Artikel
Beranda / Artikel / Mandi Pangir Jadi Simbol Kebersihan dan Kebahagiaan Sambut Ramadan

Mandi Pangir Jadi Simbol Kebersihan dan Kebahagiaan Sambut Ramadan

Tradisi mandi pangir yang dilakukan masyarakat Sumatera Utara menjelang Ramadan tidak hanya dipahami sebagai kebiasaan adat, tetapi juga memiliki relevansi dengan nilai-nilai dalam ajaran Islam.

Sejumlah kajian akademik menyebutkan bahwa praktik ini dapat dilihat dari perspektif hadis, khususnya yang berkaitan dengan kebersihan, penggunaan wewangian, kesehatan, serta kegembiraan dalam menyambut bulan suci.

Dalam penelitian yang dimuat di Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisiplin Vol 9 No 3 Maret 2025, dijelaskan bahwa mandi pangir merupakan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun dan masih dilakukan sebagian masyarakat, khususnya etnis Jawa di Sumatera Utara.



Ramuan pangir sendiri terdiri dari bahan-bahan alami seperti daun pandan, jeruk purut, daun jeruk, bunga kenanga, dan akar wangi yang direbus hingga menghasilkan aroma khas. Selain memberi kesegaran, bahan-bahan tersebut juga dipercaya memiliki manfaat kesehatan bagi tubuh.

Secara teologis, penelitian tersebut menyimpulkan bahwa tradisi mandi pangir tidak bertentangan dengan ajaran Islam selama dilakukan sesuai syariat, seperti menjaga batas antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.

Hadis-hadis tentang pentingnya kebersihan dan penggunaan wewangian sebelum beribadah menjadi landasan bahwa praktik ini diperbolehkan.



Tradisi ini juga dimaknai sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin sebelum memasuki Ramadan. Masyarakat meyakini bahwa menyambut bulan suci harus dilakukan dengan kebersihan fisik dan ketenangan jiwa agar ibadah dapat dijalankan secara maksimal.

Dengan demikian, mandi pangir bukan sekadar tradisi budaya, melainkan juga cerminan akulturasi antara nilai adat dan ajaran agama yang telah berlangsung lama di tengah masyarakat Sumatera Utara.

Tradisi ini menjadi contoh bagaimana budaya lokal dapat tetap hidup tanpa meninggalkan prinsip-prinsip keislaman.

Kalau ingin, saya juga bisa tambahkan angle sosial-budaya (soal identitas etnis Jawa di Sumut) atau angle generasi muda dan tantangan pelestarian tradisi di era modern agar artikelnya lebih variatif dan kuat secara feature.



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan