Tekanan jual yang terus meningkat di pasar saham domestik dipicu oleh sentimen global negatif, terutama terkait pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kelanjutan konflik dengan Iran.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis (2/4/2026) di zona merah dengan penurunan cukup dalam.
IHSG terkoreksi 157,66 poin atau turun 2,19% ke level 7.027,64. Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak di kisaran 7.019,23 hingga 7.161,8, dan sejak pagi terus berada di area negatif.
Mayoritas Saham Terkoreksi
Tekanan jual terlihat mendominasi pasar dengan 558 saham melemah, 184 saham menguat, dan 216 saham stagnan.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp12,3 triliun dengan volume 23,43 miliar saham dalam 1,75 juta kali transaksi. Sementara itu, kapitalisasi pasar turun menjadi Rp12.305 triliun.
Sentimen Global Jadi Pemicu Utama
Pelemahan IHSG dipicu oleh sentimen global, khususnya setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait konflik dengan Iran.
Ia menegaskan bahwa operasi militer bertajuk “Epic Fury” akan terus berlanjut hingga seluruh target tercapai.
Trump juga mengungkapkan kemungkinan serangan besar dalam beberapa pekan ke depan yang dapat memperburuk ketegangan geopolitik.
Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran investor global dan memicu aksi jual di pasar saham. Informasi ini dilansir dari laman cnbcindonesia.com
Harga Minyak Dunia Melonjak
Ketegangan geopolitik turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak Brent mencapai US$105,61 per barel atau naik lebih dari 4%.
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga menguat sekitar 3,95% ke level US$97,44 per barel.
Kenaikan ini semakin memperkuat tekanan terhadap pasar keuangan global.
Bursa Asia Ikut Terseret
Pelemahan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga melanda bursa Asia.
Indeks Kospi Korea Selatan anjlok hingga 4,47%, Nikkei Jepang turun 2,38%, Hang Seng Hong Kong melemah 0,7%, dan ASX200 Australia terkoreksi 1,06%. Kondisi ini mencerminkan sentimen risk-off yang meluas di pasar global.
Kesimpulan
Penurunan IHSG hingga lebih dari 2% menunjukkan kuatnya tekanan dari faktor eksternal, terutama konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Lonjakan harga minyak serta pelemahan bursa global turut memperparah kondisi pasar.
Dalam situasi seperti ini, investor cenderung lebih berhati-hati dan memilih menunggu perkembangan selanjutnya sebelum mengambil keputusan investasi.
Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/

Komentar