Berita Informasi
Beranda / Informasi / Kapan Lebaran Idul Fitri 2026? Ini Perkiraan Tanggal Lebaran Versi NU, Muhammadiyah, BRIN, dan BMKG

Kapan Lebaran Idul Fitri 2026? Ini Perkiraan Tanggal Lebaran Versi NU, Muhammadiyah, BRIN, dan BMKG

Kapan Lebaran Idul Fitri 2026? Ini Perkiraan Tanggal Lebaran Versi NU, Muhammadiyah, BRIN, dan BMKG

Menjelang akhir bulan Ramadan, umat Islam di Indonesia mulai menunggu kepastian mengenai kapan Hari Raya Idulfitri 2026 akan dirayakan.

Penentuan tanggal Lebaran menjadi hal yang sangat penting karena berkaitan dengan berbagai persiapan masyarakat, seperti rencana mudik, jadwal libur sekolah, hingga kegiatan berkumpul bersama keluarga.

Di Indonesia, penentuan awal bulan Syawal tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga menjadi perhatian sejumlah organisasi keagamaan serta lembaga ilmiah.

Organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah memiliki metode tersendiri dalam menentukan awal bulan Hijriah.



Sementara itu, lembaga riset seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut memberikan analisis berdasarkan perhitungan astronomi dan pengamatan ilmiah.

Berikut beberapa perkiraan tanggal Idulfitri 2026 yang disampaikan oleh berbagai pihak di Indonesia.

Perkiraan Lebaran 2026 Menurut NU

Nahdlatul Ulama menggunakan metode rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Hijriah. Metode ini dilakukan dengan mengamati secara langsung kemunculan hilal atau bulan sabit setelah matahari terbenam pada akhir bulan Ramadan.



Berdasarkan data yang dirilis oleh Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, pada tanggal 29 Ramadan 1447 H yang bertepatan dengan 19 Maret 2026, posisi hilal sebenarnya sudah berada di atas ufuk.

Namun ketinggiannya dinilai masih belum memenuhi standar imkanur rukyah yang digunakan sebagai acuan penetapan awal bulan.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa posisi hilal tertinggi berada di Kota Sabang, Aceh dengan ketinggian sekitar 2 derajat 53 menit serta elongasi sekitar 6 derajat 09 menit.

Sementara posisi hilal terendah tercatat di wilayah Merauke, Papua Selatan dengan ketinggian sekitar 0 derajat 49 menit.

Karena posisi tersebut belum memenuhi kriteria pengamatan yang ditetapkan, maka kemungkinan besar bulan Ramadan akan disempurnakan menjadi 30 hari atau dikenal dengan istilah istikmal. Dengan kondisi tersebut, Idulfitri diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.



Jadwal Lebaran 2026 Menurut Muhammadiyah

Berbeda dengan NU, organisasi Islam Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan tanggal Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Keputusan ini tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 yang diterbitkan pada 22 September 2025 di Yogyakarta.

Dalam maklumat tersebut disebutkan bahwa 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026. Penentuan ini menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal yang menjadi pedoman Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Metode hisab tersebut mengandalkan perhitungan astronomi untuk menentukan posisi hilal tanpa menunggu proses pengamatan langsung di lapangan.

Selain itu, keputusan ini juga mempertimbangkan prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal yang disepakati dalam Musyawarah Nasional Tarjih Muhammadiyah di Pekalongan pada tahun 2024.



Prediksi dari BRIN

Peneliti dari Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, juga memberikan analisis terkait kemungkinan tanggal Idulfitri 2026.

Berdasarkan perhitungan astronomi, ia memperkirakan Hari Raya Idulfitri 1447 H kemungkinan besar jatuh pada 21 Maret 2026.

Menurut hasil analisis tersebut, posisi hilal pada waktu Magrib tanggal 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara diprediksi belum memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh MABIMS, yaitu kerja sama Menteri Agama dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Sejak tahun 2021, kriteria MABIMS menetapkan bahwa awal bulan Hijriah dapat ditentukan apabila tinggi hilal mencapai minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Karena posisi hilal pada tanggal tersebut diperkirakan belum memenuhi syarat tersebut, maka besar kemungkinan hilal belum dapat terlihat sehingga Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari.



Prediksi BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis analisis terkait posisi hilal untuk menentukan awal bulan Syawal 1447 Hijriah. Berdasarkan laporan BMKG, konjungsi atau pertemuan Matahari dan Bulan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 01.23.23 UT.

Waktu tersebut setara dengan pukul 08.23.23 WIB, 09.23.23 WITA, dan 10.23.23 WIT. Pada saat konjungsi terjadi, posisi Matahari dan Bulan berada pada bujur ekliptika yang sama, yaitu sekitar 358,45 derajat.

BMKG juga mencatat bahwa waktu matahari terbenam paling awal di Indonesia terjadi di wilayah Waris, Papua pada pukul 17.48 WIT, sedangkan yang paling akhir terjadi di Banda Aceh pada pukul 18.49 WIB.



Ketinggian hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada tanggal tersebut berada pada kisaran 0,91 derajat di Merauke hingga sekitar 3,13 derajat di Sabang. Sementara elongasi geosentris berada di kisaran 4,54 derajat hingga sekitar 6,1 derajat.

Berdasarkan data tersebut, peluang terlihatnya hilal dinilai masih kecil karena belum sepenuhnya memenuhi kriteria imkanur rukyah. Oleh sebab itu, BMKG memperkirakan bahwa Ramadan kemungkinan besar akan disempurnakan menjadi 30 hari sehingga Idulfitri diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.



Kesimpulan

Perkiraan tanggal Hari Raya Idulfitri 2026 telah dianalisis oleh berbagai pihak, baik dari organisasi keagamaan maupun lembaga ilmiah. Muhammadiyah menetapkan tanggal Lebaran melalui metode hisab atau perhitungan astronomi, sedangkan Nahdlatul Ulama menggunakan metode rukyatul hilal melalui pengamatan langsung bulan sabit.

Di sisi lain, BRIN dan BMKG juga memberikan analisis ilmiah berdasarkan perhitungan posisi hilal serta kondisi astronomi. Meskipun berbagai prediksi telah disampaikan, penetapan resmi tanggal Idulfitri di Indonesia tetap menunggu keputusan pemerintah melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan