Di tengah upaya menjaga stabilitas dan efisiensi pasar modal, perhatian terhadap struktur kepemilikan saham emiten menjadi salah satu fokus utama regulator.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mendorong perusahaan tercatat yang masuk dalam kategori High Shareholder Concentration (HSC) untuk memperbaiki struktur kepemilikan sahamnya.
Langkah ini dinilai penting agar likuiditas perdagangan saham tetap terjaga di pasar.
BEI Dorong Distribusi Saham Lebih Merata
Pelaksana tugas Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyampaikan bahwa emiten dalam daftar HSC diharapkan dapat mendistribusikan sahamnya secara lebih luas kepada publik.
Dengan kepemilikan yang lebih tersebar, potensi konsentrasi dapat dikurangi sehingga saham menjadi lebih likuid.
Ia juga menegaskan bahwa BEI membuka peluang evaluasi secara berkala terkait keterbukaan informasi bagi emiten yang masuk dalam kategori tersebut. Dilansir dari laman cnbcindonesia.com
Peluang Keluar dari Daftar HSC
BEI memastikan bahwa status HSC tidak bersifat permanen.
Jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa struktur kepemilikan saham sudah lebih merata dan tidak lagi terkonsentrasi, maka perusahaan berpeluang untuk keluar dari daftar tersebut.
Dengan demikian, emiten yang mampu memenuhi kriteria distribusi saham yang sehat akan mendapatkan perubahan status secara resmi dari BEI.
HSC Tidak Bergantung pada Afiliasi
Jeffrey menjelaskan bahwa penetapan status HSC tidak berkaitan dengan hubungan afiliasi antar pemegang saham.
Kriteria ini murni didasarkan pada tingkat konsentrasi kepemilikan saham.
Sebagai contoh, beberapa investor dengan kepemilikan kecil secara individu tetap dapat menyebabkan konsentrasi jika digabungkan dengan kepemilikan pendiri atau pihak tertentu lainnya.
Data Terbaru: 9 Emiten dengan Kepemilikan Tinggi
Berdasarkan data per 31 Maret 2026, terdapat sembilan emiten yang memiliki kepemilikan tunggal di atas 95%. Kondisi ini menunjukkan tingkat konsentrasi yang sangat tinggi dalam struktur kepemilikan saham mereka.
Pergerakan Harga Saham Cenderung Fluktuatif
Dari sisi perdagangan, tujuh dari sembilan saham dalam daftar HSC mengalami tekanan jual.
Beberapa di antaranya bahkan mencatatkan penurunan harga yang cukup tajam.
Sementara itu, hanya dua saham yang menunjukkan penguatan.
Fluktuasi harga yang tinggi ini erat kaitannya dengan rendahnya porsi saham yang beredar di publik (free float).
Risiko Likuiditas dan Pergerakan Harga
Konsentrasi kepemilikan yang tinggi menyebabkan likuiditas di pasar sekunder menjadi terbatas.
Dengan sebagian besar saham dikuasai oleh pemegang tertentu, mekanisme permintaan dan penawaran tidak berjalan optimal.
Akibatnya, transaksi dengan volume relatif kecil pun dapat memicu pergerakan harga yang signifikan.
Kondisi ini menjadi risiko yang perlu diperhatikan oleh para investor.
Kesimpulan
Status saham dalam daftar HSC mencerminkan tingginya konsentrasi kepemilikan yang berdampak pada likuiditas dan stabilitas harga.
BEI mendorong emiten untuk mendistribusikan saham secara lebih merata agar dapat keluar dari daftar tersebut.
Dengan struktur kepemilikan yang sehat, pasar diharapkan menjadi lebih efisien dan menarik bagi investor.
Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/








