• Redaksi
Sabtu, Maret 28, 2026
Info Medanaktual
No Result
View All Result
  • Redaksi
  • Redaksi
No Result
View All Result
Informasi Terkini
No Result
View All Result

Sejarah Muktamar Muhammadiyah

Fai Demplon by Fai Demplon
6 November 2022
in Berita
0
Sejarah Muktamar Muhammadiyah

Sejarah Muktamar Muhammadiyah dapat dipandang sebagai tonggak yang menandai derap maju Persyarikatan di dalam sejarah.

Mengutip Suara Muhammadiyah Edisi XII/2021, istilah muktamar mulai termaktub dalam AD Muhammadiyah sejak kira-kira 76 tahun silam. Penggunaan terminologi itu mengacu pada Putusan Perundingan Silaturahim Muhammadiyah di Yogyakarta tanggal 24-26 November 1946.

Adapun penamaan muktamar sebagai forum tertinggi di lingkungan Persyarikatan diawali pada 1950. Sebelum itu, nama yang biasanya dipakai adalah kongres. Lebih jauh lagi, pada masa-masa awal yakni periode 1912-1921, organisasi masyarakat (ormas) Islam itu sempat memakai istilah algemene vergadering (rapat umum) atau jaarvergadering (pertemuan tahunan).

 

Muhammadiyah didirikan KH Ahmad Dahlan pada 8 Dzulhijjah 1330 H/18 November 1912 M di Kauman, Yogyakarta. Kiai yang berjulukan Sang Pencerah itu memimpin gerakan dakwah tersebut hingga tahun 1922. Selama masa kepemimpinannya, //algemene vergadering// atau //jaarvergadering// selalu digelar di wilayah Kesultanan Ngayogyakarta.

Dalam Rapat Umum ke-11, muncul kesepakatan untuk tidak lagi menggunakan istilah berbahasa Belanda, melainkan bahasa Indonesia, yakni perkumpulan tahunan. Hasil penting lainnya dari pertemuan puncak Muhammadiyah itu adalah naiknya KH Ibrahim menjadi ketua umum.

Secara nasab, hafiz Alquran tersebut adalah putra KH Fadlil Rachmaningrat, penghulu hakim Kesultanan. Masa baktinya berlangsung hingga tahun 1934.

Dalam periode Kiai Ibrahim, tepatnya sejak 1924, Muhammadiyah mengubah nomenklatur perkumpulan tahunan menjadi kongres. Istilah itu diserap dari kata bahasa Inggris, congress. Pada 1936, Persyarikatan menggelar Congress Seperempat Abad di Jakarta.

Muhammadiyah bahkan pernah memakai istilah Congress Dharurot untuk pertemuan tertinggi yang diselenggarakan secara terbatas pada 1944 dan 1946. Sebab, ketika itu terjadi peperangan dan revolusi fisik bangsa Indonesia dalam melawan penjajah.

Memasuki 1950, nama muktamar mulai digunakan Persyarikatan. Momen itu bertepatan dengan pertemuan tertinggi ke-31. Muktamar ke-31 tersebut dilaksanakan di Yogyakarta.

Mengenai lokasi acara, penyelenggaraan muktamar Muhammadiyah sejak ormas Islam ini berdiri hingga 1925 mengambil tempat di Yogyakarta. Setelah itu, Persyarikatan mulai menggelar muktamar di berbagai daerah luar Yogyakarta.

Mengenai lokasi acara, penyelenggaraan muktamar Muhammadiyah sejak ormas Islam ini berdiri hingga 1925 mengambil tempat di Yogyakarta.

Bagaimanapun, untuk memudahkan jangkauan para peserta muktamar selalu dihelat di kawasan perkotaan. Beberapa kota di Tanah Jawa yang pernah menjadi tuan rumah adalah Jakarta, Bandung, Purwokerto, Surakarta (Solo), Semarang, Pekalongan, Malang, dan Surabaya.




Di luar Jawa, kota-kota yang tercatat menjadi lokasi acara adalah Medan, Padang, Bukittinggi, Palembang, Banjarmasin, dan Makassar. Dari semua kota tersebut, yang paling sering menjadi tuan rumah muktamar Muhamamdiyah adalah Yogyakarta, yakni sebanyak 24 kali.

Sejak didirikan Kiai Ahmad Dahlan hingga saat ini, Muhammadiyah telah menggelar forum pemuncak—baik itu bernama rapat, kongres, maupun muktamar —sebanyak 47 kali. Antara tahun 1912 dan 1941, permusyawaratan tertinggi Persyarikatan diadakan tiap setahun sekali. Perubahan jeda-waktu forum tertinggi mulai terjadi seiring dengan keadaan Tanah Air yang memasuki revolusi kemerdekaan.

Pada 1941-1950, muktamar Muhammadiyah diselenggarakan secara terbatas. Dalam periode tersebut, penyelenggaraan hanya dilakukan dua kali. Kemudian, antara 1950 dan 1958, muktamar pernah dilakukan sekali dalam tiga tahun.

Pergeseran periodik kembali terjadi antara 1971 dan 1985 karena adanya instabilitas nasional. Sejak 1985, Muhammadiyah menjadwalkan penyelenggaraan muktamar, yakni sekali dalam jangka waktu lima tahun. Periode lima tahunan ini berlangsung hingga sekarang.

Penyematan sebutan yang terbilang istimewa dilakukan dalam beberapa muktamar. Misalnya, Muktamar (Congress) Seperempat Abad pada 1936; Muktamar Setengah Abad pada 1962; dan Muktamar Satu Abad pada 2010. Perhelatan pada tahun 1962 tersebut dinamakan pula Muktamar Anugerah karena ketika itu Muhammadiyah tidak jadi dibubarkan oleh rezim penguasa.

Dalam sejarahnya, Persyarikatan Muhammadiyah telah menggelar sebanyak 47 muktamar. Dari proses yang ada, tercatat sebanyak 15 tokoh yang pernah menjadi ketua umum gerakan Islam tersebut.

Beberapa tertunda

Menurut jadwal semula, Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dilaksanakan pada 1-5 Juli 2020. Namun, wabah virus korona menyerang berbagai negara, termasuk Indonesia. Karena itu, PP Muhammadiyah memutuskan untuk memundurkan jadwal pelaksanaan.

Sempat diundur ke tanggal 24-27 Desember 2020, Persyarikatan memutuskan menundanya lantaran situasi masih belum memungkinkan. Akhirnya, ditetapkanlah bahwa forum tertinggi itu diselenggarakan pada 19-20 November 2022 di UMS, Jawa Tengah.

Sejatinya, penundaan demi penundaan itu dimaklumi oleh seluruh kader Muhammadiyah. Sebab, pandemi Covid-19, terlebih pada momen puncak penularan, “memaksa” orang-orang untuk membatasi pertemuan yang berpotensi mengumpulkan massa.

Kalaupun memerlukan antisipasi, mekanisme yang berlaku di Persyarikatan memungkinkan adanya muktamar luar biasa (MLB). Merujuk pada AD Muhammadiyah Pasal 23, MLB adalah “muktamar darurat disebabkan oleh keadaan yang membahayakan Muhammadiyah dan atau kekosongan kepemimpinan, sedang tanwir tidak berwenang memutuskannya”. Bagaimanapun, alhamdulillah, tidak ada krisis atau hal-hal yang mengancam keselamatan gerakan Islam ini sehingga MLB tidak perlu menjadi opsi.

Dalam sejarahnya, Persyarikatan sebenarnya sudah beberapa kali terpaksa menunda pelaksanaan muktamar.

Dalam sejarahnya, Persyarikatan sebenarnya sudah beberapa kali terpaksa menunda pelaksanaan muktamar. Beberapa keadaan memaksa PP Muhammadiyah untuk melakukan penundaan demi kemaslahatan seluruh unsur gerakan dakwah ini.




Dalam artikelnya di Suara Muhammadiyah, Muhammad Yuanda Zara menjelaskan, Muktamar (Congress) ke-30 Muhammadiyah di Purwokerto pada 1941 sempat gagal dilaksanakan. Sebab, ketika itu penguasa Hindia Belanda (Indonesia) menetapkan bahwa negara dalam keadaan bahaya alias staat van oorlog en beleg (SOB). Padahal, panitia Congress ke-30 Muhammadiyah telah mempersiapkan logo, tempat acara, undangan, dan berbagai hal lainnya.

Ancaman yang dirasakan otoritas Hindia Belanda terutama datang dari ekspansi Jepang dalam kancah Perang Dunia II di palagan Asia Pasifik. Pemerintah kolonial Belanda juga mewaspadai dampak invasi pasukan Nazi Jerman atas anah air mereka sejak Mei 1940.

Sekira tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1944, Muhammadiyah mengadakan muktamar darurat. Ini merupakan imbas dari situasi yang tidak kondusif sejak masuknya pendudukan Jepang di Indonesia. Karena bersifat darurat, jumlah peserta forum itu terbilang sedikit, tidak seramai biasanya.

Penundaan lainnya atas gelaran muktamar terjadi pada 1981. Sebab, ketika itu muncul situasi politik yang cukup panas di kalangan umat Islam. Rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto mengusung kebijakan Asas Tunggal Pancasila. Beleid penguasa itu mewujud dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1985. Isinya mengharuskan setiap organisasi di Tanah Air untuk menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas.

Fikrul Hanif Sufyan dalam Sang Penjaga Tauhid (2014) menjelaskan, wacana Asas Tunggal sesungguhnya bergulir sejak kejadian bentrok fisik antara massa pendukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Golongan Karya (Golkar) di Lapangan Banteng, Jakarta. Orba yang didukung Golkar menganggap partai yang berhaluan kanan (agama) itu patut diwaspadai.

Maka, dirancanglah tafsiran bahwa Pancasila—artinya, bukan agama— mesti dijadikan asas satu-satunya dalam berorganisasi. Dalih Orba, Asas Tunggal diterapkan demi melindungi Pancasila dari rongrongan ekstrem kiri maupun kanan. Melalui itu pula, diyakini bahwa konflik ideologi dapat hilang sehingga pembangunan nasional tidak akan terganggu.

Persyarikatan sejak 1980-an merespons Asas Tunggal dengan hati-hati. Bahkan, beberapa pengamat memandang, PP Muhammadiyah sempat “terbelah” dalam menyikapinya. Ada yang ingin organisasi tersebut mengambil sikap akomodatif. Namun, ada pula yang ingin Muhammadiyah bisa mengelak atau bahkan melawan hegemoni Orba.




Maka muktamar ke-41 yang sedianya digelar pada 1981 menjadi dilaksanakan tahun 1985 di Surakarta. PP yang saat itu dipimpin KH AR Fachruddin akhirnya menemukan penyelesaian.

Muhammadiyah mencantumkan asas Pancasila. Namun, dalam pasal tentang identitas di anggaran dasar disebutkan, Muhammadiyah adalah organisasi Islam dan berakidah Islam. Maksud dan tujuan gerakan ini adalah menegakkan dan menjunjung tinggi Islam sehingga terwujud Masyarakat Utama yang diridhai Allah SWT.

Sosok yang akrab disapa Pak AR itu mengibaratkan, berasas Pancasila semisal aturan yang mengharuskan pemakaian helm bagi pengendara sepeda motor di jalan umum. Muhammadiyah pun menggunakan “helm” Pancasila sebagai bagian dari ketaatan terhadap regulasi tanpa harus kehilangan identitas dan kepribadian Islam.

Dikutip dari Republika
https://www.republika.id/posts/34044/muktamar-muhammadiyah-dalam-sejarah

Muktamar Muhammadiyah Dalam Sejarah
Setiap muktamar merepresentasikan tonggak sejarah Muhammadiyah.

OLEH MUHYIDDIN

 

Tags: sejarah muktamar muhammadiyah
Next Post
5 Negara Dengan Inflasi Tinggi Pada Oktober 2022

5 Negara Dengan Inflasi Tinggi Pada Oktober 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

Perkiraan Tanggal Lebaran 2026 Versi NU, Muhammadiyah, dan Pemerintah

Perkiraan Tanggal Lebaran 2026 Versi NU, Muhammadiyah, dan Pemerintah

12 Maret 2026
Sidang Isbat Idul Fitri 2026 Digelar 19 Maret, Kemenag Tetapkan 1 Syawal 1447 H

Sidang Isbat Idul Fitri 2026 Digelar 19 Maret, Kemenag Tetapkan 1 Syawal 1447 H

5 Maret 2026
Niat Zakat Fitrah untuk Keluarga: Suami, Istri, Anak Laki-laki dan Perempuan

Niat Zakat Fitrah untuk Keluarga: Suami, Istri, Anak Laki-laki dan Perempuan

9 Maret 2026
Kemenag Umumkan 1 Syawal 1447 H Usai Sidang Isbat 19 Maret 2026

Kemenag Umumkan 1 Syawal 1447 H Usai Sidang Isbat 19 Maret 2026

15 Maret 2026
Ceramah Ramadhan Singkat Lengkap Judul dan Dalil, Mudah Dihafal

Ceramah Ramadhan Singkat Lengkap Judul dan Dalil, Mudah Dihafal

5 Maret 2026

EDITOR'S PICK

Kapan Malam Takbiran 2026? Simak Jadwal Lengkap dan Tradisi di Indonesia

Kapan Malam Takbiran 2026? Simak Jadwal Lengkap dan Tradisi di Indonesia

20 Maret 2026
Panduan Lengkap Cara Membayar Zakat Fitrah, Waktu dan Ketentuannya

Panduan Lengkap Cara Membayar Zakat Fitrah, Waktu dan Ketentuannya

10 Maret 2026

Tips Sukses Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Tahun 2023

15 September 2023
Dibuka Bersamaan, Mana yang Harus Didahulukan: Daftar KIP Kuliah atau SNBT 2026?

Dibuka Bersamaan, Mana yang Harus Didahulukan: Daftar KIP Kuliah atau SNBT 2026?

28 Maret 2026

About

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Check our landing page for details.

Follow us

Kategori

  • Artikel
  • Bansos
  • Berita
  • BPJS Kesehatan
  • BPJS Ketenagakerjaan
  • CPNS
  • Dana Kaget
  • Ekonomi
  • Informasi
  • Kesehatan
  • KIP Kuliah
  • KUR BRI
  • KUR Mandiri
  • Pendidikan
  • Penerimaan
  • PPPK
  • Tak Berkategori
  • TPG

Recent Posts

  • Cara Membuat SKCK Online Lewat HP: Panduan Lengkap dan Mudah
  • Kabar Baik! Pendaftaran Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) 2026 Dibuka, Ada Program Double Degree hingga Jalur Akselerasi
  • 5 Objek Wisata Populer di Berastagi untuk Liburan Seru
  • Rekrutmen Bintara Polri 2026 Dibuka hingga 30 Maret, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Faidemplon.

No Result
View All Result
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Faidemplon.