Harga perak murni produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam tercatat mengalami kenaikan signifikan pada Senin, 9 Februari 2026. Kenaikan harga ini menjadi perhatian masyarakat terutama pelaku pasar logam mulia setelah pergerakan perak yang cukup fluktuatif dalam beberapa hari terakhir.
Mengacu pada situs resmi Logam Mulia, harga perak Antam hari ini naik Rp750 menjadi Rp50.250 per gram. Sebelumnya, pada Sabtu 7 Februari 2026, harga perak sempat menguat Rp4.000 ke posisi Rp49.500 per gram. Adapun pada Jumat Tanggal 6 Februari 2026, harga perak Antam sempat anjlok tajam sebesar Rp11.000 ke level Rp45.500 per gram.
Daftar Harga Perak Antam Hari Ini
Dilansir dari Investor.id, adapun daftra harga perak Antam hari ini, untuk perak murni Antam dengan berat 250 gram, harga dasar hari ini ditetapkan sebesar Rp12.962.500. Sementara harga jual termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 11% berada di harga Rp14.388.375.
Sementara itu, perak murni Antam 500 gram dibanderol dengan harga dasar Rp25.125.000, dan harga setelah dikenakan PPN 11% mencapai Rp27.888.750.
Pada kategori produk Perak Antam Heritage, ukuran 31,1 gram dipasarkan dengan harga Rp2.110.583, atau sekitar Rp2.342.747 setelah PPN 11%.
Sedangkan Perak Antam Heritage 186,6 gram dijual seharga Rp11.541.946, dengan harga termasuk pajak berada di kisaran Rp12.811.560.
Harga Perak Dunia Ikut Menguat
Tak hanya di dalam negeri, harga perak dunia juga mencatatkan penguatan tajam. Perdagangan terakhir menunjukkan harga perak global ditutup melonjak 9,43% ke level US$78,01 per troy ons.
Senior Market Analyst XS.com, Rania Gule, menilai tingginya volatilitas harga emas dan perak mencerminkan meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global.
Kondisi ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi resesi, perubahan arah kebijakan moneter, serta meningkatnya risiko geopolitik yang membuat investor mencari aset lindung nilai.
Kesimpulan
Harga perak Antam (ANTM) pada Senin, 9 Februari 2026, tercatat melonjak ke level Rp50.250 per gram seiring penguatan harga perak dunia.
Kenaikan ini dipengaruhi tingginya volatilitas pasar akibat kekhawatiran inflasi, potensi resesi, serta meningkatnya risiko geopolitik global.
Sumber : Investor.id










