PSMS Medan dikenal luas dengan julukan Ayam Kinantan, sebuah sebutan yang bukan sekadar simbol, tetapi memiliki cerita historis yang kuat.
Sebelum identik dengan nama tersebut, klub kebanggaan Kota Medan ini pernah dijuluki “The Killer”, karena reputasinya yang sangat disegani, terutama saat menghadapi tim-tim tamu dari luar negeri.
Pada masa itu, sejumlah klub internasional yang datang bertanding di Medan harus mengakui keunggulan PSMS. Bahkan tim besar seperti Ajax Amsterdam pernah merasakan kekalahan.
Dominasi tersebut membuat PSMS dikenal sebagai tim yang sulit dikalahkan, sehingga julukan “The Killer” melekat erat dalam sejarah mereka.
Julukan Ayam Kinantan sendiri muncul setelah keberhasilan PSMS menjuarai Piala Perserikatan pada tahun 1985.
Seorang pendukung dari Jakarta bernama Kinantan menghadiahkan seekor ayam kepada tim sebagai bentuk apresiasi atas prestasi tersebut. Ayam itu kemudian dibawa ke Medan dan menjadi simbol baru yang akhirnya diadopsi sebagai identitas klub hingga sekarang.
Perjalanan Panjang Klub Legendaris
Dikutip dari jurnal Sejarah dan Eksistensi PSMS dalam Menginspirasi SMeCK Sebagai Suporternya karya Desman Hia, PSMS Medan dapat dikatakan memiliki sejarah penting bagi kemajuan sepak bola di Indonesia.
Secara resmi, PSMS berdiri pada 21 April 1950. Namun, akar keberadaannya sudah muncul sejak 1930 melalui organisasi bernama Oost Sumatera Voetbal Bond (OSVB), yang berada di bawah naungan Nederland Indische Voetbal Bond.
Setelah masa kolonial berakhir, klub tersebut berganti nama menjadi Persatuan Sepak Bola Medan Sekitarnya, yang kemudian disingkat menjadi PSMS Medan.
Pada periode awal perkembangannya, PSMS menjadi salah satu kekuatan besar di sepak bola nasional. Tim ini mampu mengalahkan berbagai klub dari luar negeri, termasuk tim dari Austria, Hong Kong, Belanda, dan Singapura. Keperkasaan tersebut memperkuat reputasi mereka sebagai tim yang ditakuti, baik di dalam negeri maupun internasional.
Sejumlah pemain legendaris turut menjadi bagian penting dalam perjalanan klub ini, seperti Ramlan Yatim, Ramli Yatim, Buyung Bahrum, Cornelius Sihaan, dan Yusuf Siregar. Kontribusi mereka membawa PSMS meraih berbagai prestasi, mulai dari ajang Pekan Olahraga Nasional, kompetisi nasional Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, hingga tampil di Olimpiade Melbourne.
Namun, perjalanan PSMS tidak selalu mulus. Pada 2018, klub ini harus turun kasta ke Liga 2. Meski demikian, PSMS sempat menunjukkan performa menjanjikan pada musim 2022/23 dengan memimpin klasemen wilayah barat dan mengumpulkan 16 poin. Sayangnya, kompetisi saat itu tidak menerapkan sistem promosi maupun degradasi, sehingga peluang kembali ke kasta tertinggi harus tertunda.
Sebagai salah satu klub bersejarah di Indonesia, PSMS Medan tetap menjadi simbol kebanggaan sepak bola Sumatera Utara. Julukan Ayam Kinantan pun terus hidup sebagai lambang keberanian dan identitas yang melekat kuat pada tim legendaris ini.

Komentar