Khutbah Jumat 24 April 2026 mengangkat tema memahami hakikat rezeki yang tidak hanya terbatas pada harta semata.
Dalam Islam, rezeki memiliki makna yang lebih luas, mencakup berbagai nikmat seperti kesehatan, keluarga yang saleh, serta ilmu yang bermanfaat.
Bahkan, rezeki yang paling utama adalah ketika seorang hamba memperoleh ridha Allah dalam setiap langkah kehidupannya.
Khutbah Pertama: Pentingnya Takwa dan Rasa Syukur
Khutbah diawali dengan pujian kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian dilanjutkan dengan ajakan untuk meningkatkan ketakwaan.
Takwa menjadi kunci utama dalam menjalani kehidupan yang penuh keberkahan. Dengan bertakwa, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan serta rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Rasa syukur juga menjadi hal penting yang harus senantiasa ditanamkan dalam diri setiap Muslim sebagai bentuk pengakuan atas nikmat Allah.
Tingkatan Rezeki dalam Pandangan Ulama
Dalam khutbah ini dijelaskan bahwa rezeki memiliki beberapa tingkatan, sebagaimana disampaikan oleh Muhammad Mutawalli al-Sha’rawi.
Beliau menjelaskan bahwa rezeki tidak hanya berupa materi, tetapi memiliki tingkatan yang lebih tinggi dan bermakna.
1. Harta sebagai Tingkatan Rezeki Terendah
Harta merupakan kebutuhan dasar manusia untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Namun, harta adalah tingkatan rezeki yang paling rendah karena dapat dimiliki oleh siapa saja, baik orang beriman maupun tidak.
Oleh sebab itu, harta seharusnya dijadikan sebagai sarana untuk berbuat kebaikan, bukan sebagai tujuan utama hidup.
2. Kesehatan sebagai Nikmat yang Sangat Berharga
Kesehatan merupakan rezeki yang sangat penting karena menjadi penunjang dalam menjalankan aktivitas dan ibadah.
Sering kali manusia lalai terhadap nikmat sehat, padahal tanpa kesehatan, berbagai kenikmatan dunia tidak dapat dinikmati dengan baik.
Karena itu, menjaga kesehatan termasuk bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
3. Anak Saleh dan Ilmu yang Bermanfaat
Rezeki berikutnya adalah anak yang saleh serta ilmu yang bermanfaat.
Anak saleh menjadi penyejuk hati sekaligus penolong bagi orang tua di akhirat.
Sementara itu, ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pahalanya, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.
Keduanya termasuk rezeki yang sangat berharga dalam kehidupan seorang Muslim.
4. Ridha Allah sebagai Puncak Rezeki
Tingkatan rezeki yang paling tinggi adalah mendapatkan ridha Allah SWT.
Ketika Allah meridhai seorang hamba, maka kehidupannya akan dipenuhi ketenangan, keberkahan, dan kemudahan dalam menghadapi berbagai ujian.
Ridha Allah menjadi tujuan utama yang harus dikejar dalam setiap aspek kehidupan.
Rezeki Telah Dijamin, Ikhtiar Tetap Diperintahkan
Dalam khutbah ini juga dijelaskan bahwa setiap makhluk telah dijamin rezekinya oleh Allah SWT.
Namun demikian, manusia tetap diperintahkan untuk berusaha dan bekerja keras dalam mencarinya.
Dengan memahami hal ini, seorang Muslim tidak perlu merasa cemas berlebihan terhadap rezeki, tetapi tetap berikhtiar dengan cara yang halal dan penuh tawakal.
Khutbah Kedua: Ajakan Bertakwa dan Memperbanyak Shalawat
Pada khutbah kedua, jamaah kembali diingatkan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Selain itu, umat Islam juga diperintahkan untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk ketaatan dan kecintaan.
Khutbah ditutup dengan doa untuk keselamatan umat, dijauhkan dari berbagai musibah, serta diberikan kebaikan di dunia dan akhirat. Dilansir dari laman radarsolo.jawapos.com
Kesimpulan
Khutbah Jumat 24 April 2026 ini memberikan pemahaman bahwa rezeki tidak hanya berbentuk harta, tetapi mencakup kesehatan, keluarga yang saleh, ilmu yang bermanfaat, hingga ridha Allah SWT.
Harta hanyalah bagian kecil dari rezeki, sedangkan tujuan utama seorang Muslim adalah meraih keberkahan dan ridha Allah.
Dengan memahami hakikat rezeki, diharapkan setiap Muslim mampu menjalani kehidupan dengan lebih bijak, penuh syukur, serta menjadikan Allah sebagai tujuan utama dalam setiap langkah kehidupan.
Sumber : https://radarsolo.jawapos.com/nasional/

Komentar