Istilah Epstein Files mengacu pada kumpulan besar dokumen pengadilan dan arsip penyelidikan yang merekam kejahatan seksual Jeffrey Epstein beserta lingkaran sosial, finansial, dan politik di sekitarnya.
Sejak Epstein ditemukan meninggal dunia di sel tahanan federal pada Agustus 2019, arsip ini menjadi sorotan nasional di Amerika Serikat karena mengungkap kembali dugaan eksploitasi seksual sistematis serta perlakuan istimewa terhadap figur-figur elite.
Akar perkara Epstein Files bermula dari laporan awal mengenai dugaan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang dilakukan Epstein, seorang pemodal dengan jejaring luas di kalangan elite Amerika dan internasional.
Kasus ini pertama kali mencuat pada awal 2000-an di Palm Beach, Florida, ketika sejumlah remaja perempuan diketahui kerap mendatangi kediaman Epstein dengan imbalan uang.
Pada Maret 2005, Kepolisian Palm Beach mulai menyelidiki laporan bahwa seorang anak berusia 14 tahun dibayar Epstein untuk melakukan pijat tanpa busana.
Penyelidikan berkembang melalui kesaksian puluhan siswi sekolah menengah di sekitar kediaman Epstein. Meski demikian, proses hukum berjalan lamban.
Pada Juli 2006, grand jury Florida hanya menetapkan satu dakwaan terkait permintaan jasa prostitusi. Perkara tersebut berakhir dengan kesepakatan hukum pada 30 Juni 2008.
Epstein mengaku bersalah atas dua dakwaan tingkat negara bagian dan dijatuhi hukuman 18 bulan penjara dengan skema work release, yang memungkinkannya bekerja di luar penjara pada siang hari.
Kesepakatan tersebut juga mencakup perjanjian non-penuntutan di tingkat federal dan dibuat tanpa pemberitahuan kepada para korban.
Setelah bebas pada Juli 2009, Epstein menghadapi berbagai gugatan perdata dari para penyintas. Salah satu yang paling menonjol diajukan oleh Virginia Giuffre, yang pada 2015 menggugat Ghislaine Maxwell—rekan dekat Epstein—atas tuduhan pencemaran nama baik.
Gugatan ini menghasilkan ribuan halaman dokumen pengadilan yang berisi kesaksian korban, karyawan rumah tangga, sopir, dan staf Epstein. Dokumen-dokumen tersebut selama bertahun-tahun berada di bawah segel pengadilan.
Perhatian publik kembali memuncak setelah The Miami Herald pada November 2018 menerbitkan laporan investigatif yang mengungkap kegagalan aparat penegak hukum dalam menangani kasus Epstein.
Liputan tersebut mendorong penyelidikan ulang oleh otoritas federal. Pada 6 Juli 2019, Epstein ditangkap di New York dan didakwa atas perdagangan seks anak serta konspirasi, dengan jaksa menyebut sebagian korban berusia 14 tahun.
Proses pidana itu terhenti pada 10 Agustus 2019 ketika Epstein ditemukan meninggal dunia di sel tahanan federal Manhattan. Pihak berwenang menyatakan kematiannya sebagai bunuh diri.
Peristiwa tersebut menghentikan proses pengadilan pidana, tetapi justru memicu tuntutan publik agar arsip dan dokumen kasus dibuka secara luas.
Sejak 2020, fokus penyelidikan beralih pada peran para pembantu Epstein dan pembukaan arsip perkara. Ghislaine Maxwell diadili dan pada 29 Desember 2021 dinyatakan bersalah atas perdagangan seks anak.
Ia dijatuhi hukuman 20 tahun penjara pada 2022. Sementara itu, pengadilan mulai membuka sebagian dokumen dari gugatan Giuffre-Maxwell.
Pada 3 Januari 2024, lebih dari 900 halaman dokumen dirilis ke publik, disusul sekitar 130 dokumen tambahan pada 5–6 Januari 2024.
Arsip tersebut memuat kesaksian saksi, catatan komunikasi, serta potongan jejaring sosial Epstein dengan tokoh-tokoh berpengaruh.
Isu Epstein Files kemudian berkembang menjadi polemik politik nasional, terutama karena pembukaan dokumen berlangsung pada masa pemerintahan Donald Trump periode kedua.
Trump diketahui memiliki hubungan sosial dengan Epstein pada 1990-an hingga awal 2000-an. Pada Juni 2024, Trump menyatakan akan membuka Epstein Files.
Namun, pada 7 Juli 2025, Departemen Kehakiman AS merilis memo yang menyebut tidak ditemukan “daftar klien” Epstein dan menyatakan tidak diperlukan pengungkapan lanjutan.
Pernyataan tersebut memicu kritik luas dari anggota Kongres lintas partai dan kelompok penyintas. Tekanan politik akhirnya melahirkan Epstein Files Transparency Act yang disahkan pada 18–19 November 2025.
Pada 19 Desember 2025, Departemen Kehakiman merilis ratusan ribu halaman dokumen Epstein dengan sensor signifikan. Rilis lanjutan dilakukan pada 23 Desember 2025 dan 30 Januari 2026, mencakup jutaan halaman dokumen, video, dan gambar.
Meski demikian, sejumlah legislator dan korban menilai pembukaan arsip tersebut masih jauh dari prinsip transparansi penuh.
Kesimpulan
Kasus Epstein Files menggambarkan kegagalan sistemik dalam penegakan hukum terhadap kejahatan seksual yang melibatkan pelaku dengan kekuasaan dan jejaring elite. Meski Jeffrey Epstein telah meninggal dunia dan sejumlah dokumen resmi dibuka ke publik, proses pengungkapan kebenaran dinilai belum sepenuhnya transparan.
Pembukaan arsip justru memunculkan kontroversi baru, tekanan politik, serta ketidakpuasan para penyintas dan anggota parlemen. Hingga kini, Epstein Files tetap menjadi simbol tuntutan keadilan bagi korban sekaligus ujian bagi komitmen pemerintah Amerika Serikat terhadap akuntabilitas dan transparansi hukum.










