Tanda-tanda alam munculnya Lailatul Qadar menurut hadits Nabi selalu menjadi topik yang banyak dicari umat Islam setiap memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan.
Malam yang penuh kemuliaan ini diyakini sebagai waktu turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW serta menjadi malam yang sarat ampunan, rahmat, dan keberkahan.
Pada malam Lailatul Qadar, doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan diyakini lebih mudah dikabulkan. Karena itu, banyak umat Islam berupaya mengetahui ciri-ciri atau tanda datangnya malam istimewa tersebut.
Penjelasan Ulama tentang Tanda Lailatul Qadar
Dilansir dari laman mui.or.id, Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat, KH. Abdul Muiz Ali, menjelaskan bahwa terdapat beberapa tanda yang dapat menjadi petunjuk datangnya Lailatul Qadar. Menurutnya, malam tersebut biasanya berlangsung dalam suasana yang tenang.
Salah satu tanda yang disebutkan adalah kondisi cuaca yang tidak ekstrem. Malam itu tidak turun hujan, tidak terasa panas, dan tidak pula terlalu dingin. Suasananya terasa damai dan menenangkan sehingga mendukung kekhusyukan dalam beribadah.
Selain itu, Lailatul Qadar diyakini terjadi pada salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, yakni malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29. Penentuan malam ganjil ini disesuaikan dengan awal puasa Ramadan di masing-masing daerah.
Hadits tentang Tanda Lailatul Qadar
Penjelasan mengenai tanda-tanda Lailatul Qadar juga merujuk pada sejumlah hadits shahih. Salah satunya adalah hadits riwayat Ubay bin Ka’ab yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim:
“Malam itu adalah malam kedua puluh tujuh (dari bulan Ramadan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Muslim no. 762)
Hadits ini menjelaskan bahwa salah satu tanda Lailatul Qadar terlihat pada pagi harinya, yaitu matahari terbit dengan cahaya putih lembut dan tidak menyilaukan.
Hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi dan Al-Baihaqi menyebutkan:
“Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas dan tidak begitu dingin. Pada pagi harinya matahari terbit dalam keadaan lemah dan tampak kemerah-merahan.”
Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa suasana malam Lailatul Qadar terasa sejuk dan nyaman. Keesokan paginya, matahari tampak redup atau kemerah-merahan, tidak memancarkan sinar yang terik.
Jangan Terpaku pada Tanda, Fokus pada Ibadah
Meski terdapat beberapa tanda Lailatul Qadar menurut hadits, para ulama mengingatkan agar umat Islam tidak hanya sibuk mencari ciri-cirinya. Yang lebih utama adalah menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah.
Memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan melakukan amal kebaikan jauh lebih penting daripada sekadar menanti tanda-tanda alamnya. Tujuan utama meraih Lailatul Qadar adalah meningkatkan ketakwaan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kesimpulan
Tanda-tanda alam munculnya Lailatul Qadar menurut hadits Nabi antara lain malam yang tenang, tidak panas dan tidak dingin, serta matahari terbit dengan cahaya putih atau kemerah-merahan tanpa sinar menyilaukan.
Namun demikian, yang terpenting bagi umat Islam adalah memaksimalkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan, karena kemuliaan Lailatul Qadar diraih melalui kesungguhan dalam beribadah, bukan sekadar mengenali tandanya.
Sumber : https://mui.or.id








