Niat menjadi salah satu rukun utama dalam ibadah puasa Ramadhan. Tanpa adanya niat, puasa seseorang tidak dianggap sah menurut ketentuan fikih.
Dalam mazhab Syafi’i, niat puasa Ramadhan wajib dilakukan pada malam hari, yaitu sejak terbenam matahari (waktu Maghrib) hingga sebelum terbit fajar shadiq atau masuk waktu Subuh.
Ketentuan ini merujuk pada sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis seperti Ahmad ibn Hanbal, Abu Dawud, An-Nasai, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah:
“Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari, maka tidak ada puasa baginya.”
Ulama Nusantara, Nawawi al-Bantani dalam kitab Kâsyifatus Sajâ, menjelaskan bahwa niat puasa wajib, termasuk puasa Ramadhan, harus diperbarui setiap malam.
Hal ini karena setiap hari dalam bulan Ramadhan dihitung sebagai satu ibadah tersendiri. Jika seseorang tidak berniat di malam hari, maka puasa yang dijalankan pada siang harinya dinilai tidak sah.
Jika Lupa Niat Puasa Ramadhan, Bolehkah Membatalkan Puasa?
Pertanyaan yang sering muncul adalah: apabila seseorang lupa berniat pada malam hari, apakah ia boleh membatalkan puasanya karena sudah dianggap tidak sah?
Dilansir dari Lampung NU, secara hukum fikih orang tersebut tetap wajib menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa hingga waktu Maghrib.
Artinya, meskipun puasanya dinilai tidak sah, ia tetap tidak diperkenankan berbuka secara bebas seperti orang yang memang tidak berpuasa.
Namun demikian, ia tetap berkewajiban mengganti (qadha) puasa tersebut setelah bulan Ramadhan berakhir.
Penjelasan ini juga ditegaskan kembali oleh Nawawi al-Bantani dalam Kâsyifatus Sajâ.
Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa kelalaian dalam berniat dapat menyebabkan seseorang tetap berpuasa seharian, tetapi tetap harus mengulang puasanya di luar bulan Ramadhan.
Padahal, keutamaan puasa di bulan suci tentu jauh lebih besar dibandingkan puasa di bulan lainnya.
Solusi Mazhab Syafi’i bagi yang Lupa Niat
Dalam mazhab Syafi’i sebenarnya terdapat solusi bagi orang yang benar-benar lupa berniat pada malam hari.
Dalam kitab Al-Majmû’ Syarhul Muhadzdzab, Imam Nawawi menjelaskan bahwa orang yang lupa dianjurkan tetap berniat pada pagi hari sebagai bentuk kehati-hatian (ihtiyath).
Pendapat ini merujuk pada pandangan Abu Hanifah yang membolehkan niat puasa dilakukan pada pagi hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Dengan demikian, seseorang yang lupa dapat berniat di pagi hari dengan tujuan mengikuti (taqlid) pendapat Imam Abu Hanifah.
Pentingnya Niat Taqlid dalam Kondisi Lupa
Mayoritas Muslim Indonesia mengikuti mazhab Syafi’i yang mewajibkan niat puasa dilakukan pada malam hari.
Oleh karena itu, jika seseorang berniat pada pagi hari, ia harus menyertakan niat tersebut sebagai bentuk taqlid kepada Imam Abu Hanifah.
Penegasan ini juga disampaikan oleh Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Al-Fatâwâ Al-Fiqhiyyah Al-Kubrâ.
Ia menjelaskan bahwa jika niat pagi hari tidak disertai taqlid, maka hal itu dapat dianggap mencampurkan ibadah yang diyakini tidak sah dalam keyakinan mazhabnya sendiri.
Perlu dipahami, solusi niat di pagi hari ini hanya berlaku bagi orang yang benar-benar lupa, bukan bagi mereka yang sengaja meninggalkan niat pada malam hari.
Kesimpulan
Niat puasa Ramadhan wajib dilakukan pada malam hari sebagai syarat sah puasa menurut mazhab Syafi’i.
Jika seseorang lupa berniat, ia tetap harus menahan diri hingga Maghrib, tetapi puasanya wajib diganti (qadha) setelah Ramadhan.
Sebagai solusi, orang yang lupa diperbolehkan berniat di pagi hari dengan tujuan taqlid kepada Imam Abu Hanifah.
Namun, keringanan ini hanya berlaku bagi yang lupa, bukan bagi yang sengaja meninggalkan niat.
Karena itu, setiap Muslim perlu lebih memperhatikan niat sebelum menjalankan puasa agar ibadahnya sah dan tidak perlu mengulangnya di kemudian hari.
Sumber: https://lampung.nu.or.id/

Komentar