Selama Ramadan 2026, sebagian masyarakat di Indonesia merasakan bahwa waktu berbuka puasa terasa semakin cepat menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Hal ini dapat dilihat dari perubahan jadwal imsak dan maghrib yang mengalami pergeseran secara bertahap sepanjang bulan Ramadan.
Berdasarkan jadwal imsakiyah wilayah Jakarta, waktu berbuka puasa memang mengalami perubahan beberapa menit dari awal hingga akhir Ramadan 1447 Hijriah.
Informasi mengenai fenomena ini juga dilaporkan oleh media nasional yang dilansir dari laman megapolitan.kompas.com
Pada awal Ramadan, tepatnya 1 Ramadan 1447 H yang bertepatan dengan Kamis, 19 Februari 2026, waktu imsak di Jakarta tercatat pukul 04.31 WIB, sementara waktu berbuka puasa berada pada pukul 18.18 WIB.
Memasuki pertengahan Ramadan, yakni pada 15 Ramadan 1447 H atau Kamis, 5 Maret 2026, waktu imsak berubah menjadi pukul 04.33 WIB dan waktu berbuka puasa menjadi pukul 18.13 WIB.
Sementara itu, menjelang akhir bulan Ramadan, tepatnya pada 29 Ramadan atau Kamis, 19 Maret 2026, waktu imsak tercatat pukul 04.32 WIB dan waktu berbuka puasa menjadi pukul 18.07 WIB.
Dari perubahan tersebut terlihat bahwa waktu maghrib atau berbuka puasa maju sekitar 11 menit dibandingkan dengan awal Ramadan.
Penyebab Waktu Buka Puasa Berubah
Perubahan waktu berbuka puasa ini berkaitan dengan fenomena astronomi yang terjadi pada Bumi.
Planet Bumi tidak berputar dengan posisi tegak saat mengelilingi Matahari, melainkan memiliki kemiringan sumbu sekitar 23,5 derajat terhadap bidang orbitnya.
Kemiringan tersebut menyebabkan panjang siang dan malam di berbagai wilayah Bumi berubah sepanjang tahun.
Dalam periode tertentu, belahan Bumi utara akan lebih condong ke arah Matahari, sedangkan pada periode lain belahan Bumi selatan yang lebih condong.
Pada bulan Maret 2026, posisi Matahari secara semu sedang bergerak dari belahan selatan menuju garis khatulistiwa.
Pergerakan ini akan mencapai momen penting yang dikenal sebagai ekuinoks Maret sekitar tanggal 20 hingga 21 Maret.
Perubahan posisi Matahari ini memengaruhi sudut datang sinar Matahari ke wilayah Indonesia.
Dampaknya, matahari terbit sedikit lebih awal dan terbenam lebih cepat dibandingkan beberapa minggu sebelumnya.
Ketika Matahari lebih cepat mencapai horizon barat, waktu maghrib pun ikut maju beberapa menit setiap harinya.
Inilah yang menyebabkan durasi siang hari sedikit berubah sehingga waktu berbuka puasa selama Ramadan 2026 terasa semakin cepat.
Perkiraan Idul Fitri 2026 Menurut Data Astronomi
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 berdasarkan perhitungan astronomi posisi hilal menjelang akhir Ramadan.
Perkiraan tersebut didasarkan pada peta ketinggian hilal yang dirilis untuk memantau kemungkinan terlihatnya bulan sabit muda sebagai penanda masuknya bulan Syawal.
Dalam data tersebut dijelaskan bahwa posisi hilal pada 29 Ramadan 1447 Hijriah atau 19 Maret 2026 diperkirakan belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang digunakan oleh negara anggota MABIMS.
Kriteria MABIMS menetapkan bahwa awal bulan Hijriah dapat ditentukan apabila ketinggian hilal mencapai minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat saat matahari terbenam.
Namun berdasarkan perhitungan, ketinggian hilal pada tanggal tersebut diperkirakan berada di kisaran 1,25 hingga 2,75 derajat dengan elongasi sekitar 5 hingga 6 derajat.
Jika kondisi ini terjadi, maka bulan Ramadan kemungkinan akan disempurnakan menjadi 30 hari sehingga 1 Syawal diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.
Penetapan Idul Fitri Menunggu Sidang Isbat
Meskipun terdapat berbagai perkiraan astronomi, penetapan resmi awal bulan Syawal tetap menunggu keputusan pemerintah melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menyampaikan bahwa sidang isbat untuk menentukan 1 Syawal 1447 Hijriah dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 Hijriah.
Sidang tersebut akan dimulai pada pukul 16.00 WIB dan dilaksanakan di Auditorium H.M. Rasjidi yang berada di Kantor Kementerian Agama di Jakarta.
Kesimpulan
Perubahan waktu berbuka puasa yang terasa semakin cepat menjelang akhir Ramadan 2026 merupakan fenomena alam yang berkaitan dengan pergerakan Bumi dan posisi Matahari.
Kemiringan sumbu Bumi serta perubahan sudut datang sinar Matahari menyebabkan matahari terbenam sedikit lebih awal di wilayah Indonesia.
Selain itu, berbagai lembaga astronomi seperti BMKG juga telah melakukan perhitungan terkait kemungkinan penentuan awal Syawal 1447 Hijriah.
Namun, penetapan resmi Hari Raya Idul Fitri tetap akan ditentukan melalui sidang isbat yang dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama.
Sumber: https://megapolitan.kompas.com/

Komentar