Di Indonesia, istilah ngabuburit sudah sangat populer dan identik dengan suasana bulan Ramadhan.
Ngabuburit merujuk pada berbagai aktivitas yang dilakukan untuk mengisi waktu sambil menunggu datangnya waktu berbuka puasa.
Kegiatan ngabuburit biasanya berupa berburu takjil, berjalan-jalan sore, berkumpul bersama keluarga atau teman, hingga mengikuti pengajian dan tadarus di masjid.
Tradisi ini dilakukan oleh hampir semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Namun, tidak semua orang mengetahui bahwa istilah ngabuburit sebenarnya berasal dari budaya Sunda.
Lalu, bagaimana asal-usul tradisi ini? simak penjelasan selengkapnya di Artikel ini.
Sejarah dan Arti Kata Ngabuburit
Dilansir dari laman kompas.com, menurut sastrawan Sunda sekaligus pendiri Rumah Baca Buku Sunda (RBSS), Mamat Sasmita, kata ngabuburit berasal dari bahasa Sunda.
Istilah ini berakar dari kata dasar “burit” yang berarti waktu menjelang maghrib atau sore hari.
Kata “burit” kemudian mendapat imbuhan “nga” dan “bu”, sehingga menjadi kata kerja “ngabuburit”.
Secara sederhana, ngabuburit berarti melakukan aktivitas untuk menunggu waktu maghrib, khususnya saat bulan puasa.
Selain itu, istilah ngabuburit juga dikaitkan dengan ungkapan Sunda “ngalantung ngadagoan burit”, yang bermakna bersantai sambil menunggu sore hari tiba.
Dalam Kamus Bahasa Sunda Danadibrata, ngabuburit diartikan sebagai kegiatan menghabiskan waktu menjelang maghrib, biasanya dengan berjalan-jalan atau melakukan aktivitas ringan.
Tradisi Ngabuburit di Kalangan Masyarakat Sunda
Tradisi ngabuburit telah ada sejak lama dalam kehidupan masyarakat Sunda.
Kegiatan ini sudah dilakukan secara turun-temurun, bahkan sejak sekitar tahun 1960-an.
Pada masa lalu, orang Sunda umumnya mengisi waktu menunggu berbuka dengan berjalan-jalan santai di sekitar lingkungan rumah.
Aktivitas tersebut bertujuan untuk mengalihkan rasa lapar dan dahaga selama menjalani ibadah puasa.
Para orang tua sering mengajak anak-anak mereka ngabuburit agar waktu terasa lebih cepat berlalu hingga tiba waktu berbuka puasa.
Seiring perkembangan zaman, bentuk kegiatan ngabuburit semakin beragam.
Kini, ngabuburit tidak hanya diisi dengan jalan-jalan, tetapi juga dengan kegiatan yang lebih bernilai ibadah, seperti membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian agama, atau berbagi makanan berbuka.
Meski kegiatannya berkembang, esensi ngabuburit tetap sama, yaitu aktivitas khas yang hanya dilakukan pada bulan Ramadhan.
Ngabuburit Kini Menjadi Istilah Nasional
Awalnya, istilah ngabuburit hanya dikenal di wilayah Sunda.
Namun, seiring waktu, kata ini semakin populer dan akhirnya digunakan secara luas di seluruh Indonesia.
Banyak pihak menilai bahwa dalam bahasa Indonesia tidak ada kata lain yang benar-benar mampu mewakili makna “menunggu waktu maghrib sambil melakukan aktivitas”.
Karena itulah, istilah ngabuburit tetap dipakai hingga kini.
Perkembangan media massa seperti radio, televisi, dan terutama internet sejak awal tahun 2000-an turut berperan besar dalam mempopulerkan istilah ngabuburit secara nasional.
Saat ini, kata ngabuburit sudah menjadi bagian dari kosakata sehari-hari masyarakat Indonesia ketika menyambut bulan suci Ramadhan.
Kesimpulan
Ngabuburit adalah tradisi khas yang berasal dari budaya Sunda dan telah menjadi bagian penting dari suasana Ramadhan di Indonesia.
Istilah ini bermakna kegiatan mengisi waktu sambil menunggu datangnya waktu berbuka puasa.
Awalnya, ngabuburit identik dengan aktivitas sederhana seperti berjalan-jalan sore.
Namun, seiring perkembangan zaman, bentuk kegiatannya semakin beragam, mulai dari berburu takjil hingga kegiatan keagamaan.
Pada Ramadhan 1447 H sebentar lagi akan kita masuki, tradisi ngabuburit tetap relevan sebagai momen kebersamaan, hiburan positif, sekaligus sarana meningkatkan ibadah.
Ngabuburit bukan sekadar kebiasaan menunggu waktu berbuka, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya Islam Nusantara yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Sumber : kompas.com










