Hari Raya Idul Fitri merupakan salah satu hari besar yang paling dinanti oleh umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan.
Momen ini menjadi waktu yang istimewa untuk merayakan kemenangan, mempererat tali silaturahmi, serta saling memaafkan setelah menjalani ibadah dengan penuh kesabaran.
Menjelang akhir Ramadan, banyak masyarakat mulai mencari informasi mengenai kapan tepatnya Idul Fitri akan dirayakan. Hal ini penting karena berkaitan dengan berbagai persiapan seperti perjalanan mudik, pembelian kebutuhan Lebaran, hingga rencana berkumpul bersama keluarga.
Di Indonesia, penentuan tanggal Idul Fitri biasanya melibatkan beberapa metode yang digunakan oleh pemerintah dan organisasi Islam.
Perbedaan metode tersebut terkadang menghasilkan tanggal yang berbeda, meskipun dalam banyak kasus perayaannya dapat berlangsung pada hari yang sama.
Untuk tahun 2026 atau 1447 Hijriah, perkiraan tanggal Idul Fitri sudah dapat diprediksi melalui kalender Hijriah dan perhitungan astronomi. Meski demikian, kepastian tanggalnya tetap menunggu pengumuman resmi dari pihak terkait.
Lebaran Menurut Muhammadiyah
Pertanyaan terkait dengan “Kapan lebaran idul fitri 2026” merupakan pertanyaan yang sering kali ditanyakan di google. Dikutip dari laman DetikHikmah, organisasi Islam Muhammadiyah juga telah lebih dahulu memperkirakan waktu pelaksanaan Lebaran 2026.
Hal tersebut tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 yang membahas penetapan hasil hisab untuk bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah. Dalam maklumat tersebut dijelaskan bahwa Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada 20 Maret 2026.
Penetapan ini didasarkan pada metode hisab, yaitu perhitungan astronomi yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
Perhitungan tersebut menggunakan prinsip dan parameter yang terdapat dalam sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang menjadi pedoman dalam menentukan awal bulan Hijriah secara ilmiah.
Dalam hasil perhitungan tersebut dijelaskan bahwa ijtima atau konjungsi bulan menjelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis, 30 Ramadan 1447 H, yang bertepatan dengan 19 Maret 2026 pukul 01:23:28 UTC. Ijtima merupakan peristiwa ketika matahari, bulan, dan bumi berada pada satu garis lurus yang menjadi penanda pergantian fase bulan dalam kalender Hijriah.
Pada saat matahari terbenam di hari tersebut, sebelum pukul 24:00 UTC terdapat beberapa wilayah di bumi yang telah memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu kriteria yang digunakan untuk menentukan awal bulan baru dalam sistem kalender Hijriah global.
Karena parameter tersebut telah terpenuhi, Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H atau Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini berlaku secara global sesuai dengan konsep kalender Hijriah yang digunakan oleh Muhammadiyah.
Lebaran Menurut NU
Berbeda dengan Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab, Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan awal bulan Hijriah melalui metode rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung terhadap munculnya hilal atau bulan sabit muda setelah matahari terbenam pada tanggal 29 Ramadan.
Proses pengamatan ini biasanya dilakukan di sejumlah titik pemantauan yang telah ditentukan di berbagai wilayah Indonesia. Jika hilal berhasil terlihat pada saat pengamatan tersebut, maka keesokan harinya langsung ditetapkan sebagai 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri.
Namun apabila hilal tidak terlihat, maka bulan Ramadan akan disempurnakan menjadi 30 hari sebelum memasuki bulan Syawal.
Karena bergantung pada hasil pemantauan hilal secara langsung di lapangan, kepastian tanggal Lebaran versi NU biasanya baru diumumkan mendekati akhir bulan Ramadan. Meski demikian, berdasarkan perhitungan astronomi awal, Idul Fitri 2026 diperkirakan berpotensi jatuh pada 20 atau 21 Maret 2026, tergantung pada hasil pengamatan hilal saat itu.
Lebaran Menurut Pemerintah
Sampai saat ini pemerintah masih belum menetapkan secara resmi tanggal perayaan Idul Fitri 2026 atau 1 Syawal 1447 Hijriah. Penentuan tersebut biasanya diumumkan setelah pemerintah menggelar sidang isbat yang dilaksanakan menjelang berakhirnya bulan Ramadan.
Sidang isbat untuk menentukan awal bulan Syawal diperkirakan akan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026, yang bertepatan dengan tanggal 29 Ramadan 1447 H.
Dalam forum tersebut, pemerintah akan menelaah berbagai data, mulai dari hasil pemantauan hilal di sejumlah titik pengamatan hingga perhitungan astronomi yang disampaikan oleh para ahli dan lembaga terkait sebelum menetapkan tanggal resmi Idul Fitri.
Walaupun keputusan final belum diumumkan, masyarakat dapat melihat gambaran awal melalui Kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama RI. Berdasarkan kalender tersebut, Hari Raya Idul Fitri 2026 diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, meskipun tanggal ini masih bersifat perkiraan dan dapat berubah sesuai hasil sidang isbat.
Kesimpulan
Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran tahun 2026 diperkirakan jatuh pada 19 Maret 2026 berdasarkan perhitungan kalender Hijriah. Namun, kepastian tanggal tersebut tetap menunggu pengumuman resmi dari pemerintah melalui sidang isbat.
Muhammadiyah telah menetapkan tanggal Lebaran melalui metode hisab, sementara Nahdlatul Ulama menunggu hasil rukyatul hilal pada akhir Ramadan. Pemerintah sendiri menggunakan kombinasi kedua metode tersebut untuk menentukan awal bulan Syawal secara resmi.
Walaupun terdapat perbedaan metode dalam penentuan tanggalnya, semangat Idul Fitri tetap sama, yaitu merayakan kemenangan setelah menjalani ibadah puasa serta mempererat hubungan dengan keluarga dan sesama.









