Di tengah ketidakpastian pasokan global dan meningkatnya tekanan biaya produksi, pelaku usaha mulai menghadapi tantangan baru dalam menjaga keberlangsungan bisnisnya.
Kenaikan harga plastik dan bahan kemasan dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Kondisi ini dinilai berdampak langsung pada pelaku usaha, khususnya sektor UMKM makanan dan minuman yang sangat bergantung pada bahan kemasan.
UMKM Tertekan akibat Lonjakan Harga
Dilansir dari laman kompas.com. Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar, Firnando Ganinduto, menyoroti bahwa kenaikan harga plastik dipicu oleh gangguan rantai pasok global serta tekanan di industri petrokimia.
Menurutnya, kondisi ini tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi sektor riil.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh membiarkan situasi ini berlarut tanpa kebijakan yang jelas.
UMKM Hadapi Dilema Harga Jual
Firnando menjelaskan bahwa pelaku UMKM kini berada dalam posisi sulit.
Di satu sisi, biaya produksi meningkat tajam, namun di sisi lain mereka tidak leluasa menaikkan harga jual karena berisiko kehilangan pelanggan.
Ia menilai lonjakan harga plastik yang bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat telah menekan margin keuntungan secara signifikan.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi melemahkan daya tahan usaha kecil serta memicu inflasi di sektor informal.
Fenomena Cost-Push Inflation
Kenaikan harga bahan baku plastik disebut sebagai contoh nyata dari fenomena cost-push inflation, di mana lonjakan biaya input memaksa pelaku usaha menanggung beban tambahan.
Dalam situasi ini, UMKM menjadi kelompok paling rentan karena keterbatasan daya tawar dan minimnya akses terhadap alternatif bahan baku.
Usulan Langkah Intervensi Pemerintah
Firnando mendorong pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan, untuk segera mengambil langkah strategis dalam menstabilkan harga.
Beberapa langkah yang diusulkan antara lain:
- Pengawasan distribusi bahan baku di pasar domestik
- Penguatan industri petrokimia dalam negeri
- Percepatan impor bahan baku dari negara produsen
- Koordinasi lintas kementerian untuk kebijakan jangka panjang
Langkah ini dinilai penting agar stabilitas harga tetap terjaga dan pelaku usaha tidak terus terbebani.
Harga Plastik Naik Hingga 50 Persen
Di lapangan, kenaikan harga plastik sudah dirasakan langsung oleh para pedagang.
Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mencatat lonjakan harga mencapai 50% dari kondisi normal.
Sekretaris Jenderal IKAPPI, Reynaldi Sarijowan, menyebutkan kenaikan terjadi secara bertahap sejak akhir Februari 2026.
Harga kantong plastik yang sebelumnya sekitar Rp10.000 kini melonjak menjadi Rp15.000, sehingga menambah beban biaya operasional pedagang.
Penyebab: Gangguan Pasokan Global
Kenaikan harga ini dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku, yang berkaitan dengan kondisi global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah.
Dampaknya, distribusi bahan baku menjadi terbatas dan harga melonjak di pasar domestik.
Kesimpulan
Lonjakan harga plastik telah memberikan tekanan besar bagi UMKM dan pedagang, terutama karena meningkatnya biaya produksi yang sulit diimbangi dengan kenaikan harga jual.
Pemerintah didorong untuk segera melakukan intervensi melalui kebijakan strategis guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan baku.
Tanpa langkah cepat, kondisi ini berisiko memperlemah sektor usaha kecil serta memicu inflasi yang lebih luas.
Sumber: https://nasional.kompas.com/read/

Komentar