Ramadan membawa berkah bagi para pedagang takjil di Kota Medan, termasuk penjual bika bakar di Bika Bakar Amak Nurmalis yang berlokasi di Jalan Amaliun. Kue tradisional khas Medan ini menjadi salah satu buruan warga untuk menu berbuka puasa.
Bika bakar sendiri dikenal sebagai jajanan tradisional berbahan dasar tepung beras, gula, dan kelapa yang dimasak dengan cara dibakar menggunakan cetakan khusus. Proses pembuatannya yang masih mempertahankan metode tradisional membuat cita rasanya tetap autentik dan berbeda dari kue modern lainnya.
Di sejumlah pemberitaan kuliner lokal, bika bakar di kawasan Amaliun memang kerap disebut sebagai salah satu takjil favorit warga Medan saat Ramadan karena teksturnya yang lembut dengan aroma bakaran yang khas.
Salah satu penjual di Bika Bakar, putra, mengaku penjualan selama Ramadan mengalami peningkatan signifikan.
“Alhamdulillah, rame,” ujarnya singkat kepada wartawan, Senin (23/02/2026).
Dalam sehari, produksi bika bakar bisa mencapai ratusan biji untuk memenuhi permintaan pembeli yang datang silih berganti menjelang waktu berbuka.
“Sehari ya. 500-600 biji lah,” katanya.
Jumlah tersebut, menurutnya, hampir selalu habis terjual setiap harinya.
“Alhamdulillah habis,” tambahnya.
Untuk bahan baku, Putra menjelaskan bahwa resep yang digunakan tetap sederhana dan tidak banyak berubah.
“Bahannya? Ya tepung beras, gula, kelapa, digabung semua itu,” jelasnya.
Meski zaman terus berkembang, proses pembuatan bika bakar di tempat ini masih mempertahankan cara lama.
“Masih tradisional,” ujarnya saat ditanya soal metode memasak.
Ia juga mengaku hampir tidak pernah mengalami kendala berarti dalam proses produksi selama Ramadan.
“Ya kayaknya nggak ada, jarang ya,” katanya.
Di akhir perbincangan, Putra berharap usahanya terus berjalan lancar, terutama di bulan penuh berkah ini.
“Ya mudah-mudahan lancar teruslah dagangnya,” pungkasnya.

Komentar