Berita
Beranda / Berita / Sejarah Masjid Raya Aceh Sepakat Medan: Dari Musala hingga Ikon Religi Kota Medan

Sejarah Masjid Raya Aceh Sepakat Medan: Dari Musala hingga Ikon Religi Kota Medan

Masjid Raya Aceh Sepakat dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan keagamaan masyarakat Aceh di Kota Medan.

Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga aktif dalam kegiatan sosial seperti buka puasa bersama dan penyajian kuliner khas Aceh saat Ramadan, yang membuatnya ramai dikunjungi jamaah dari berbagai daerah. Namun di balik kemegahannya hari ini, masjid ini berawal dari sebuah musala sederhana.

Berdasarkan penuturan mantan najir masjid sekaligus jemaah,Haji Ahmad Fasri,  Masjid Aceh Sepakat dibangun atas prakarsa masyarakat Aceh yang tergabung dalam organisasi Aceh Sepakat. Proses pembangunan dimulai pada tahun 2000.



“Masjid Aceh Sepakat ini dibangun atas prakarsa masyarakat Aceh yang namanya Aceh Sepakat. Dibangun mulai tahun 2000. Waktu itu sebagai ketua Bapak Mustafa Sulaiman, ketua pembangunannya. Dan didukung oleh donatur-donatur orang Aceh serta ada juga orang yang di luar etnis Aceh juga menyumbang,” ujar Haji Ahmad Fasri.

Sebelum berdiri sebagai masjid, lokasi tersebut merupakan musala yang telah digunakan masyarakat sekitar untuk beribadah. Fasri menjelaskan bahwa keberadaan musala itu sudah ada sebelum tahun 2000.

“Musala itu sebelum tahun 2000, Mushola ya, dulu musala hanya kayak sebagai tepas, tepas saja,”katanya

Perjalanan dari musala menjadi masjid tidaklah singkat. Tanah tempat berdirinya masjid dibebaskan dan dibeli oleh masyarakat Aceh dari pemerintah kota. Setelah itu, pembangunan dilakukan secara bertahap hingga berdiri masjid yang representatif seperti sekarang.



“Iya lah, ini tanah ini kan kita bebaskan kita beli waktu itu sama Pemko. Oh sama Pemko, beli tanah ini sama masyarakat Aceh. Bangun ini, bangun masjid dan ini apa namanya gedung pertemuan. Balairaya namanya ini. Dan ini disewakan setiap Sabtu-Minggu atau pokoknya setiap hari disewakan kepada masyarakat dengan biaya nanti keuntungannya untuk membiayai apa, masjid. Untuk kemakmuran masjid,” jelasnya.

Gedung pertemuan atau balairaya tersebut dibangun berdampingan langsung dengan masjid sebagai bagian dari konsep kemandirian pembiayaan.

“Lengket dia malah,” ujar Fasri saat menjelaskan posisi gedung dengan masjid yang berdampingan.

Dari sisi arsitektur, ornamen masjid kerap dianggap memiliki nuansa khas yang menyerupai gaya Timur Tengah. Namun menurut Fasri, pemilihan ornamen tidak secara khusus mengambil inspirasi tertentu.

“Oh, ornamen itu memang nggak ada inspirasi. Itu kita apa namanya ya, kita cari orang yang biasa membuat ornamen untuk masjid. Kebetulan di masjid kita ini ya ornamennya ya seperti inilah yang kita suka yang kita pilih,” tuturnya.



Kini, Masjid Aceh Sepakat bukan hanya menjadi simbol kebersamaan masyarakat Aceh di perantauan, tetapi juga menjadi ruang ibadah dan aktivitas sosial yang terbuka bagi masyarakat luas di Kota Medan. Sejarahnya mencerminkan semangat gotong royong, kemandirian, serta komitmen menjaga fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat salat, tetapi juga pusat kegiatan umat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan