SWT. Asbabun nuzul atau sebab turunnya surat ini juga untuk menghibur Nabi Muhammad SAW menghadapi beratnya lika-liku dakwah. Selain itu, Allah juga ingin menunjukkan kasih sayang-Nya kepada seluruh umat manusia.
Allah SWT tidak diam melihat hamba-Nya berada dalam kesulitan. Maka, Ia ciptakan pula kemudahan sebagai penyeimbangnya. Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa adanya pengulangan pada ayat 5-6 surat Al-Insyirah mengarah kepada bentuk tegas Allah terhadap apa yang disampaikan. (Al-jami’ li ahkam al-Qur’an, [Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, 2014], hlm. 73).
Allah menegaskan bahwa kepastian datangnya kemudahan selalu menyertai setiap kesulitan yang dialami manusia. Hal ini dapat dilihat dari kisah para nabi yang menghadapi ujian dan cobaan luar biasa, namun selalu mendapatkan pertolongan dari Allah.
Misalnya, Allah menguji Nabi Adam AS melalui perselisihan kedua putranya, Qabil dan Habil, yang berujung pada pertumpahan darah akibat dengki. Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS pun menghadapi ujian berat dengan istri-istri mereka yang durhaka.
Nabi Ibrahim AS diuji dengan siksaan penguasa zalim yang membakarnya di hadapan kaumnya. Nabi Musa AS dalam perjalanan dakwahnya harus berhadapan dengan Fir’aun, seorang penguasa tiran yang bahkan mengaku sebagai Tuhan. Begitu pula Nabi Muhammad SAW yang menghadapi berbagai hinaan dan penolakan dari kaum kafir Quraisy dalam menyebarkan risalah Islam.
Allah SWT Maha Berkehendak dan Berkuasa atas segala sesuatu. Dia tidak menciptakan kesulitan tanpa tujuan. Bahkan, sebelum menghadirkan cobaan, Allah telah menenangkan hamba-Nya dengan firman-Nya: Laa yukallifu Allahu nafsan illa wus’aha-Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya.
Sebagai bentuk kasih sayang-Nya, Allah SWT juga menurunkan syariat rukhshah (keringanan) bagi umat Islam yang berada dalam kondisi sulit. Di sela-sela kewajiban yang telah ditetapkan, terdapat kemudahan yang menunjukkan kelembutan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya.
Kemudahan-kemudahan ini menunjukkan bahwa dalam setiap kesulitan, selalu ada solusi yang diberikan oleh Allah. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, setiap ujian dan tantangan yang datang pasti diiringi dengan jalan keluar. Allah tidak membiarkan hamba-Nya terjebak dalam kesulitan tanpa memberi celah kemudahan.
Karena itu, dalam menghadapi berbagai problem kehidupan, kita tidak boleh berputus asa. Alih-alih berlarut dalam kesedihan, kita perlu meyakini bahwa Allah selalu memberikan jalan keluar bagi mereka yang bersabar dan berusaha. Dengan keimanan yang kokoh serta keyakinan terhadap rahmat-Nya, kita akan lebih mudah menghadapi ujian hidup dengan penuh ketabahan dan optimisme.
Semoga kita selalu termasuk dalam golongan orang-orang yang mampu melihat kemudahan di balik setiap kesulitan, serta senantiasa berpegang teguh pada petunjuk Allah dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Wallahu a’lam.
Oleh: Ustadz Sayyida Naila Nabila, Pegiat Kajian Keislaman.
Sumber: NU Online
Contoh Ceramah Ramadhan Singkat #6
Judul: Jangan Lewatkan Waktu Terbaik untuk Kembali kepada Allah
Sebagai manusia, kesalahan dan dosa adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dosa kepada Allah dengan meninggalkan kewajiban dan melakukan larangan-Nya, meskipun bagi sebagian kalangan hal ini jarang terjadi.
Di sisi lain, hati manusia masih sering merasa tidak menerima ketentuan Allah, berprasangka buruk terhadap-Nya, merasa tidak puas atas pemberian-Nya, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk menghapus kesalahan dan dosa dengan berbagai cara, seperti istighfar, berbuat baik, dan sebagainya. Allah memahami kelemahan manusia dalam menghindari kesalahan dan dosa, sehingga Dia telah mempersiapkan ampunan yang begitu besar. Hal ini ditegaskan dalam surat Ali ‘Imran ayat 133:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
Syekh asy-Sya’rawi menjelaskan dalam kitab Tafsirnya, atau sering disebut dengan Khawathirusy Sya’rawi, Juz 3, halaman 1752, bahwa menggapai ampunan Allah tidak bisa ditunda-tunda, karena manusia tidak dapat mengetahui apakah ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan ampunan Allah di hari esok atau tidak. Manusia tidak tahu kapan ia akan meninggalkan dunia, sehingga harus mempersiapkan kehidupan setelah kematian agar mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan di fase kehidupan berikutnya.
Bulan Ramadhan merupakan bulan suci, mulia, penuh berkah, dan kebaikan. Salah satu kebaikan yang Allah berikan di bulan Ramadhan adalah ampunan-Nya. Oleh karena itu, bulan ini harus dimanfaatkan secara maksimal untuk menggapai ampunan Allah. Nabi bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihul Bukhari, Juz 1, halaman 16:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barang siapa yang berpuasa dengan penuh keyakinan dan mengharapkan pahala, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
Hadits ini menggambarkan betapa Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Pemaaf, dengan memberikan ampunan terhadap seluruh dosa seseorang yang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan penuh keyakinan dan mengharapkan rida-Nya.
Dosa yang akan diampuni tidak disebutkan secara spesifik dalam hadits ini, sehingga beberapa ulama memahami bahwa kata “dosa” dalam hadits ini mencakup seluruh dosa seseorang. Namun, mayoritas ulama berpendapat, berdasarkan dalil dan ketentuan agama lainnya, bahwa yang diampuni adalah dosa kepada Allah. Hal ini ditegaskan oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari, Juz 4, halaman 116:
وَقَوْلُهُ مِنْ ذَنْبِهِ اسْمُ جِنْسٍ مُضَافٌ فَيَتَنَاوَلُ جَمِيعَ الذُّنُوبِ إِلَّا أَنَّهُ مَخْصُوصٌ عِنْدَ الْجُمْهُورِ
Artinya: “Sabda Nabi ‘dari dosanya’ merupakan nama suatu jenis yang disandarkan pada seseorang, sehingga mencakup seluruh dosa, meskipun mayoritas ulama berpendapat bahwa hanya dosa-dosa tertentu yang dimaksud dalam hadits ini.”
Dengan menahan makan, minum, dan berhubungan suami istri, yang merupakan rukun puasa, seseorang dapat mendapatkan ampunan Allah dari dosa-dosa kecil yang telah dilakukan, serta memiliki harapan untuk mendapatkan ampunan dari dosa-dosa besar.
Hal ini karena Allah melihat kebaikan manusia sebagai sesuatu yang perlu diapresiasi dengan yang lebih baik. Oleh karena itu, selain diberikan pahala karena melaksanakan ibadah puasa dengan baik, manusia juga diberikan pengampunan atas dosa-dosa yang telah lalu.
Allah menilai kebaikan manusia sebagai perwujudan tekad untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, sehingga kesalahannya patut diampuni. Perbuatan baik dapat menghapus perbuatan buruk, sebagaimana firman Allah dalam surat Hud ayat 114:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
Artinya: “Sesungguhnya kebaikan dapat menghapuskan kesalahan.”
Seluruh amal ibadah yang dilakukan seorang hamba di bulan Ramadhan, seperti puasa, shalat malam (Tarawih dan Witir), menghidupkan malam Lailatul Qadar, dan sebagainya, akan menghasilkan ampunan Allah.
Ada alasan kuat mengapa Allah memberikan ampunan melalui ibadah Ramadhan, yaitu bahwa ampunan merupakan rahasia Allah yang diberikan kepada orang-orang pilihan-Nya. Dalam hal ini, Imam Al-Mula ‘Ali al-Qari mengutip pendapat Imam ath-Thibi dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih, Juz 4, halaman 1362:
وَقَالَ الطِّيبِيُّ: رَتَّبَ عَلَى كُلٍّ مِنَ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ أَمْرًا وَاحِدًا، وَهُوَ الْغُفْرَانُ تَنْبِيهًا عَلَى أَنَّهُ نَتِيجَةُ الْفُتُوحَاتِ الْإِلَهِيَّةِ وَمُسْتَتْبَعٌ لِلْعَوَاطِفِ الرَّبَّانِيَّةِ قَالَ – تَعَالَى – ﴿إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا – لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ﴾ [الفتح: ١ – ٢] الْآيَةَ
Artinya: “Imam Ath-Thibi berkata, Nabi menyatukan tiga perkara (puasa, mendirikan salat malam, dan menghidupkan malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan) dengan satu hal, yaitu ampunan Allah. Hal ini bertujuan untuk menegaskan bahwa ampunan Allah adalah hasil dari penyingkapan Ilahi dan buah dari sifat kelembutan Tuhan, sebagaimana Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Kami telah membukakan kemenangan yang nyata bagimu – supaya Allah mengampunimu’ (Al-Fath: 1-2).”
Semoga puasa Ramadhan tahun ini menjadi ajang bagi kita untuk mendapatkan ampunan Allah, sehingga kita kembali suci dan bersih dari segala macam noda, sebagaimana saat kita dilahirkan ke dunia. Amin, ya Rabbal ‘alamin.
Oleh: Dr Fatihunnada Lc MA, Dosen Fakultas Dirasat Islamiyyah wal ‘Arabiyyah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sumber: Website NU Online
Contoh Ceramah Ramadhan Singkat #7
Judul: Bahaya Fitnah: Renungan Ramadhan untuk Menjaga Lisan dan Hati
Ramadhan, bulan penuh berkah, waktu yang tepat bagi kita untuk merenung dan memperbaiki diri, salah satunya di bulan suci ini adalah bagaimana menjaga lisan kita agar tidak terjerumus dalam dosa besar, seperti fitnah.
Sebuah kisah inspiratif yang menggambarkan betapa berbahayanya fitnah bagi diri seseorang. Kisah ini mengisahkan seorang murid yang melontarkan fitnah kepada gurunya. Setelah menyadari kesalahannya, sang murid memohon maaf kepada gurunya, dan sang guru pun menyanggupi permohonan itu dengan satu syarat yang cukup berat.
Kemudian sang guru berkata, “Sekarang kamu kembalilah kerumah dan besok kembali lagi sambil engkau cari dan kumpulkan bulu ayam yang sudah engkau cabut dari kemocengnya!” Sang murid terkejut, mana mungkin?!
Tapi karena ini adalah perintah guru, maka ia berusaha dan keesokan harinya ia kembali ke tempat guru dan menyatakan, “Mohon maaf pak guru, saya hanya bisa mengumpulkan tiga helai dari bulu ayam yang telah saya saya lepaskan dari kemoceng.”
Sang guru tersenyum sambil berkata, “Begitulah fitnah yang telah engkau sebarkan tentang diriku, bagaimana engkau akan kembali menarik semua ucapan yang telah engkau sebarkan.”
Pelajaran dari kisah ini hati-hatilah dengan fitnah, dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah 191 : “Wal fitnatul asyaddu minal qotli (Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan).”
Karena ketika orang difitnah tidak hanya fisiknya yang mati tapi juga psikologis, keluarga, semuanya akan mengalami dampaknya, oleh karena itu di bulan Ramadhan ini, mari kita jaga. Karena puasa sejatinya tidak hanya sekedar menahan lapar, dan dahaga saja, tetapi puasa juga harus mampu menahan semua yang bisa membatalkan puasa.
Tidak hanya membatalkan dari puasa itu sendiri, secara fiqih mungkin ketika kita mampu menahan lapar, tidak makan dan minum, tidak melakukan hubungan suami istri disiang hari, mungkin sah puasa kita secara fiqih tetapi pahala puasa kita bisa saja hilang atau habis karena tidak mampunya menjaga lisan apalagi menyebar fitnah.
“Jangan sampai saudara kita mati raga fisiknya, mati perasaannya, mati secara sosialnya, gara-gara fitnah yang kita lontarkan, mulutmu harimau mu, maka jagalah!”
Mudah-mudahan kita tidak termasuk seperti kata Rasulullah “Betapa banyak orang yang puasa akan tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar, dan dahaga.” (HR An Nasa’i dan Ibnu Majjah)
Kita berdoa agar dibebaskan dari fitnah hidup dan mati, fitnah dunia dan akhirat. Untuk itu dianjurkan menambahkan do’a ditasyahud akhir ketika kita sedang sholat dengan membaca do’a ini : Allahumma inni audzubika min ‘adzabi jahannama wa min adzabil qabri wa min fitnatil mahya wal mamati, wa min syarri fitnatil masihid dajjal. Artinya: “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-masikh ad-Dajjal.” (HR Muslim)
Sumber: Laman resmi Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Contoh Ceramah Ramadhan Singkat #8
Judul: Keutamaan Puasa Ramadhan
Bulan suci Ramadhan merupakan kesempatan bagi setiap hamba Allah untuk lebih meningkatkan ketaqwaan dikarenakan bulan ini memiliki beberapa keutamaan atau manfaat seperti berikut ini, Ramadhan bulan diturunkan nya Al-Qur’an Ramadhan merupakan syahrul Qur’an (bulan Al-Qur’an).
Diturunkannya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan menjadi bukti nyata atas kemuliaan dan keutamaan bulan Ramadhan. Allah Swt berfirman yang artinya:
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS Al-Baqarah: 185)
Bulan yang penuh berkah ini keutamaan Ramadhan yang pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mensabdakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Bulan penuh keberkahan, Bulan ini disebut juga dengan bulan syahrun mubarak.
Hal ini adalah berdasarkan pada dalil hadist Nabi Rasulullah SAW yang artinya:
“Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian..” (HR Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).
Dan juga bahwa setiap ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan, maka Allah akan melipat gandakan pahalanya.
Dengan berbagai keistimewaan yang sudah dijelaskan, maka umat Islam dianjurkan melakukan sejumlah amalan amalan berikut:
1. Tadarus Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 185 dijelaskan bahwa diantara amal kebaikan yang sangat di anjurkan pada bulan Ramadhan adalah tadarus Al-Qur’an, dengan cara membaca, merenungkan, menelaah, dan memahami wahyu-wahyu Allah yang turun pertama kali pada bulan Ramadhan.
2. Memperbanyak Zikir
Zikir adalah ibadah yang bisa dilakukan dimana saja. Selain puasa dan Membaca Al-Qur’an, perbanyak zikir juga termasuk amalan yang dianjurkan pada bulan Ramadhan.
3. Memberi Makan Orang yang Berbuka Puasa
Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa memberi makan dan minuman dari hasil yang halal kepada orang yang berpuasa, maka para malaikat akan mendoakannya di saat saat tertentu di bulan Ramadhan”. Dan malaikat Jibril akan mendoakannya di Malam Lailatul Qadar.
4. Perbanyak Shalat Sunnah
Pada 10 hari pertama di bulan Ramadhan, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak shalat sunnah. Diantara shalat yang bisa dikerjakan antara lain tarawih, witir, dhuha, shalat sunnah rawatib, hingga ibadah qiyamul lail atau shalat tahajud.
Sumber: Laman Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku
Contoh Ceramah Ramadhan Singkat #9
Judul: Surga Dikelilingi Ujian, Neraka Dikelilingi Kenikmatan
Siapa yang tidak menginginkan surga? Hampir semua umat Muslim mendambakannya. Dalam Islam, surga digambarkan sebagai tempat dengan keindahan dan kenikmatan yang tiada bandingannya. Surga adalah tempat mulia yang dijanjikan Allah Ta’ala bagi hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.
Namun, Rasulullah SAW telah menggambarkan bahwa jalan menuju surga penuh dengan halangan dan rintangan. Sebagaimana sabda beliau:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Artinya: “Sungguh surga dikelilingi kesulitan-kesulitan, sedangkan neraka kebalikannya, artinya dikelilingi oleh keinginan hawa nafsu.” (Mutafaq alaihi)
Ibnu Katsir menjelaskan arti kata “makarih” dalam kitabnya Al-Bidayah wan Nihayah jilid 20 hal 387:
وَهِىَ الْأَعْمَالُ الشَّاقَّةُ عَلَى الْأَنْفُسِ مِنْ فِعْلِ الْوَاجِبَاتِ وَالْمُسْتَحَبَّاتِ وَتَرْكِ الْمُحَرَّمَاتِ وَالصَّبْرِ عَلَى الْمَكْرُوهَاتِ
Artinya: “Yaitu amal-amal yang berat bagi jiwa, seperti melaksanakan kewajiban dan amalan sunnah, meninggalkan perkara yang diharamkan, serta bersabar atas hal-hal yang tidak disukai.”
Maknanya, surga bukanlah sesuatu yang mudah untuk digapai, tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil. Diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk meraihnya. Terlebih lagi, sebagai manusia, kita sering kali lalai dan lupa. Kita juga memiliki hawa nafsu yang senantiasa mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, bahkan menjerumuskan ke dalam kemaksiatan.
Khusus mengenai hawa nafsu, Baginda Nabi mendeskripsikannya sebagai musuh yang paling sulit dikendalikan, karena berada dalam diri sendiri, bagaikan musuh dalam selimut. Beliau bersabda:
أَعْدَى عَدُوِّكَ نَفْسُكَ الَّتِي بَيْنَ جَنْبَيْكَ. أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ
Artinya: “Musuh terbesarmu adalah nafsumu sendiri yang berada dalam dirimu,” (HR Baihaqi)
Banyak riwayat menyebut hawa nafsu sebagai musuh terberat karena harus dilawan dari dalam diri sendiri. Kita mungkin mudah melawan orang lain atau hewan buas yang terlihat, tetapi hawa nafsu sulit dikendalikan.
Sebab, mata kita lebih sering melihat aib orang lain daripada diri sendiri, telinga lebih peka terhadap kesalahan orang lain, dan lisan mudah mencela serta menggunjing, namun cepat mencari pembelaan saat diri sendiri bersalah.
Begitulah sifat hawa nafsu. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Futuhul Ghaib lil Imam Syatibi jilid 16 hal 157:
وَعَنْ أَبِي بَكْرِ الوَرَّاقِ: النَّفْسُ كَافِرَةٌ فِي وَقْتٍ، مُنَافِقَةٌ فِي وَقْتٍ، مُرَائِيَّةٌ فِي وَقْتٍ، وَعَلَى الأَحْوَالِ كُلِّهَا هِيَ كَافِرَةٌ، لِأَنَّهَا لَا تَأْلَفُ الحَقَّ أَبَدًا، وَهِيَ مُنَافِقَةٌ لِأَنَّهَا لَا تَفِي بِالوَعْدِ، وَهِيَ مُرَائِيَةٌ لِأَنَّهَا لَا تُحِبُّ أَنْ تَعْمَلَ عَمَلًا، وَلَا تَخْطُوَ خَطْوَةً إِلَّا لِرُؤْيَةِ الخَلْقِ؛ فَمَنْ كَانَ هَذِهِ صِفَاتَهُ، فَهِيَ حَقِيْقَةٌ بِدَوَامِ المَلَامَةِ لَهَا
Artinya: “Dan dari Abi Bakr Al-Warraq: hawa nafsu itu kafir pada satu waktu, munafik pada waktu lain, dan selalu riya’ atau pamer dalam penampilannya pada waktu lain. Dan dalam semua keadaan, hawa nafsu itu kafir, karena tidak pernah mencintai kebenaran, munafik karena tidak pernah menepati janji, dan selalu pamer dalam penampilannya karena tidak pernah melakukan sesuatu kecuali untuk dilihat oleh orang lain. Maka siapa saja yang memiliki sifat-sifat ini, maka ia berhak untuk terus-menerus dicela.”
Namun, kita juga harus menyadari bahwa tanpa nafsu, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Nafsu ibarat kendaraan, dengannya kita dapat menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan. Oleh karena itu, hawa nafsu harus ditundukkan dengan sungguh-sungguh.
Mengendalikan hawa nafsu tidak mungkin dilakukan tanpa memaksanya untuk taat dan bersabar dalam meninggalkan apa yang diinginkannya. Sebagaimana isyarat yang disampaikan oleh Imam Bushiri dalam Qasidah Burdah-nya:
وَالنَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى # حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ
Artinya: “Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan tanpa kau sapih, maka akan beranjak remaja dengan tetap suka menyusu. Namun bila engkau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri.”
Maknanya bahwa nafsu hanya bisa dikendalikan dengan memaksanya untuk berhenti menginginkan sesuatu. Inilah yang dimaksud dari hadits di atas, bahwa yang terberat dari diri kita untuk menggapai surga adalah proses memantaskan diri untuk menggapainya, sedangkan memantaskan diri yang paling sulit adalah mengendalikan hawa nafsu untuk selalu taat kepada perintah Allah, dan tentunya meninggalkan syahwat dan seluruh larangan syariat.
Terlebih saat ini, yakni di bulan Ramadhan, bulan di mana pintu pintu surga dibuka seluas-luasnya. Bulan yang tepat untuk kita jadikan sebagai ajang untuk berlatih memantaskan diri mendapatkan Rahmat Allah Ta’ala. Bagaimana tidak, di dalam puasa terdapat pelatihan untuk menundukkan nafsu. Sebagaimana penjelasan dalam kitab I’anatuth Thalibin jilid 2 halaman 299:
وَالصَّوْمُ مِنْ أَبْلَغِ الأَشْيَاءِ فِي رِيَاضَةِ النَّفْسِ، وَكَسْرِ الشَّهْوَةِ، وَاسْتَنَارَةِ القَلْبِ، وَتَأْدِيْبِ الجَوَارِحِ وَتَقْوِيْمِهَا وَتَنْشِيْطِهَا لِلْعِبَادَةِ. وَفِيْهِ الثَّوَابُ العَظِيْمُ، وَالجَزَاءُ الكَرِيْمُ الَّذِي لَا نِهَايَةَ لَهُ
Artinya: “Puasa adalah salah satu cara yang paling efektif dalam melatih jiwa, mematahkan nafsu, menerangi hati, mendidik anggota tubuh, serta memperbaiki dan menguatkannya untuk beribadah. Dalam puasa terdapat pahala yang sangat besar dan balasan yang mulia, yang tidak ada akhirnya”. Wallahu a’lam.
Oleh: Ustadz Abdul Karim Malik, Pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi dan Tenaga Pengajar Pondok Pesantren YAPINK Tambun-Bekasi.
Sumber: Situs NU Online
Contoh Ceramah Ramadhan Singkat #10
Judul: Ramadhan Sebagai Ajang Muhasabah Diri
Meningkatkan kualitas ketakwaan adalah sebuah keharusan bagi setiap umat Muslim, khususnya di bulan Ramadhan, bulan yang agung derajatnya, di mana pintu kebaikan dan pengampunan dibuka seluas-luasnya. Namun, sebagai manusia, kita harus sadar bahwa kita adalah makhluk yang tidak luput dari lupa dan alpa.
Intropeksi diri merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas ketakwaan dan memantaskan diri untuk mendapat pengampunan Allah Ta’ala. Jangan sampai di bulan yang luar biasa istimewa ini, seseorang tidak mendapat pengampunan dari Allah Ta’ala. Sebagaimana perkataan malaikat Jibril kepada Baginda nabi:
وَمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ; فَأَبْعَدَهُ اللّٰهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ
Artinya: “Siapa pun yang bertemu dengan bulan Ramadhan, lalu ia tidak mendapat pengampunan, semoga Allah menjauhkannya dari Rahmat-Nya. Katakanlah wahai nabi: “Aamiin” lalu nabi mengucap: “Aamiin”. (HR Thabrani)
Makna yang terkandung dalam hadits ini merupakan sebuah kabar gembira bahwa di bulan Ramadhan, pintu pengampunan Allah sangatlah terbuka luas, dan di dalamnya terdapat peringatan keras betapa merugi seseorang yang tidak memanfaatkan bulan yang penuh akan pengampunan ini.
Introspeksi di beberapa hari yang tersisa hari bulan Ramadhan ini penting, karena ini merupakan proses refleksi atau analisis diri untuk mengukur seberapa maksimal kita menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.
Seyogyanya bagi umat Muslim, muhasabah nafs (introspeksi diri) dilakukan dengan serius dan istiqamah. Pasalnya, muhasabah merupakan amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۚ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS Al-Hasyr 18).
Jika kita membaca ayat tersebut, kita seolah-olah sedang ditanya, “Apa yang telah engkau capai hari ini dibandingkan dengan hari sebelumnya? Dan apa yang akan engkau lakukan saat ini untuk kebaikan di masa yang akan datang? Terlebih lagi, bekal apa yang telah dipersiapkan untuk kehidupan kelak di akhirat?”
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya senantiasa menghantui hati setiap orang beriman. Dengan merenungkannya, kita akan menyadari di mana posisi kita saat ini, untuk apa kehidupan ini diberikan, dan ke mana arah perjalanan kita setelahnya.
Orang yang cerdas adalah mereka yang selalu memperhatikan bekal kehidupannya. Sedangkan orang yang bijak adalah mereka yang dengan serius mempersiapkan bekal yang akan dibawa setelah kehidupan ini berakhir.
Sayyidina Umar bin Khattab ra pernah berwasiat agar senantiasa melakukan introspeksi diri:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا
Artinya: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”
Hisab adalah rangkaian peristiwa yang akan dialami oleh setiap makhluk kelak di hari kiamat. Pada hari itu, semua amal perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meringankan hisab adalah keharusan bagi orang-orang mukmin. Sebab, dalam perhitungan amal nanti, setiap orang akan menghadapi hisabnya sendiri tanpa bantuan siapa pun.
Bayangkan bagaimana takutnya kita ketika diinterogasi oleh seseorang yang kita segani di dunia. Hisab di hari kiamat jauh lebih dahsyat dari itu, Allah SWT sendiri yang akan mengadili, meminta pertanggungjawaban atas setiap amal perbuatan kita, serta menanyakan bagaimana nikmat-nikmat yang telah diberikan digunakan: apakah dalam ketaatan atau malah kemaksiatan? Perlu diketahui, pada hari kiamat nanti, Allah SWT akan menampakkan salah satu Asma-Nya, Al-Muntaqim, Dzat Yang Maha Membalas.
Salah satu cara terbaik untuk melakukan muhasabah adalah dengan shalat. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abul Hasan As-Syadzili, yang dinukil oleh Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam kitab Tajul ‘Arus, halaman 13:
كِلْ نَفْسَكَ وَزِنْهَا بِالصَّلَاةِ
Artinya: “Ukurlah dirimu dan timbanglah dengan shalat.”
Yakni, apabila nafsumu terkendali dan berhenti dari sifat liarnya karena shalat, maka engkau termasuk orang yang beruntung. Namun, jika sebaliknya (nafsumu tetap liar), maka menangislah atas dirimu, terutama ketika kakimu terasa berat untuk melangkah menuju shalat. Sebab, pernahkah engkau melihat seorang kekasih yang enggan bertemu dengan yang dirindukannya?
Maka, siapa pun yang ingin mengetahui derajat dan keadaannya di sisi Allah, hendaklah ia melihat bagaimana kualitas shalatnya.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang mukmin memperhatikan shalatnya, bukan hanya sebagai kewajiban yang diperintahkan oleh Allah, tetapi juga sebagai sarana untuk bermuhasabah. Terlebih di bulan Ramadhan, sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyid Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab An-Nasha’ih Ad-Diniyyah halaman 83:
“Bahwa ibadah-ibadah sunnah di bulan Ramadhan pahalanya sebanding dengan ibadah wajib di bulan lain, dan ibadah wajib di bulan Ramadhan pahalanya sebanding dengan tujuh puluh ibadah wajib di bulan lain.” Wallahu a’lam.
Oleh: Ustadz Abdul Karim Malik, Pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi, dan Tenaga Pengajar Pondok Pesantren YAPINK Tambun-Bekasi.
Sumber: NU Online
Contoh Ceramah Ramadhan Singkat #11
Judul: Pentingnya Doa, Zikir, dan Sholawat selama Ramadhan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, bulan di mana doa-doa akan dikabulkan, dan bulan di mana zikir menjadi salah satu amalan utama yang sangat dianjurkan.
Doa adalah sarana bagi kita untuk berkomunikasi dan meminta sesuatu kepada Allah, sedangkan zikir adalah mengingat Allah dengan puji-pujian, baik dilafalkan dengan suara maupun diucapkan dalam hati.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi…” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Oleh karena itu, marilah kita memperbanyak doa dan zikir selama bulan Ramadhan agar mendapatkan keberkahan dan ampunan dari Allah.
Ada banyak doa yang dianjurkan di bulan Ramadhan, mulai dari doa melihat hilal, doa makan sahur, doa berbuka puasa, doa memohon ampunan, dan masih banyak lagi. Di bulan ini, banyak-banyaklah berdoa dan meminta kepada Allah sebagai bentuk penghambaan kita sebagai manusia kepada Tuhannya.
Begitu juga dengan zikir. Kita bisa rutin mengucapkan:
Tasbih: Subhanallah (Maha Suci Allah)
Tahmid: Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah)
Tahlil: Laa ilaaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah)
Takbir: Allahu Akbar (Allah Maha Besar)
Istigfar: Astaghfirullahal ‘azhim (Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung)
Jangan lupa pula untuk sering-sering bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Selain mendapat rahmat dari Allah, shalawat memberi kesempatan bagi kita untuk mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW di hari akhir kelak.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Mari kita manfaatkan bulan Ramadhan ini untuk memperbanyak doa dan zikir. Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Contoh Ceramah Ramadhan Singkat #12
Judul: Sedekah dan Keutamaannya di Bulan Ramadhan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan ampunan. Bulan ini juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak pahala lewat amal-amal kebaikan.
Salah satu amal ibadah yang sangat dianjurkan di bulan ini adalah sedekah. Rasulullah SAW dikenal sebagai seseorang paling dermawan, dan beliau makin dermawan lagi ketika tiba waktunya bulan Ramadhan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis:
“Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya.” (HR Bukhari)
Sebagai umat Islam, sudah sepatutnya kita mencontoh perilaku Nabi Muhammad, khususnya dalam hal bersedekah. Jika di bulan-bulan lainnya kita bersedekah sebulan sekali, tentu akan lebih baik jika kita meningkatkan intensitas dan jumlah sedekah di bulan ini.
Sedekah pun memiliki banyak keutamaan, terutama di bulan Ramadhan. Sedekah adalah amalan baik yang mendatangkan pahala. Allah SWT berfirman:
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 261)
Sedekah juga bisa menghapus dosa dan membersihkan hati sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR Tirmidzi)
Jangan pernah takut hartanya berkurang hanya karena sedekah. Sedekah yang dilakukan secara ikhlas karena Allah justru akan mendatangkan lebih banyak keberkahan dan kelapangan rezeki. Tak hanya itu, sedekah juga bisa menjadi penolong bagi kita di hari akhir.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Sesungguhnya naungan seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR Ahmad)
Hadirin sekalian,
Tak ada alasan bagi kita untuk tidak bersedekah di bulan ini karena ada banyak cara untuk bersedekah, mulai dari memberikan makanan untuk berbuka puasa, menyumbangkan uang untuk fakir miskin dan anak yatim, bahkan senyuman dan memberi bantuan apapun juga dianggap sebagai sedekah.
Jadi, marilah kita manfaatkan bulan Ramadhan ini untuk memperbanyak sedekah. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang dermawan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Penutup
Demikian rangkaian contoh ceramah Ramadhan singkat yang dapat dijadikan referensi dalam menyampaikan dakwah di bulan suci. Setiap pesan yang terkandung di dalamnya mengajak kita untuk memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, serta terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Semoga melalui momentum Ramadhan ini, kita mampu memanfaatkan setiap waktu dengan ibadah dan kebaikan, sehingga meraih keberkahan, ampunan, dan ridha Allah SWT. Mari jadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan diri menuju kehidupan yang lebih bertakwa dan penuh manfaat bagi orang lain.
Sumber : Detik.com









