Khutbah Sholat Idul Fitri merupakan bagian penting dalam rangkaian ibadah hari raya. Setelah pelaksanaan salat Id, jemaah dianjurkan untuk tetap berada di tempat guna menyimak khutbah yang disampaikan oleh khatib.
Khutbah ini bertujuan memberikan pencerahan, memperkuat keimanan, serta mengajak umat menuju kehidupan yang lebih baik.
Materi khutbah Idul Fitri tidak boleh mengandung unsur provokasi, kebencian, atau perpecahan. Sebaliknya, khutbah harus menjadi sarana dakwah yang menyejukkan dan mencerahkan umat.
Ciri Khas Khutbah Idul Fitri Muhammadiyah
Dalam praktiknya, terdapat beberapa perbedaan antara khutbah Idul Fitri Muhammadiyah dengan tradisi lainnya, di antaranya:
- Khutbah hanya dilakukan satu kali, tanpa jeda duduk di antara dua khutbah
- Tidak diawali dengan takbir, melainkan dengan tahmid (pujian kepada Allah)
- Berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri
- Diakhiri dengan doa, dengan khatib mengangkat tangan dan menggunakan isyarat jari telunjuk
Pendekatan ini menekankan kesederhanaan dan berlandaskan pada dalil yang kuat.
Makna Idul Fitri: Kembali ke Fitrah
Idul Fitri adalah momentum kemenangan setelah umat Islam menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan. Kemenangan ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga keberhasilan dalam mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan.
Allah SWT memberikan kebahagiaan di hari raya sebagai bentuk penghargaan atas kesungguhan umat dalam beribadah. Oleh karena itu, Idul Fitri menjadi waktu yang tepat untuk mensyukuri nikmat iman dan Islam.
Berikut ini naskah khutbah sholat Idul Fitri Muhammadiyah yang dapat Anda gunakan. Materi khutbah ini disusun oleh Prof. Dadang Kahmad, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Teks Khutbah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ: اَتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ، وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرِ أُمُوْرِ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ.
Hadirin yang berbahagia, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SwT, atas limpahan karunia-Nya yang tiada terhingga kepada kita sekalian, terutama nikmat iman dan Islam. Sehingga di pagi hari yang indah ini kita berkumpul bersama, bersimpuh di hadapan-Nya merayakan Idul Fitri,penetapan lebaran kali ini sesuai dengan ketetapan PP Muhammadiyah yang berbasis wujudulhilal.
Sesungguhnya masalah penanggalan bulan Hijriyah seharusnya sudah dianggap selesai jika kaum muslimin sudah mempunyai kalender tetap dan baku yaitu kalender Islam Global. Kapan tepatnya lebaran, apakah lima tahun ke depan bahkan duapuluh tahun ke depan sudah bisa diketahui dengan pasti melalui sitem hisab.
Karena di zaman modern seperti sekarang ini teknologi hisab sudah canggih, ilmu astronomi sudah sedemikian maju, sehingga peristiwa yang sifatnya rutin seperti awal bulan maupun gerhana, sudah dapat dihitung dengan lebih akurat dan pasti.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Alhamdulillah, pada hari ini Allah SwT memberikan kebahagian kepada kita dalam merayakan hari Idul Fitri 1447 H setelah kita semua bersusah payah selama sebulan dengan melaksanakan berbagai ibadah di bulan Ramadhan. Kenapa saya sebut susah payah dalam bulan puasa, karena dalam bulan itu kita semua menahan dorongan kesenangan duniawi di siang hari, untuk tidak makan dan minum serta bergaul dengan pasangan kita demi melaksanakan perintah Allah. Kita menderita kurang tidur karena malam dipakai ibadah yaitu melaksanakan shalat, qiroat, maupun ‘itikaf. Oleh karena itu, sepantasnya kita bersyukur telah bisa melewatinya dengan selamat, tanpa kekurangan sesuatu apapun.
Firman Allah::
أَيَّامٗا مَّعۡدُودَٰتٖۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدۡيَةٞ طَعَامُ مِسۡكِينٖۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيۡرٗا فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥۚ وَأَن تَصُومُواْ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS al-Baqarah 184-185).
Ramadhan bulan penuh semangat dan kontemplatif. Semangat dalam mengerjakan ibadah sehingga kita tidak merasa lelah dan malas melakukan ketaatan terhadap berbagai perintah Allah baik, puasa, shalat, zakat dan shadaqah serta berbagai kebaikan lainnya. Kualitas ibadahnyapun lebih terasa kepada batin sangat kontemplatif lebih khusuk dibandingkan dengan ibadah di bulan lainnya.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Pengalaman beribadah di bulan puasa sangat bermanfaat jika dilanjutkan pada bulan bulan selanjutnya. Diperlukan untuk membingkai kehidupan kita dari berbagai godaan dan halangan. Sebagaimana kita ketahui beragama pada masa sekarang penuh dengan berbagai tantangan. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah merubah sikap kepribadian dan prilaku manusia.
Dalam keadaan seperti itu perlu kita perhatikan untuk membatasi diri terhadap penggunaan gawai agar kita tidak kehilangan waktu dan kesempatan untuk melaksanakan ajaran agama dan melakukan kebaikan. Kalau kita terlena dengan berbagai tayangan di media digital yang ada sekarang ini, dikhawatirkan kita akan teralihkan kesempatan untuk berbuat kebaikan dan meraih kebahagian di dunia maupun di akhirat.
Firman Allah dalam surat ali Imron 196 cukup mengingatkan kita:
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ”
Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di seluruh negeri.” Untuk itu saya bacakan tiga resep Rasulullah yang sekiranya bisa menetralisir dampak negatif dari kehidupan akhir zaman sebagaimana sekarang ini. Sebagaimana hadis yang diterima oleh Muadz bin Jabbal ra:
Rasulullah saw telah bersabda :
اِتَّقِ اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَاَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah dimana dan kapan saja kalian berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan yang akan menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Ahmad) Ketiga resep dari Rasulullah saw tersebut merupakan mutiara yang jika kita praktekan insya Allah akan menyebabkan kita tetap istqamah di dalam Islam dan tidak banyak terpengaruh oleh gelombang kehidupan sekarang ini. Bertakwa kepada Allah dalam keadaan apapun dan posisi apapun, terus berbuat baik yang bermanfaat, dan selalu berakhlak yang baik dalam bergaul dengan sesama manusia. Kalau kita melihat seluruh kegiatan ibadah selama bulan Ramadhan yang lalu.. puasa dan shalat melatih kita untuk memperkuat ketakwaan kepada Allah ditambah dengan tadarus membaca Al-Qur’an, shadaqah, dan menolong orang kesusahan merupakan bagian dari kebaikan yang akan menghapus keburukan atau dosa yg telah kita lakukan.
Selama Ramadhan kita menjaga lisan, sikap maupun prilaku kepada sesama manusia sebagai bentuk ekspresi akhlak kita.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Di akhir khutbah ini saya ingin mengajak hadirin sekalian marilah kita tetap teguh dalam keislaman kita. Janganlah terbawa arus kehidupan dan terombang ambing oleh keadaan sekeliling kita. Kehidupan sekarang sangat memuja materi dan keberagamaan tanpa dalil syari yang kuat.
وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ
“Dan jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Alloh, yang mereka ikuti hanya persangkaan saja dan mereka hanya menyebarkan kebohongan.” (al-An’am 116).
Ke depan kemungkinan kebencian terhadap kaum muslimin akan makin meningkat, dengan berbagai cara yang di ekspresikan melalui kultural maupun struktural. Ke depan godaan terhadap iman dan keislaman kita akan semakin luar biasa yang didukung oleh kecanggihan tehnologi informasi. Oleh karena itu bersabarlah atas cobaan dan hendaknya kita dan keluarga selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah, istiqamah dalam menghadapi kehidupan, Mantapkan ukhuwah Islamiyah hindari konflik dan saling menyalahkan sesama umat, Tekunlah melaksanakan ibadah.
Dan ingatlah selalu bahwa hidup kita ini terbatas, sebentar waktunya, dan kita akan kembali kahdirat-Nya dan mempertanggungjawabkan atas segala yang telah kita lakukan Gunakan umur yang tersisa ini untuk melakukan yang bermanfaat, melindungi keluarga dan masyarakat. Sungguh alangkah indahnya sisa hidup kita ini, adalah hidup yang dipenuhi dengan kasih sayang Allah, umur yang dipenuhi barakah Allah, hari-hari yang akan kita lalui penuh dengan maghfirah dan rahmat Allah SwT. Akhirnya marilah kita memanjatkan do’a kehadirat Allah SwT. Mudah mudahan Allah berkenan mengabulkan doa kita.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ . اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.
Penutup: Memanfaatkan Sisa Umur dengan Kebaikan
Khutbah ditutup dengan ajakan untuk memanfaatkan sisa umur dengan sebaik-baiknya. Kehidupan yang singkat harus diisi dengan amal kebaikan, menjaga keluarga, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Harapannya, setiap Muslim dapat menjalani hidup yang penuh berkah, ampunan, dan kasih sayang dari Allah SWT, serta kembali kepada-Nya dalam keadaan terbaik.

Komentar