Pasar saham Indonesia kembali tertekan pada perdagangan Kamis (2/4/2026). IHSG tercatat berbalik arah dan turun 1,25% ke level 7.094,53 pada penutupan sesi pertama, setelah sebelumnya diprediksi melanjutkan penguatan (rebound).
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia cukup ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp7 triliun. Volume saham yang diperdagangkan melampaui 15 miliar lembar.
Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 216 emiten mencatat kenaikan, sementara 427 saham mengalami penurunan, dan 160 saham bergerak stagnan.
Sentimen Geopolitik Tekan Pasar
Tekanan terhadap pasar saham dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Analis dari Phintraco Sekuritas menyebut kondisi ini dipicu oleh pernyataan terbaru Donald Trump yang mengindikasikan rencana serangan lebih besar ke Iran dalam 2–3 pekan ke depan.
Dari analisis teknikal, IHSG diketahui telah menembus level support psikologis di 7.100. Kondisi ini diperkuat oleh penyempitan histogram positif pada indikator MACD yang menunjukkan potensi pelemahan lanjutan.
Phintraco memperkirakan pergerakan IHSG pada sesi kedua akan berada di kisaran 7.050 hingga 7.125.
Bursa Asia Ikut Tertekan
Tekanan tidak hanya terjadi di dalam negeri. Sejumlah indeks saham di kawasan Asia, khususnya negara berkembang, juga mengalami penurunan. Indeks KOSPI tercatat anjlok paling dalam hingga 4,47%, disusul NIFTY yang turun 1,83%.
Dolar AS Menguat, Rupiah Melemah
Dari pasar valuta asing, nilai tukar dolar AS kembali menunjukkan penguatan terhadap rupiah. Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot berada di posisi Rp17.023 per dolar AS pada pukul 13.40 WIB, atau melemah 0,24%.
Sebelumnya, rupiah sempat menguat ke level Rp16.983 per dolar AS pada perdagangan Rabu (1/4/2026).
Pelemahan mata uang juga terjadi di kawasan Asia, di antaranya peso Filipina yang turun 0,50%, baht Thailand melemah 0,41%, serta won Korea Selatan yang terkoreksi 0,35%.
Kesimpulan
Pelemahan IHSG pada hari ini dipengaruhi kombinasi sentimen global dan teknikal, terutama meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini turut mendorong penguatan dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah.
Investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan geopolitik global serta pergerakan pasar regional yang dapat memengaruhi arah IHSG dalam jangka pendek.
Sumber : www.idnfinancials.com

Komentar